Rabu, 23 September 2015

Manajemen Pendidikan Islam "Manajemen Humas"



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar  Belakang
Humas adalah praktek mengelola penyebaran informasi antara individu organisasi dan masyarakat. Humas dapat mencakup sebuah organisasi ataui ndividu yang mendapat ekspos khalayak mereka menggunakan topic kepentingan public dan berita yang tidak memerlukan pembayaran langsung. Sebagai sebuah profesi seorang humas bertanggungjawab untuk memberikan informasi, mendidik, meyakinkan, meraih simpati, dam membangkitkan ketertarikan masyarakat akan sesuatu atau membuat mayarakat mengerti dan menerima sebuah situasi
            Dan humas memiliki tujuan dan peran masing-masing. Seperti komunikasi internal seperti memberikan komunikasi sebanyak dan sejelas mungkin mengenai instusi. Dan sebagai eksternal tugasnya ialah menyampaikan informasi yang benar dan wajar mengenai instusi. Mengingat jenis dan karakter sebuah organisasi bermacam macam, maka tujuan dari humas mereka berbeda-beda berfariasi dan tidak terdaftar. Satu hal yang perlu disadari setiap tujuan dari organisasi baik itu komersial maupun non komersial sama-sama memerlukan suatu program tindakan yang terencana.
            Selain humas kita beralih pembicaraan tentang sarana prasarana .dalam pendidikan sarana prasarana sangat penting karena dibutuhkan sarana dan prasarana pendidikan dapat berguna untuk menunjang penyelenggaraan proses belajar mengajar baik secara langsung maupun tidak langsung dalam suatu lembaga dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Sarana dan prasarana pendidikan adalah satu sumber daya yang menjadi tolak ukur mutu sekolah dan perlu peningkatan terus menerus seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang semakincanggih.
            Administrasi sarana dan prasarana pendidikan merupakan hal yang sangat menunjang atas tercapainya suatu tujuan dari pendidikan. Sebagai seorang personal pendidikan kita dituntut untuk menguasai dan memahami administrasi sarana dan prasarana untuk meningkatkan daya kerja yang efektif dan efisien serta mampu menghargai etika kerjasama personal pendidikan sehingga tercipta keserasian kenyamaan yang menimbulakan kebanggaan dan rasa memiliki baik warga sekolah dan masyarakat sekitarnya.

B.     Rumusan Masalah
Dari penjelasan diatas maka ditemukan suatu masalah
1.      Apa yang dimaksud humas serta fungsi dan program humas ?
2.      Dimana peran dan posisi humas ?
3.      Apa yang dimaksud sarana dan prasarana dan apa fungsinya ?

C.     Tujuan penulisan
1.      Untuk mengetahui yang dimaksud humas serta fungsi dan program kerjanya
2.      Untuk mengetahui dimana peran dan posisi humas
3.      Untuk mengetahui yang dimaksud sarana dan prasarana dan untuk mengetahui fungsinya.














BAB II
PEMBAHASAN

A.    Manajemen Hubungan Masyarakat dalam Lembaga Pendidikan Islam
1.      Hakekat Humas dalam Pendidikan Islam
Hubungan masyarakat (public relation) didefinisikan sebagai seni dan ilmu untuk menganalisis kecenderungan, memprediksi konsekuensi-konsekuensi, menasehati para pemimpin organisasi, dan melaksanakan program yang terencana mengenai kegiatan-kegiatan yang melayani, baik kepentingan organisasi maupun kepentingan publik. Definisi tersebut dirumuskan dalam The Statement Of Mexico (Rosadi Ruslan, 1998), dan masih banyak lagi definisi yang disampaikan oleh para ahli tentang public relation ini, yang pada dasarnya mencakup unsur-unsur antara lain :
a.       Suatu proses yang mencakup hubungan timbal balik antara organisasi dan publiknya.
b.      Analisis dan evaluasi melalui penelitian lapangan terhadap sikap, opini, dan kecenderungan sosial, serta mengkomunikasikannya kepada pihak menajemen atau pemimpin.
c.       Konseling menajemen agar dapat dipastikan bahwa kebijaksanaan, tata cara kegiatan dapat dipertanggungjawabkan secara sosial dalam konteks demi kepentingan bersama bagi kedua belah pihak.
d.      Pelaksanaan atau menindaklanjuti program aktivitas yang terencana, mengkomunkasikan dan mengevaluasi.
e.       Perencanaan dengan itikad yang baik, saling pengertian, dan penerimaan dari pihak publiknnya sebagai hasil akhir dari aktivitas publik relation.     
Dilihat dari pengertian dan unsur-unsur diatas maka Humas (Hubungan Masyarakat) mempunyai beberapa fungsi utama, yaitu sebagai berikut :
a)      Memberikan penerangan kepada masyarakat.
b)      Melakukan persuasi untuk mengubah sikap dan perbuatan masyarakat secara langsung.
c)      Berupaya untuk mengintegrasikan sikap dan perbuatan suatu badan/ lembaga sesuai dengan sikap dan perbuatan masyarakat atau sebaliknya.
Pakar Humas Internasional, Cultip, merumuskan fungsi Humas sebagai berikut :
a)      Menunjang aktivitas utama manajemen dalam mencapai tujuan bersama.
b)      Membina hubungan yang harmonis antara badan/organisasi dengan pihak publiknya, sebagai khalayak sasarannya.
c)      Mengidenifikasi opini, persepsi, dan tanggapan masyarakat terhadap badan/organisasi yang diwakilinya atau sebaliknya.
d)     Melayani keinginan publiknya dan memberikan sumbang saran kepada pimpinan manajemen demi tujuan dan manfaat bersama.
e)      Menciptakan komunikasi dua arah timbal balik, dan mengatur arus informasi, publikasi, serta pesan dari badan/organisasi ke publiknya atau terjadi sebaliknya demi tercapainya citra positif bagi kedua belah pihak.
Dari definisi dan fungsi tentang Humas diatas, maka sekolah atau lembaga pendidikan seagai sebuah sistem sosial mutlak memerlukan publik relation dalam rangka membangun hubungan yang dinamis dan sinergis diantara unsur-unsur yang melingkupi sistem tersebut. Sekolah adalah sebuah komunitas yang di dalamnya terdapat berbagai unsur organic yang mempunyai karakteristik yang berbeda-beda; di dalamnya terdapat kepala sekolah, guru-guru, tenaga administrasi, siswa-siswa, orang tua siswa, dan masyarakat yang melingkupi di mana lembaga pendidikan tersebut berada. Masing-masing unsur tersebut tentunya memiliki obsesi yang bermacam-macam dalam proses penyelenggaraan pendidikan, sebab itu, fungsi utama public relation adalah berusaha menyamakan persepsi, visi dan misi, kemana dan bagaimana lembaga pendidikan tersebut diarahkan. Hubungan Lembaga Pendidikan Islam (LPI) dengan lingkungan internal eksternalnya dapat digambarkan sebagai berikut :




         DEWAN LPI
 




Persatuan Orang Tua Siswa
       Asosiasi Profesi
            Dan LSM
 PEMERINTAH
 DAERAH
          LPI                                (Ling. Internal)

Masyarakat Luas
 











Bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah dan masyarakat (lihat UUSPN No.2, 1989), sebab itu diantara ketiganya harus di bangun hubungan yang sinergis dalam pengembangan pendidikan, harus ada kerja sama dan saling pengertian serta mempunyai rasa memiliki (self of belonging) terhadap lembaga pendidikan. Sekolah bukanlah sebuah pabrik atau alat produksi yang dijalankan serba mekanik dan otomatis, tetapi sekolah merupakan tempat dimana manusia-manusia (peseta didik) dilatih, dididik, dan diajari untuk mecapai tingkat kedewasaannya. Sementara peserta didik itu sendiri sangat dipengaruhi oleh emosi, kematangan, bakat, orang tua, lingkungan orang tua, ekonomi, dan pendidikan orang tua, kepemimpinan orang tua dan masih banyak lainnya. Sebab itu peran Humas adalah bagaimana menjadikan potensi-potensi tersebut ikut berperan secara utuh dalam pengembangan pendidikan.
Bagaimana agar kita dapat menciptakan hubungan yang sinergis antara lembaga pendidikan dengan orang tua atau masyarakat ? Dalam hal ini pengelola lembaga pendidikan jangan hanya menganggap orang tua (parents) sebagai customer, tapi posisikan juga ia sebagai manager, dan juga sebagai partner. Dengan demikian posisi orang tua dalam hal ini adalah ikut menentukan pengembangan lembaga pendidikan yang pada akhirnya berpengaruh terhadap perkembangan anaknya. Orang tua harus dilibatkan dalam pembuatan kebijakan dan perencanaan dalam pendidikan, tidak hanya sekedar difungsikan sebagai customer yang hanya menerima dan bersifat pasif. Maka dalam hal ini fungsi humas adalah berusaha menciptakan komunikasi dan mengintegrasikan sikap dan perbuatan kedua belah pihak. Secara internal pihak lembaga harus secara efektif juga menjalankan humas ke dalam (public internal), agar dapat memenuhi harapan-harapan orang tua dan tujuan bersama yang telah dibangun sebagai hasil interaksi atau humas dengan orang tua dan masyarakat (public external).[1]

2.      Pentingnya Program Humas pada Sekolah
Hubungan masyarakat telah diformulasikan dengan cara yang berbeda- beda bergantung pada lembaga atau organisasi yang membuat formulasi itu. Formulasi pentingnya hubungan sekolah dengan masyarakat dalam hal ini ditangani bagian humas pada sekolah. Humas merupakan pengembangan dan pemeliharaan kerjasama yang efisien untuk menyampaikan saluran informasi dua arah. Bertujuan memberikan pemahaman antara pihak sekolah (pimpinan), komunitas sekolah (guru, karyawan, dan siswa) dan masyarakat (orangtua, masyarakat sekitar, dan lembaga lain di luar sekolah).
Pembaruan pendidikan saat ini sedang di giatkan pemerintah sekarang ini sangat menekankan relevansi pendidikan. Sekolah harus dibuat lebih relevan dengan lingkungan siswa dan pengembangan kurikulum harus sesuai dengan keadaan daerah dan wilayah. Tujuannya agar sekolah tidak terisolasi dari masyarakat dan sekolah harus berorientasi kepada kenyataan kehidupan dan masalah masyarakat. Karena itu hubungan antara sekolah dengan masyarakat yang baik harus menjadi perhatian terus menerus dari setiap kepala sekolah dan stafnya. Untuk menjaga keharmonisan hubungan tersebut, keberadaan bagian humas pada suatu lembaga menjadi sangatlah penting.
Tujuan yang hendak dicapai hubungan masyarakat (Humas) pada sekolah adalah sebagai berikut :
a.       Mengembangkan pemahaman kepada masyarakat tentang maksud- maksud dan sasaran dari sekolah.
b.      Memberikan penilaian program kepada masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sekolah.
c.       Menjalin dan meningkatkan hubungan harmonis antara orang tua siswa dengan guru- guru dalam memenuhi kebutuhan anak didik.
d.      Membangun kesan positif dan memelihara kepercayaan terhadap sekolah.
e.       Menginformasikan kepada masyarakat tentang rencana program dan kegiatan sekolah.
f.       Mencari bantuan dan dukungan bagi pemeliharaan dan peningkatan program sekolah.
g.      Sekolah sebagai jasa lembaga pendidikan memberikan pelayanan yang memuaskan kepada pelanggan (siswa, keluarga, dan masyarakat lain).
h.      Supaya kreatifitas mencari dana pendidikan alternative dalam bentuk kerjasama dengan lembaga lain.[2]

3.      Persyaratan Dasar Hubungan Masyarakat di Lembaga Pendidikan Islam
Mengingat fungsi Hubungan Masyarakat yang utama adalah menyelenggarakan hubungan dengan publicnya guna memperoleh public support dan public favour, maka ada beberapa persyaratan yang harus di penuhi oleh para petugas Hubungan Masyarakat. Sekurang-kurangnya ada 4 persyaratan dasar yang harus dipenuhi :
a)      Kemampuan mengamati dan menganalisis persoalan.
b)      Kemampuan menarik perhatian.
c)      Kemampuan mempengaruhi pendapat.
d)     Kemampuan menjalin hubungan dan suasana saling percaya.
Dari keempat persyaratan dasar tersebut, dapat diambil kesimpulan secara sepintas betapa luasnya ruang lingkup tugas Humas itu. Irving Smith Kogan[3] dalam artikelnya Hubungan Masyarakat mengatakan bahwa fungsi pokok hubungan masyarakat antara lain adalah fungsi manajemen sebagai peneliti dan penilai selera dan sikap masyarakat, menyelaraskan organisasi dengan kepentingan umum, serta merumuskan dan melaksanakan suatu program kerja untuk mendapatkan dukungan dan kepercayaan masyarakat.
Pada prinsipnya fungsi Humas merupakan fungsi top manajemen. Oleh karena itu kehadirannya didalam suatu organisasi dan lembaga selayaknya berada langsung dibawah pimpinan utama atau sekurang-kurangnya mempunyai hubungan kerja langsung dengan pimpinan utama atau top manajer. Dengan posisi Humas yang demikan diharapkan ia dapat lebih mudah melaksanakan tugasnya yang menuntut pengetahuan yang menyeluruh mengenai keadaan organisasi atau perusahaan, dan kecepatan menyampaikan berita kepada pimpinan utama sebagai pengemban citra[4] yang menentukan dalam organisasi. Jadi Humas berfungsi sebagai pusat sirkulasi informasi keluar dan kedalam bagi pimpinan perusahaan. Idealnya Humas berfungsi sebagai juru bicara pimpinan perusahaan.
Dengan dipenuhinya empat persyaratan itu, diharapkan tujuan dan fungsi Humas lebih mudah terwujud. Pengetahuan tentang komunikasi, termasuk teknik dan metodenya, sangat penting bagi terpenuhinya keempat persyaratan itu.

4.      Tujuan dan Sasaran Hubungan Masyarakat
Tujuan sentral Humas yang akan dicapai adalah tujuan organisasi, sebab Humas dibentuk atau digiatkan guna menunjang manajemen yang berupaya mencapai tujuan organisasi. Elah disinggung dimuka bahwa organisasi adalah kerangka kegiatan untuk mencapai suatu tujuan tertentu, dan kegiatan itu adalah pengerahan manusia-manusia itu secara terarah yang dinamakan manajemen. Jelasnya, organisasi merupakan “raga”, dan manajemen adalah “jiwanya”. Organisasi tanpa manajemen dapat diibaratkan raga tanpa jiwa, jadi organisasi yang demikian tidak berfungsi atau mati. Sebaliknya, manajemen tanpa organisasi sama dengan jiwa tanpa raga, yang berarti tiada berbentuk, yang berarti pula tiada tujuan yang akan dicapai. Sebab adanya tujuan kalau ada organisasi. Dengan kata lain, suatu organisasi dibentuk karena ada tujuan yang akan dicapai.
Selanjutnya tujuan hubungan antara sekolah dengan masyarakat dapa diuraikan sebagai berikut :
a)      Mengembangkan pembinaan pengertian masyarakat tentang semua aspek/ bidang pelaksanaan program pendidikan di sekolah. Pemahaman program yang dilaksanakan di sekolah sangat penting diketahui masyarakat dengan tujuan, agar mereka termotivasi untuk bisa memberikan bantuan yang maksimal terhadap terlaksananya program-program sekolah tersebut. Bentuan yang dimaksud misalnya : para orang tua tertarik dan termotivasi untuk memasukkan putra-putrinya ke sekolah, memberikan bantuan finansial tanpa diminta pihak sekolah.
b)      Menampung harapan-harapan tentang tujuan pendidikan di sekolah. Program hubungan sekolah dengan masyarakat salah satunya diarahkan untuk menampung harapan-harapan masyarakat tentang tujuan sekolah. Tujuan sekolah perlu diketahui dan disepakati bersama oleh pihak sekolah dan masyarakat melalui pertemuan-pertemuan rutin antara sekolah dengan masyarakat. Hal ini perlu karena lulusan sekolah akan kembali ke masyarakat, maka tujuan harus sesuai dengan harapan masyarakat.
c)      Memperoleh parisipasi, dukungan dan bantuan secara kongkrit dari masyarakat, baik berupa tenaga, sarana maupun dana demi kelancaran tercapainya tujuan pendidikan. Semua program Humas dengan sekolah jika sudah dilaksanakan secara terus menerus dan berhasil sehingga mereka dapat termotivasi untuk bekerja sama, selanjutnya tujuan hubungan sekolah dengan masyarakat ini dapat diwujudkan.
d)     Menumbuhkan dan membngkitkan rasa tanggungjawab yang lebih besar pada masyarakat terhadap kelangsungan program pendidikan di sekolah secara tepat dan hemat.
e)      Mengikutsertakan masyarakat dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi sekolah. Masalah yang dipecahkan menyangkut siswa, guru, perlengkapan, keuangan dan perumusan tujuan sekolah.
Dari masyarakat, sekolah dapat memanfaatkan segala sumber daya manusia dan non manusia semaksimal mungkin atas persetujuan dari masyarakat sendiri. Dengan demikian, jika sekolah dapat dimanfaatkan semua sumber daya yang ada pada masyarakat untuk menunjang semua program sekolah, maka diharapkan kualitas belajar dan pertumbuhan siswa akan meningkat. Selanjutnya jika para siswa lulusan sekolah berkualitas, maka diharapkan mereka telah terjun ke masyarakat melalui berbagai kegiatan masyarakat yang berguna bagi kemakmuran dirinya, keluarganya, dan akhirnya bagi masyarakat secara keseluruhan.   
Sekolah diharapkan dapat melaksanakan hubungan dengan masyarakat secara terus-menerus dan berkesinambungan, sehingga masyarakat tetap memiliki kegairahan yang tinggi untuk membantu program sekolah. Untuk melihat sejauh mana kerja sama antara sekolah dan masyarakat terlaksana secara efektif, maka diperlukan adanya kesepakatan bersama sebagai pedoman agar tidak terjadi salah pengertian di kemudian hari.[5]

5.      Tugas dan Kewajiban Hubungan Masyarakat
Tugas dan kewajiban utama Humas, adalah :
a)      Menyampaikan pesan atau informasi dari perusahaan secara lisan, tertulis atau visual kepada publiknya, sehingga masyarakat (public) memperoleh pengertian yang benar dan tepat mengenai kondisi perusahaan, tugas dan kegiatannya.
b)      Melakukan study dan analisis atau reaksi serta tanggapan public terhadap kebijakan dan langkah tindakan perusahaan, termasuk segala macam pendapat public yang mempengaruhi perusahaan, memberikan informasi kepada pejabat (eksekutif) tentang public acceptance atau non acceptance atas cara-cara dan pelayanan perusahaan kepada masyarakat.
c)      Menyampaikan fakta-fakta dan pendapat kepada para pelaksana tugas guna membantu mereka dalam memberikan pelayanan yang mengesankan dan memuaskan public.
Kerja sama antar warga sekolah yang melipui guru, karyawan, siswa, wali murid, dan sekolah dengan masyarakat harus dibangun dan diupayakan. Sekolah harus mampu mengajak masyarakat (community participation) ini sangat penting dan merupakan syarat utama keberhasilan School Based Managemen.[6]

6.      Peranan Hubungan Masyarakat bagi Lembaga Pendidikan Islam (LPI) dan Masyarakat.
Pengaruh masyarakat terhadap lembaga pendidikan amatlah kuat, dan berpengaruh pula pada individu-individu yang ada dalam lingkungan sekolah. Masyarakat yang melingkupi sekolah ini merupakan masyarakat yang kompleks, terdiri dari berbagai macam tingkatan masyarakat yang saling melengkapi, unik, sebagai konsekuensi dari latar belakang dimensi budaya yang beraneka ragam. Oleh karena itu, sangat penting dan perlu program lembaga pendidikan untuk menghayati adanya hubungan kerja sama antara sekolah dengan masyarakat.
Masyarakat yang kompleks, yang terdiri dari kelompok-kelompok kecil dengan ciri-ciri kolektif yang dimilikinya, dimana lembaga pendidikan itu berada, ada kalanya mempunyai harapan khusus yang berbeda-beda terhadap kebijakan lembaga pendidikan, seperti : sasaran, tujuan, kurikulum, program, dan sebagainya. Sebab itu, perlu dipertimbangkan betul-betul dalam mamperbaiki dan mempertinggi hubungan kerja sama antara lembaga pendidikan dengan masyarakat, yaitu dengan melibatkan orang tua dan masyarakat, serta isu-isu yang timbul dan bagaimana menyelesaikan isu-isu tersebut. Maka dalam hal ini kepala sekolah mempunyai peranan menentukan sebagai satu kekuatan atau kewibawaan (power) di dalam menghimpun dan menggerakkan sumber daya di dalam kerja sama dengan masyarakat pendidikan yang lebih luas, serta untuk memperoleh berbagai dukungan sumber daya manusia, dana, serta dukungan informasi berbagai lembaga dan dukungan politis dari segenap jajaran aparat pendidikan.
Tujuan pokok humas dengan masyarakat setempat, adalah untuk memungkinkan orang tua dan warga wilayah berpartisipasi aktif dan penuh arti di dalam kegiatan pendidikan sekolah. Hubungan tersebut mendorong orang tua terlibat ke dalam proses pendidikan suatu sekolah melalui kerja sama dengan para guru di dalam perencanaan program pendidikan individual dari anak-anak mereka. Dengan demikian komunikasi dan keterlibatan meningkat, karena orang tua secara dekat bekerja sama dengan para guru untuk memonitor perkembangan siswa ke arah tercapainya nilai-nilai pendidikan, sosial, kepribadian, dan karir dalam jangka pendek dan panjang.
Keberhasilan pendidikan para siswa, pertumbuhan perkembangan kognitif para siswa, pada dasarnya sangat ditentukan oleh : (1) pengaruh yang sangat kuat dari dorongan keluarga dan masyarakat, (2) sikap dan kehidupan rumah tangga dan keluarga, (3) sikap positif dari para sisiwa terhadap keluarga dan rumah tangga, (4) peranan orang tua sebagai pengembang yang menunjukkan sikap positif terhadap sekolah dan pendidikan, serta kepedulian dan perasaan tertarik terhadap pelajaran anak-anaknya, para guru, juga kurikulum.
Sebaliknya, orang tua yang menunjukkan keterlibatan yang rendah, terhadap anak-anaknya dan sekolah, orang tua semacam ini akan memberikan kesan dan sikap negatif terhadap sekolah dan pendidikan, serta menunjukkan peranan orang tua sebagai pengemban yang lamban.
Penemuan dari banyak study menunjukkan betapa penting ditegakkannya interaksi positif antara sekolah, keluarga, dan masyarakat, karena ia akan sangat menentukan keberhasilan siswa, produktivitas siswa dalam kegiatan belajar mengajar, dan bahwa kemitraan yang dinamis antara sekolah dan masyarakat akan memperbaiki efektifitas sekolah dan memberikan kontribusi terhadap kualitas kehidupan di dalam masyarakat secara keseluruhan.
Sebab itu, harus dicari model humas yang efektif dalam penyelenggaraan pendidikan. Wahjosumidjo (1999), memberikan beberapa rumusan model humas dalam lembaga pendidikan yaitu :
a.       Analisis, adalah suatu proses dimana isu- isu dari anggota masyarakat diidentifikasi dan dicari hubungannya satu sama lain.
b.      Komunikasi, proses interaksi antara sesama anggota masyarakat dan antar sekolah dengan anggota masyarakat.
c.       Keterlibatan, melalui proses tersebut anggota masyarakat memberikan kontribusi, energy, keahlian, dan sumber- sumber lain terhadap sekolah dan memperoleh jalan untuk proses pembuatan keputusan tentang sekolah.
d.      Penyelesaian, proses yang direncanakan untuk memecahkan masalah dan untuk mengurangi konflik actual dan poptensial diantara keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Dari uraian di atas dapat disebutkan bahwa peranan dan manfaat hubungan masyarakat (Humas) bagi Lembaga Pendidikan dan juga bagi masyarakat antara lain adalah sebagai berikut :

MANFAAT HUBUNGAN LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM DENGAN MASYARAKAT
Bagi LPI
Bagi Masyarakat
1.      Memperbesar dorongan untuk mawas diri.
2.      Memudahkan memperbaiki pengelolaan LPI.
3.      Mengurangi miskonsepsi masyarakat tentang LPI.
4.      Mendapatkan kritik dan saran dari masyarakat.
5.      Memudahkan meminta bantuan dan dukungan dari masyarakat.
6.      Memudahkan menggunakan media pendidikan di masyarakat.
7.      Memudahkan pemandatan narasumber.
1.      Mengetahui aktivitas LPI dan program- programnya.
2.      Kebutuhan masyarakat terhadap keberadaan LPI lebih mudah diwujudkan.
3.      Mendapatkan nilai tambah dalam hal inovasi dan kreatifitas LPI.
4.      Memberikan harapan yang lebih baik terhadap masa depan anak- anak.
5.      Menyalurkan dukungan (amal, zakat, dan infaq ) dari masyarakat.
6.      Mendorong terciptanya masyarakat madani.

Jika hubungan antarkomponen dalam pendidikan dan masyarakat dapat berjalan dengan efektif, maka keberhasilan dalam upaya pengembangan lembaga pendidikan akan segera terwujud, karena jika semua komponen tersebut sudah memiliki komitmen dan rasa kepedulian yang tinggi ( self of belonging ), maka segala efek yang ditimbulkan dalam penyelenggaraan pendidikan akan dipikul bersama.[7]

7.      Peranan Manajer Dalam Menangani Hubungan dengan Masyarakat
Pada pokoknya peranan manajer dalam memajukan hubungan lembaga pendidikan dengan masyarakat adalah menjalin kerja sama yang erat dengan masyarakat, tokoh masyarakat, dan stake bolder dalam memajukan sekolah islam. Adapun strategi kerja sama yang perlu diperhatikan adalah menarik perhatian masyarakat melalui mutu pendidikan yang dihasilkan oleh staf pengajar. Artinya hubungan akrab dengan masyarakat dimulai dari usaha memajukan pendidikan islam. Para manajer bisa membina para pengajarnya, sehingga mereka bisa bekerja dengan baik, bisa memberikan teladan kepribadian kepada siswa, dan bisa menanamkan ilmu dan pengetahuan lainnya dengan relatif sempurna.
            Peranan para pengajar dalam menggalang kerja sama dengan masyarakat dibenarkan oleh Nugent (1976) bahwa pengajarlah yang mengintervensi hubungan siswa dengan orang tua, walaupun ia harus tunduk kepada kerelaan orang tua itu. Melalui proses pembelajaran seorang guru dapat memberikan bimbingan kepada siswa dalam segala aspeknya. Dalam hal ini, guru dapat menarik perhatian siswa, yaitu lewat tugas yang harus dipelajari di rumah, bahan-bahan yang harus diselesaikan, dan hasil-hasil pekerjaan siswa yang harus diketahui dan di tanda tangani oleh orang tua. Hal ini semua akan membuat orang tua akan memperhatikan pendidikan putra-putrinya.
Itulah cara-cara yang dapat dipakai oleh guru dalam mengintervensi hubungan orang tua dengan putra-putrinya yang pada gilirannya nanti dapat meningkatkan hubungan orang tua dengan sekolah Islam. Yaitu ketika orang tua belum paham dengan mengapa sekolah selalu membebani pekerjaan rumah pada putra-putrinya, mengapa harus mengikuti pelajran tambahan, mengapa harus belajar di masyarakat, mengapa skor rapot tidak sesuai dengan hasil ulangan, mengapa harus mencari bahan pengajaran sendiri dan sebagainya. Para orang tua akan meningkatkan perhatiannya kepada pendidikan di sekolah, yaitu ingin tahu jawaban pertanyaan-pertanyaannya di atas. Perhatian yang mulai mengarah ke pendidikan ini perlu disambut dengan baik oleh para manajer pendidikan Islam. Pertanyaan-pertanyaan mereka perlu dilayani dan sikap positif ini perlu dipelihara.
Disamping memanfaatkan para pengajar dalam usaha meningkatkan hubungan dengan masyarakat, para manajer diharapkan dapat membangkitkan semangat kerja badan-badan pembantu penghubung lembaga pendidikan dengan masyarakat, seperi Dewan penyantun dan BP3. Dengan pendekatan yang bijak para manajer berusaha agar badan-badan ini tetap rutin aktif. Misalnya dengan mengirimkan informasi tentang lembaga secara rutin, mengemukakan problem-problem yang dihadapi, sekali-kali mengundang rapat untuk mendiskusikan sesuatu yang diperlukan dan sebagainya. Yayasan pendidikan Islam yang juga membantu lembaga menghubungkan diri dengan masyarakat pada umumnya sudah cukup aktif, sebab mereka bertanggung jawab atas keberlangsungan hidup lembaga.      
Peranan manajer lain adalah melakukan pendekatan pada para pimpinan formal badan-badan pemerintah setempat, kepada para tokoh masyarakat, para pemakai lulusan, dan para pemimpin media massa di masyarakat agar mereka aktif membantu lembaga dalam pembangunan pendidikan Islam. Pendekatan dan komunikasi ini bisa dilakukan secara terpisah, kelompok demi kelompok, bisa juga dilakukan bersama-sama, berganung pada situasi dan problem yang dibahas.
Bila manajer pendidikan dapat mewujudkan kerja sama yang baik dengan para wakil masyarakat seperti tersebut diatas, maka sekaligus ia sudah dapat merealisasikan salah satu misinya, yaitu sebagai penerang lingkungannya. Oleh karena itu masalah-masalah yang muncul dalam pendidikan yang menjadi tanggungjawab bersama antara lembaga, orang tua, dan masyarakat memang harus dipecahkan dan diselesaikan bersama secara musyawarah untuk mendapatkan kesepakatan.
Begitu program-program kerja sama lembaga dengan masyarakat disepakati, tidak berarti tugas manajer yang berkaitan dengan program itu sudah selesai. Sering kali membuat program lebih mudah daripada melaksanakannya. Manajer dituntut untuk bekerja lebih keras dalam melaksanakan program dari pada ketika membuatnya. Manajer perlu memonitor pelaksanaannya, menilai secara berkala, mancari/menerima umpan balik dari semua pihak yang bersangkutan, merevisi, dan merencanakan kembali. Pekerjaan ini sebagian besar dilakukan oleh manajer pendidikan Islam. Apabila terdapat hal-hal yang tidak dapat dipecahkan sendiri oleh sekolah Islam, baru ia mengundang wakil-wakil masyarakat untuk diajak berdiskusi untuk menyelesaikan masalah yang ada disekolah Islam.
Pekerjaan manajer dalam mengadakan kontak hubungan kerja sama dengan masyarakat, sebagai salah satu segi dari tugasnya menyelenggarakan dan meningkatkan pendidikan merupakan kontak sosial dalam pendidikan Islam. Kesadaran lembaga pendidikan bahwa kesejahteraan (kemajuan) dan kelangsungan hidupnya berakar kepada kesadaran akan kewajiban dan tanggung jawab mereka pemakai lulusan, personalia, dan masyarakat. Layanan kepada pihak pemakai lulusan dan masyarakat serta penyesuaian dan peningkatan cara kerja personalia terutama para pengajar, membuat lembaga pendidikan tersebut bertahan lama dan semakin maju. Sebab masyarakat dan pemakai lulusan aktif berpartisipasi dalam memajukan sekolah Islam.
Kontak sosial sejalan dengan prinsip sistem terbuka yang telah dikemukakan diatas, bahwa hidup matinya, dan maju mundurnya suatu lembaga pendidikan Islam sangat bergantung dengan bagaimana ia mengadakan kontak hubungan dengan masyarakatnya. Karena lembaga pendidikan Islam adalah bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat. Lembaga pendidikan Islam dan masyarakat adalah saling melengkapi kebutuhan mereka akan prestasi belajar anak didiknya.[8]

8.      Strategi Kegiatan  Humas dalam Lembaga Pendidikan
Untuk menentukan strategi dalam kegiatan humas pada lembaga pendidikan yang akan dilakukan terlebih dahulu memperhitungkan :
a.       Apa tujuan yang hendak dicapai sesuai dengan perencanaan yang telah di perhitungkan dengan baik oleh pihak- pihak yang terlibat dalam manajemen lembaga pendidikan.
b.      Strategi apa dan bagaimana yang di pergunakan dalam perencanaan.
c.       Apa program kerja yang akan dilakukan dan dijabarkan sesuai langkah- langkah yang telah di jadwalkan.
d.      Terakhir adalah menentukan anggaran atau dana yang sudah dipersiapkan, serta daya sebagai pendukung yang bersifat khusus.
Strategi Humas dalam hal ini adalah suatu cara alternative optimal yang dipilih untuk melaksanakan atau ditempuh guna mencapai tujuan humas dalam kerangka suatu rencana humas.
Guna mengokohkan atau mendapat dukungan dari pimpinan agar strategi operasional humas mengenai sasaran dalam suatu tujuan lembaga pendidikan, tentu kegiatan humas secara operasional harus berada di posisi yang sedekat mungkin dengan pimpinan lembaga pendidikan, dan diharapkan kegiatan humas tersebut akan tercapai. Untuk melaksanakan strategi tersebut harus diupayakan sebagai berikut :
a.       Menempatkan posisi humas dekat dengan pimpinan lembaga pendidikan agar humas mengetahui secara jelas dan rinci mengenai pola perencanaan, kebijakan, keputusan yang diambil, visi dan arah tujuan lembaga pendidikan bersangkutan agar tidak terjadi kesalahan dalam penyampaian pesan dan informasi yang berasal dari lembaga pendidikan kepada masyarakat.
b.      Humas dalam memberikan informasi mewakili lembaga pendidikan tersebut dapat dipertegas tentang batas- batas wewenang dan tanggung jawab dalam memberikan keterangan. Sehingga humas akan selalu mengetahui informasi secara jelas mengenai pelaksanaan dari keputusan atau kebijaksanaan pimpinan lembaga pendidikan tersebut.
c.       Pimpinan atau staf humas selalu diikutsertakan menghadiri setiap rapat atau pertemuan pada tingkat pimpinan agar dapat mengetahui secra langsung dengan tepat tentang latar belakang suatu proses perencanaan, kebijaksanaan, arah hingga tujuan organisasi yang hendak dicapai, baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang.
d.      Agar humas diberi fungsi koordinasi berhubungan secara langsung dan segera dengan pimpinan puncak (rector/ direktur/ kepala sekolah), tanpa melalui perantara pejabat/ bagaian lain, sehingga fungsi ke-humas-an berlangsung secara optimal, antisipatif dan dapat melaksanakan berbagai macam perencanaan, peranan komunikasi atau dengan kewenangan yang ada mampu mengatasi berbagai masalah yang mungkin akan timbul tanpa diduga sebelumnya.
e.       Humas harus bertindak secara proaktif dan dinamis, serta fleksibel sebagai narasumber atau mengatur saluran komunikasi baik ke dalam maupun ke luar untuk menghindarkan sikap reaktif (pasif) dalam menghadapi berbagai masalah atau tantangan yang bakal dihadapinya.
f.       Humas berperan melakukan tindakan mulai dari memonitor, merekam, menganalisis, menelaah, hingga mengevaluasi setiap reaksi feed back, khususnya dalam upaya penilaian sikap tindak serta mengetahui persepsi masyarakat sebagai suatu akibat yang ditimbulkan dari keputusan yang diambil dan kebijakan telah dijalankan oleh pihak lembaga pendidikan.
g.      Humas dapat memberikan sumbang saran, ide dan rencana atau program kerja humas untuk memperbaiki atau mempertahankan nama baik, kepercayaan dan citra perusahaan terhadap publiknya, termasuk menyerasikan antara kebijaksanaan / keputusan pimpinan lembaga pendidikan dengan kepentingan dan keinginan masyarakat sekaligus upaya memperoleh dukungan dan partisipasi dari masyarakat.

Berdasarkan strategi yang harus diupayakan para praktisi humas di lembaga pendidikan, di perlukan beberapa pendekatan agar strategi tersebut dapat berjalan dengan lancer. Pendekatan- pendekatan tersebut diantaranya adalah :
a.       Pendekatan kemasyarakatan melalui mekanisme social budaya dan nilai- nilai yang berlaku di masyarakat. Pendekatan persuasif dilakukan dengan komunikasi balik dengan menyebarkan informasi dari organisasi kepada public internal dan eksternal, baik bersifat mendidik, dan memberikan penerangan maupun pendekatan persuasive agar tercipta saling pengertian, menghargai, pemahaman, toleransi, dan sebagainya.
b.      Pendekatan tanggung jawab social, dalam hal ini menumbuhkan sikap agar tujuan dan sasaran yang hendak dicapai tersebut bukan untuk keberuntungan sepihak dari public sasarannya (masyarakat), tetapi memperoleh keuntungan bersama yang terampil dalam memadukan keuntungan dengan motivasi tanggung jawab social.
c.       Pendekatan kerjasama, dalam hal ini adalah membina hubungan yang harmonis antara lembaga pendidikan dengan berbagai kalangan, baik hubungan ke dalam maupun ke luar guna meningkatkan kerjasama. Pendekatan koordinatif, dalam hal ini peranan humas lebih luas berpartisipasi dalam menunjang program pembangunan nasional.[9]
Perencanaan dalam manajemen hubungan masyarakat (Humas) merupakan langkah awal yang membutuhkan pemikiran yang mendalamsebelum dilakukan implementasinya. Perencanaan program sebaiknya dilakukan berdasarkan pada assessment kebutuhan dan analisis situasi LPI. Secara sistemik proses tersebut dapat digambarkan berikut :


Design Program
Inisiasi
Evaluasi
Implementasi
Assessment (Analisis) :
-          Kebutuhan LPI
-          Situasi masyarakat
 








Perencanaan Kegiatan (Kajian potensi dan alternative kegiatan)
Proses perencanaan dan strategi program humas dapat dikatakan sebagai proses daur program, proses tersebut tidak pernah berhenti dan selalu diperbaharui yang dimulai dari pengenalan kebutuhan (need assessment), kemudian diikuti oleh perencanaan kegiatan, pelaksanaan kegiatan, pemantauan serta evaluasi dan kemudian kembali pada awal.

Pemantauan kegiatan (monitoring perkembangan)
Evaluasi kegiatan (kajian hasil akhir program)
Pelaksanaan kegiatan (sikap dan perilaku)
Penjajagan kebutuhan (kajian masalah dan kebutuhan)
 















a.       Penjajagan Kebutuhan
Tahap pertama dari proses ini adalah dengan melakukan analisis terhadap kebutuhan baik lembaga pendidikan maupun masyarakat. Tahap ini juga dikenal sebagai tahap pengenalan lingkungan dan potensi masyarakat. Melalui tahap ini dapat diidentifikasi kongruensi antara kebutuhan lembaga dan masyarakat sehingga program partisipasi dan humas dapat terlaksana dengan baik.
Kajian penjajagan ini dapat dilakukan melalui berbagai metode, seperti survey, wawancara, observasi, dan penelusuran dokumen. Sementara itu informasi yang perlu didapatkan adalah yang berkaitan dengan keadaan social ekonomi masyarakat, antara lain :
1.      Perubahan dan perkembangan penduduk, yang bermanfaat untuk prediksi usia sekolah anak dan ketersediaan sarana pendidikan.
2.      Perkembangan tingkat partisipasi anak sekolah, tingkat drop out, dan kelulusan. Hal ini bermanfaat untuk merencanakan promosi pada sasaran yang tepat.
3.      Perkembangan tingkat konsumsi dan kondisi ekonomi masyarakat. Hal ini berfungsi untuk memberikan informasi berkaitan dengan seberapa besar sumber daya atau dukungan financial yang dapat diperoleh dari masyarakat.
4.      Pola aktivitas dan pekerjaan masyarakat (orang tua siswa), untuk memberikan informasi berkaitan dengan waktu dan jenis partisipasi yang dapat diharapkan dari masyarakat.
5.      Informasi lainnya yang tepat dan komprehensif berkaitan dengan keadaan lingkungan dan kebutuhan masyarakat..

b.      Perencanaa Kegiatan
Perencanaan kegiatan merupakan lanjutan dari proses diatas. Setelah mendapat analisis dari berbagai data dan informasi hasil dari kegiatan penjajagan, dibuatlah matrik perencanaan program dilengkapi dengan factor- factor yang terkait, seperti waktu, sumber daya, perioritas, alternative- alternative kegiatan serta berbagai media yang digunakan.
Dalam menyusun perencanaan program dilakukan melalui beberapa tahapan, tahap awal pembuatan tim kecil (4 atau 5 orang ) sebagai salah satu inisiasi program merupakan sebuah cikal bakal untuk program yang lebih besar. Setelah terjadi suatu komitmen (kohesi social ) bersama di antara tim kecil kemudian dikembangkan sesuai dengan perkembangan kebutuhan program secara menyeluruh.

c.       Pelaksanaan Kegiatan ( Implementasi )
Implementasi atau pelaksanaan program membutuhkan cara / kiat tersendiri, sehingga pengalaman dan intuisi dari pengelola program seringkali memberikan penguatan terhadap keberhasilan pelaksanaan kegiatan. Dalam implementasi ini diperlukan kecermatan, kejelian, dan khususnya keseriusan dari semua pihak khususnya para pengelola.
Tidak dapat dipungkiri, salah satu factor penting yang dapat mendorong terjadinya perubahan di lembaga pendidikan adalah kepala sekolah. Komitmen kepala sekolah untuk mencapai tujuan tersebut memberikan andil yang besar terhadap keberhasilan program Humas, melalui kemudahan akses kepala sekolah terhadap yayasan, pemerintah daerah, maupun lembaga- lembaga swadaya masyarakat.

d.      Pemantauan (monitoring) Kegiatan
Pemantauan atau monitoring merupakan bentuk lain dari evaluasi pada saat berlangsungnya kegiatan yang bertujuan untuk melihat dan mengkaji progress keberhasilan program dan memberikan feed back terhadap pelaksanaan kegiatan.

e.       Salah satu factor yang sangat penting untuk menentukan assessment dan evaluasi adalah adanya kejelasan terhadap konsep yang mau dilihat. Kejelasan konsep akan sangat membantu dalam menerapkan ukuran terhadap konsep yang diukur. Tujuan suatu program adalah mencapai efisiensi dan efektifitas, inilah yang menjadi alat ukur konsep diatas. Efisiensi dan efektifitas dapat dibedakan secara factual sebagai berikut :


Program Efektif dan Efisien
Program yang Efektif
Program yang Efisien
1.      Sesuai dengan tujuan dan kebutuhan
2.      Berorientasi pada mutu dan relevansi yang tinggi
3.      Mengoptimalkan sumber daya lembaga
4.      Meningkatkan keunggulan lembaga
1.      Dilakukan dengan benar
2.      Menyelesaikan permasalahan
3.      Menggunakan sumber- sumber daya secara optimal
4.      Meningkatkan nilai tambah

Evaluasi yang dilakukan pada akhir program memiliki dua macam sasaran atau bentuk:
1.      Evaluasi dampak atau efek yang terjadi pada masyarakat. Evaluasi jenis ini pada umumnya dilakukan setelah masa tertentu program partisipasi berlangsung (1 atau 2 tahun). Evaluasi ini bertujuan melihat bagaimana keberlangsungan program (kontinuitas) atau dampak perubahan dalam masyarakat.
2.      Evaluasi akhir program, bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengkaji tujuan program apa saja yang telah tercapai dan belum tercapai, serta mengkaji dampak program terhadap tingkat partisipasi, baik berupa tingkat keterlibatan masyarakat, besarnya biaya, jumlah murid, dan seterusnya.[10]

9.      Merencanakan Program Kerja Humas
Tujuan umum dari merencanakan program kerja dalam manajemen humas adalah bagaiman upaya menciptakan hubungan harmonis antara lembaga pendidikan yang diwakilinya dengan masyarakat, agar tujuan yang diharapkan dapat terwujud meliputi terciptanya citra positif, kemauan yang baik, saling menghargai, toleransi, antara kedua belah pihak yang terkait.
Kegiatan humas pada lembaga pendidikan bukanlah merupakan pekerjaan yang mudah atau hanya kerja sambilan, tetapi harus di kelola secara professional dan serius. Hal itu terkait dengan kemampuan staf humas dalam manajemen teknis dan sebagai keterampilan manajerial, serta penuh konsentrasi dari pihak praktisi humas untuk mengelola program kerja humas dalam upaya pencapaian tujuan atau sasaran sebagaimana direncanakan.
Langkah- langkah kegiatan humas dalam merencanakan program kerja menurut Rosady (2001) ada beberapa tahapan sebagai berikut :
a.       Menganalisis perilaku umum dan hubungan organisasi terhadap lingkungan.
b.      Menentukan dan memahami secara benar perilaku tiap- tiap kelompok terhadap organisasi.
c.       Menganalisis tingkat opini public baik ke dalam maupun ke luar.
d.      Mengantisipasi kecenderungan masalah yang potensial, kebutuhan dan kesempatan.
e.       Menentukan formulasi dan merumuskan kebijakan.
f.       Merencanakan alat atau cara yang sesuai untuk meningkatkan atau mengubah perilaku kelompok masyarakat sasaran.
g.      Menjalankan dan melaksanakan aktivitas sesuai dengan program yang direncanakan.
h.      Menerima umpan balik untuk di evaluasi, kemudian mengadakan penyesuaian yang diperlukan.[11]

Semua kegiatan humas terlebih dahulu hendaknya disusun melalui rencana program kerja humas dalam program rutin (jangka pendek) dan program kerja insidentil (jangka panjang). Dalam implementasi program kerja tersebut harus di laksanakan secara terus menerus dan kronologis.
a.       Program Kerja Rutin
Merupakan kegiatan yang dilaksanakan secara terus menerus dan kronologis. Adapun program kerja yang tergolong dalam kegiatan rutin adalah sebagai berikut :

No
Kegiatan
Jenis Program Kerja
1
Menerbitkan pers relase setiap ada kegiatan di lingkungan lembaga pendidikannya
Jangka Pendek
2
Menerbitkan media cetak internal (warta/ bulletin)
Jangka Pendek
3
Memasukkan berita tentang kegiatan di lingkungan lembaganya ke web Internet bisa bekerjasama dengan unit kerja terkait
Jangka Pendek
4
Mendokumentasikan dan mempublikasikan kegiatan- kegiatan yang layak di publikasikan di lingkungan lembaga pendidikannya
Jangka Pendek
5
Mengumpulkan, mengolah, dan menyampaikan informasi tentang kegiatan dan kebijakan di lembaga pendidikannya kepada media massa cetak maupun elektronik
Jangka Pendek
6
Melayani wartawan dari media cetak dan elektronik yang ingin memperoleh informasi tentang kegiatan dan sesuatu kebijakan pimpinan yang layak di publikasikan
Jangka Pendek
7
Menyampaikan segala usul dan saran yang di peroleh dari public intern maupun ekstern
Jangka Pendek
8
Meliput dan mendokumentasikan kegiatan di lingkungan lembaga pendidikannya
Jangka Pendek
9
Meliput setiap kegiatan di lingkungan lembaga pendidikan dengan media audio visual dan di publikasikan di media televise local dan nasional
Jangka Pendek
10
Mengkliping beita- berita dari media cetak tentang kegiatan di lingkungan lembaga pendidikan, hasil wawancara para pakar atau dosen, tulisan artikel warga lembaga pendidikan, masalah perguruan tinggi, masalah pendidikan dan masalah lain yang dianggap terkait dengan lembaga
Jangka Pendek
11
Menerbitkan buku kumpulan kliping berita- berita Koran tentang lembaga pendidikan
Jangka Pendek
12
Proaktif mencari informasi yang terkait dengan lembaga di lingkungan lembaga pendidikan (fakultas, lembaga, UPT, biro, dan unit kerja lainnya)
Jangka Pendek
13
Proaktif mencari informasi yang terkait dengan lembaga pendidikan di lingkungannya (fakultas, lembaga, UPT, biro, dan unit kerja lainnya)
Jangka Pendek
14
Mengekspos pemikiran- pemikiran para pakar dan guru besar lembaga pendidikan tersebut ke media massa
Jangka Pendek

b.      Program Kerja Insidentil
Merupakan kegiatan yang dilaksanakan pada periode tertentu. Program kerja ini pada prinsipnya membantu pelaksanaan semua program kerja yang di laksanakan kantor pusat (rector, biro, lembaga, dan fakultas) dalam bidang komunikasi dan publikasi untuk semua semua warga kampus maupun masyarakat luas. Adapun program kerja yang tergolong dalam kegiatan insidentil adalah sebagai berikut :
No
Jenis Kegiatan
Jenis Program Kerja
1
Mengusulkan dan menyelenggarakan pembentukan forum antar humas perguruan tinggi atau sekolah se-kota atau se- kabupaten/ provinsi
Jangka menengah/ panjang
2
Mengusulkan pembentukan forum antar humas di lembaga pendidikan
Jangka menengah/ panjang
3
Menyelenggarakan konferensi pers dengan wartawan media massa
Jangka menengah
4
Meningkatkan keterampilan staf humas melalui pelatihan kehumasan dan kursus lain yang terkait dengan kerja- kerja humas
Jangka menengah
5
Menambah personil staf humas sesuai dengan kebutuhan bidang kerja humas
Jangka panjang
6
Mengusulkan kepada pimpinan agar humas memiliki anggaran yang dikelola humas sendiri
Jangka menengah
7
Mengidentifikasi dan membuat buku tentang bidang keahlian para dosen, pakar, atau guru besar di lingkungan lembaga pendidikan untuk memudahkan media massa dalam mewawancarai tentang suatu masalah yang actual
Jangka menengah
8
Menyelenggarakan pelatihan kehumasan
Jangka menengah
9
Mempublikasikan lembaga pendidikan kepada masyarakat, kerjasama dengan media radio melalui program pendidikan atau program khusus tentang lembaga pendidikan setiap bulan
Jangka menengah dan panjang
10
Membuat profil lembaga pendidikannya di media audio visual
Jangka menengah dan panjang
11
Menambah alat yang mendukung kerja humas, seperti kamera, video shoting, televise, computer, internet, LCD, printer, fotokopi, dll
Jangka menengah dan panjang
12
Merancang penyelenggaraan open house bagi public eksternal
Jangka menengah dan panjang
13
Menyusun profil lembaga dalam bentuk media cetak (buku) dan audio visual (VCD)
Jangka menengah dan panjang
14
Menyelenggarakan pameran dengan melibatkan seluruh unit kerja di lingkungan lembaga pendidikannya dan di gelar di dalam lembaga pendidikannya dengan mengundang public intern dan masyarakat luas
Jangka menengah dan panjang
15
Meluruskan berita- berita yang dimuat di media massa yang salah atau negative tentang lembaga pendidikan
Jangka pendek
16
Mendampingi unit kerja terkait apabila ada studi banding dari luar
Jangka pendek
17
Melakukan diskusi bulanan dengan pihak media pers dan para mahasiswa dengan narasumber secara bergilir dari unit kerja di lingkungan lembaga pendidiakan tentang informasi atau suatu kebijakan
Jangka pendek
18
Mengumpulkan data, informasi untuk penyusunan rencana pelayanan informasi dan kehumasan
Jangka pendek
19
Membuat statistik pelayanan informasi dan kehumasan
Jangka pendek
20
Menyusun layanan informasi tatap muka internal
Jangka pendek
21
Mengumpulkan isu tentang hubungan personil
Jangka pendek
22
Membuat foto, slide, spanduk untuk peningkatan hubungan personil
Jangka pendek
23
Mengumpulkan isu tentang hubungan kelembagaan
Jangka pendek
24
Menyusun petunjuk pelayanan informasi dan kehumasan
Jangka pendek
25
Mengolah isu public intern dan ekstern
Jangka pendek
26
Mengolah dan menganalisis isu hubungan personil
Jangka pendek

Keterangan :
-          Jangka pendek : harus dilaksanakan pada setiap tahun
-          Jangka menengah : dapat dilaksanakan selama 1-2 tahun
-          Jangka panjang : dapat dilaksanakan lebih kurang 3-4 tahun[12]

10.  Media Humas pada Lembaga Pendidikan
Media sebagai salah satu alat dan sarana humas untuk menyampaikan informasi, publikasi, dan promosi kepada public internal dan public eksternal suatu lembaga pendidikan. Pada umumnya ada dua jenis media yang digunakan oleh bidang humas, yaitu media internal dan media eksternal. Berikut yang termasuk ke dalam media internal dan eksternal, yaitu :
1.      Media Internal Humas di Lembaga Pendidikan
a.       Warta atau bulletin, umumnya berisi berita- berita tentang kegiatan yang dilaksanakan dan program yang akan di laksanakan unit kerja di lingkungan lembaga pendidikan. Biasanya di terbitkan bulanan dan berbentuk seperti buku.
b.      Papan informasi, tempat menempelkan pengumuman terkait pelaksanaan kegiatan di lembaga pendidikan dan sosialisasi kebijakan pimpinan di lembaga pendidikan secara tertulis seperti edaran, brosur atau pamphlet.
c.       Papan foto, digunakan untuk menempelkan foto- foto kegiatan di lingkungan unit kerja lembaga pendidikan yang di dokumentasikan staf humas.
d.      Spanduk dan baliho, biasanya di tempatkan di jalan masuk dan jalan- jalan yang strategis di lingkungan lembaga pendidikan.
e.       Kotak saran, untuk menampung berbagai masukan dan saran dari para tenaga pengajar, peserta didik, dan karyawan tentang kebijakan lembaga pendidikan yang telah berjalan.
f.       Presentasi video dan slide, bertujuan untuk mengisolasikan program lembaga pendidikan kepada public internal.
g.       Stasiun radio sendiri, sebagai media hubungan pimpinan dan karyawan.
h.      Kaset video dan LCD, hasil rekaman peristiwa dalam bentuk audio visual.
i.        Komunikasi tatap muka, media interpersonal antara pimpinan (pihak humas) dengan para karyawan, tenaga pengajar, dan siswa.
j.        Acara kekeluargaaan, tujuannya meningkatkan dan membina hubungan harmonis antar sesame karyawan dan refreshing akibat beban kerja setiap harinya.
k.      Klub social, untuk mempererat hubungan antara pihak pimpinan denganpara karyawan, dosen/ guru, dan mahasiswa/ siswa.
l.        Literatur pengenalan/ informasi, berbagai macam naskah, materi, atau buklet yang berisikan riwayat singkat lembaga pendidikan, berbagai kegiatan pokok, cara kerja, fungsi- fungsi yang dijalankan lembaga pendidikan dengan bagan- bagan, struktur manajemen, dan aneka hal penting lainnya yang harus diketahui para pegawai baru.
m.    Jaringan telepon internal, setiap karyawan lembaga pendidikan dapat menyampaikan gagasannya mengenai berbagai hal.

2.      Jenis Media Eksternal Humas di Lembaga Pendidikan
a.       Pameran, merupakan pelaksanaan fungsi humas melalui pameran yang pada umumnya dibuka untuk umum.
b.      Seminar dan konferensi
c.       Sponsor, penyediaan dukungan financial untik acara, subjek, kegiatan, lembaga, atau individu yang dianggap pantas untuk menerimanya.
d.      Media cetak, bersifat komersial seperti surat kabar harian, tabloid, majalah berita atau hiburan yang diterbitkan secara berkala mingguan atau bulanan, yang tersebar luas dan di baca oleh masyarakat.
e.       Media elektronik, seperti stasiun radio, televise, baik milik pemerintah ataupun swasta.
f.       Media internet, sebagai sarana informasi dan publikasi kepada masyarakat luas bahkan sampai ke dunia internasional.[13]

B.     Manajemen Sarana dan Prasarana dalam Lembaga Pendidikan Islam
1.      Pengertian Manajemen Sarana dan Prasarana
Sarana pendidikan adalah peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dan menunjang proses pendidikan, khususnya proses belajar mengajar, seperti gedung serta alat-alat lainnya. sedangkan prasarana ialah fasilitas secara tidak langsung menunjang jalannya proses pendidikan atau pengajaran seperti halaman, taman , tetapi jika dimanfaatkan secara langsung untuk proses belajar mengajar seperti taman sekolah islam untuk pengajaran biologi
Manajemen sarana dan prasarana pendidikan dapat didefinisikan sebagai proses kerja sama pendayagunaan semua sarana dan prasarana pendidikan secara efektif dan efisien.(Bafadal,2003)
Tujuan dari pengelolaan sarana dan prasarana sekolah adalah untuk memberikan layanan secara professional berkaitan dengan sarana dan prasarana pendidikan agar proses pembelajaran bias berlangsung secara efektif dan efisien.[14]

2.      Tujuan Manajemen Sarana dan Prasarana
 Bafadal (2003) menjelaskan secara rinci tentang tujuan menejemen sarana dan prasarana pendidikan sebagai berikut :
1.      Untuk mengupayakan pengadaan sarana dan prasarana sekolah melalui system perencanaan dan pengadaan yang hati-hati dan seksama, sehingga sekolah memiliki sarana dan prasarana yang baik sesuai dengan kebutuhan sekolah dan dengan dana yang efisien.
2.      Untuk mengupayakan pemakaian sarana dan prasarana sekolah secara tepat dan efisien.
3.      Untuk mengupayakan pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan, sehingga keberadaannya selalu dalam kondisi siap pakai dalam setiap diperlukan oleh semua personil sekolah.
Dengan tersedianya alat atau fasilitas belajar yang memadai secara kuantutatif, kualitatif dan relefan dengan kebutuhan serta dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan proses pendidikan dan pengajaran baik oleh guru sebagai pengajar maupun murid-murid sebagai pelajar.[15]

3.      Prinsip- Prinsip Manajemen Sarana dan Prasarana
Berikut prinsip (menurut bafadal,2003) yang perlu diperhatikan agar tujuan bias tercapai dengan maksimal :
1.      Prinsip pencapaian tujuan, yaitu sarana dan prasarana pendidikan di sekolah harus selalu dalam kondisi siap pakai apabila akan didayagunakan oleh personel sekolah dalam rangka pencapaian tujuan proses pembelajaran di sekolah.
2.      Prinsip efisiensi, yaitu pengadaan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah harus dilakukan melalui perencanaan yang seksama, sehingga dapat diadakan sarana dan prasarana pendidikan yang baik dengan harga yang murah. Demikian juga dengan pemakainannyaharus dengan hati-hati sehingga mengurangi pemborosan.
3.      Prinsip administratif yaitu manajemen sarana dan prasarana pendidikan di sekolah harus selalu memperhatikan undang-undang, perturan, instruksi dan petunjuk teknis yang diberlakukan oleh pihak yang berwenang.
4.      Prinsip kejelasan tanggung jawab yaitu manajemen sarana dan prasarana pendidikan di sekolah harusdi delekasikan kepada personel sekolah yang mampu bertanggung jawab apabila melibatkan banyak personel sekolah dalam manajemennya, maka perlu adanya deskripsi tugas dan tanggung jawab yang jelas untuk setiap personel sekolah.
5.      Prinsip kekohesifan bahwa sarana dan prasarana pendidikan di sekolah harus direalisasikan dalam bentuk proses kerja sekolah yang sangat kompak.[16]

4.      Proses Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan Islam
1.      Perencanaan sarana dan prasarana pendidikan islam
Jones (1969) menjelaskan bahwa perencanaan pengadaan perlengkapan pendidikan disekolah harus diawali dengan analisis jenis pengalaman pendidikan yang diprogramkan sekolah. Adapun langkah-langkah perencanaan pengadaan sarana dan prsarana pendidikan di sekolah menurut sukarna(1987) sebagai berikut [17]:
1)      Menampung semua usulan pengadaan perlengkapan sekolah yang diajukan oleh setiap unit kerja dan atau menginventariskan kekurangan perlengkapan sekolah.
2)      Menyusun rencana kebutuhan perlengkapan sekolah untuk periode tertentu, misalnya untuk satu triwulan atau satu tahun ajaran.
3)      Memadukan rencana kebutuhan yang telah disusun dengan perlengkapan yang telah tersedia sebelumnya.
4)      Memadukan rencana kebutuhan dengan dana atau anggaran sekolah yang tersedia. Dalam hal ini, jika dana yang tersedia tidak mencukupi pengadaan semua kebutuhan yang diperlukan, maka perlu diadakan seleksi terhadap semua kebutuhan perlengkapan yang telah direncanakan dengan melihat urgensi setiap perlengkapan yang diperlukan. Semua perlengkapan yang urgen dan didahulukan pengadaannya.
5)      Memadukan rencana (daftar) kebutuhan perlengkapan yang urgen dengan dana atau anggaran yang tersedia, maka perlu diadakan seleksi lagi dengan melihat skala prioritas.
6)      Penetapan rencana pengadaan akhir.
2.      Pengadaan sarana dan prasarana pendidikan islam
Dalam pengadaan ini harus dilakukan seduai dengan rencana yang telah disusun sebelumnya dengan memperhatikan skala prioritas yang dibutuhkan oleh sekolah dalam menunjang keberhasilan pelaksanaan proses pembelajaran. Sistm pengadaan sarana dan prasarana sekolah dapat dilakukan berbagai cara, antara lain adalah :
·         Droping dari pemerintah, hal ini merupakan bantuan yang diberikan pemerintah kepada sekolah. Bantuan ini sifatnya terbatas sehingga pengelola sarana dan prasarana pendidikan di sekolah tetap harus mengusahakan dengan cara lain.
·         Pengadaan sarana dan prasarana sekolah dengan cara membeli baik secara langsung maupun melalui pemesanan terlebih dahulu.
·         Meminta sumbangan dari wlai murid atau mengajukan proposal bantuan sarana dan prasarana sekolah ke lembaga-lembaga social yang tidak mengikat.
·         Pengadaan perlengkapan dengan cara menyewa atau meminjam ke tempat lain.
·         Pengadaan perlengkapan sekolah dengan cara tukar menukar barang yang dimiliki dengan barang lain yang dibutuhkan sekolah.
Sarana pembelajaran hendaknya di rencanakan, dipilih dan diadakan dengan teliti sesuai dengan kebutuhan sehingga penggunaan berjalan dengan wajar. Untuk itu pendidikpendidik hendaknya meyesuaikan sarana pembelajaran dengan factor-faktor yang dihadapi yaitu tujuan apakah yang hendak dicapai, media apa yang tersedia pendidik mana yang dihadapi. Factor lain yang hendaknya dipertimbangkan dalam pemilihan sarana pembelajaran adalah kekesuaian dengan ruang dan waktu.[18]
3.      Inventarisasi sarana dan prasarana pendidikan islam
Inventarisasi dapat diartikan sebagai pencatatan dan penyusunan daftar barang-barang milik Negara secara sistematis, tertib dan teratur berdasarkan ketentuan-ketentuan atau pedoman-pedoman yang berlaku. Hal ini sesuai dengan keputusan mentri keuangan RI Nomor Kep. 225/MK/V/4/1971 bahwa barang milik Negara berupa semua barang yang berasal atau dibeli dengan dana yang bersumber baik secara keseluruhan atau bagian sebagiannya dari anggaran pendapatan dan belanja Negara (APBN) ataupun dana lainnya yang barang-barangnya dibawah penguasaan kantor departemen dan kebudayaan baik yang berada didalam maupun luar negeri.
Kegiatan inventarisasi sarana dan prasarana pendidikan di sekolah menurut brafadal (2003) meliputi :
ü  Pencatatan sarana dan prasarana sekolah dapat dilakukan di dalam buku penerimaan barang, buku pembelian barang, buku induk inventaris , buku golongan inventaris buku kartu stok barang.
ü  Pembuatan kode khusus untuk perlengkapan yang tergolong barang inventaris. Caranya dengan membuat kode barang menempelkannya atau menuliskannya pada badan brang perlengkapan yang tergolong sebagai barang invetaris. Tujuannya adalah untuk untuk memudahkan semua pihak dalam mengenal kembali semua perlengkapan pendidikan di sekolah baik ditinjau dari kepemilikan, penanggung jawab, maupu  jenis dan golongannya. Biasanya kode barang itu berbentuk angka atau numeric yang menunjukkan departemen lokasi, sekolah dan barang.
ü  Semua perlengkapan pendidikan di sekolah yang tergolong barang inventaris harus dilaporkan. Laporan tersebut sering disebut dengan istilah laporan mutasi barang. Pelaporan dilakukan dalam periode tertentu, sekali dalam satu triwulan. Dalam satu tahun ajaran misalnya, pelaporan dapat dilakukan pada bulan juli, oktober, januari dan april tahun berikutnya.
4.      Pengawasan dan pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan islam
Pengawasan (control) terhadap sarana dan prasarana pendidikan di sekolah merupakan usaha yang ditempuh oleh pimpinan dalam membantu personel sekolah untuk menjaga atau memelihara dan memanfaatkan sarana dan prasarana sekolah dengan sebaik mungkin demi keberhasilan proses pembelajaran disekolah. Pemeliharaan terhadap sarana dan prasarana pendidikan disekolah merupakan aktifitas yang harus dijalankan untuk menjaga agar perlngkapan yang dibutuhkan oleh personel sekolah dalam kondisi siap pakai.
Dalam pemeliharaan sarana dan prsarana pendidikan di sekolah jika ditinjau dari sifat maupun waktunya terdapat beberapa macam, yaitu :
1)      Ditinjau dari Sifatnya : pemeliharaan yang bersifat pengecekan, pencegahan, perbaikan ringan, dan perbaikan berat
2)      Ditinjau dari waktu pemeliharaannya : pemeloharaan sehari-hari (membersihkan ruang dan perlengkapannya) dan pemeliharaan berkala seperti pengecetan dinding, pemerikasaan bangku, genteng dan perabotan lainnya.
5.      Penghapusan sarana dan prasarana pendidikan islam
Penghapusan sarana dan prasarana pendidikan adalah egiatan meniadakan barang-barang milik lembaga (milik Negara) dari daftar inventaris dengan cara berdasarkan perundang-undangan yang berlaku.
Tujuan penghapusan[19] :
1)      Mencegah dan membatasi kerugian yang lebih besar sebagai akibat pengeluaran dana untuk perbaikan perlengkapan yang rusak
2)      Mencegah terjadinya pemborosan biaya pengamanan yang tidak berguna lagi
3)      Membebaskan lembaga dari tanggung jawab pemeliharaan dan pengamanan
4)      Meringankan beban invenarisasi.
Barang-barang yang memenuhi syarat untuk di hapus adalah :
1)      Barang-barang dalam keadaan rusak beray sehingga tidak dapat dimanfaatka lagi
2)      Barang-barang yang tidak sesuai dengan kebutuhan
3)      Barang-barang kuno yang penggunaanya sudah tidak efisien lagi
4)      Barang-barang yang terkena larangan
5)      Barang-barang ynag mengalami penyusutan di luar kekuasaan pengurus barang
6)      Barang-barang yang pemeliharaannya tidak seimbang dengan kegunaannya
7)      Barang-barang yang berlebihan dan tidak digunakan lagi.
8)      Barang-barang yang di curi
9)      Barang-barang diselewengkan
10)  Barang-barang yang terbakar dan musnah akibat bencana alam
Dalam penghapusan barang ini, kepala sekolah beserta stafnya hendaknya mengelompokkan dan mendata barang-barang yang akan dihapus kemudian mengajukan usulan penghapusan beserta lampiran jenis barang yang akan dihapus ke Diknas / Departemen Agama.setelah SK dari kantor pusat tentang penghapusan barang terbit maka dapat dilakukan penghapusan barang sesuai berita acara yang ada. Penghapusan barang ini dapat dilakukan dengan cara pemusnahan atau pelanggan.
6.      Lain-lain.
Masalah lain yang perlu diperhatiakn ialah perusakan yang sering dilakukan oleh siswa yang “gatal tangan”.perilaku ini banyak banyak penyebabnya antara lain adanya rasa kurang aman, frustasi, balas dendam karena merasakan ketidak adilan dan perkelaian antar kelompok. Upaya yang dapat dilakukan antara lain :
ü  Bangkitkan rasa bangga akan keindahan dan keunikan sekolah. Ini harus dicontohkan oleh aparat kepala sekolah, guru dan aparat lainnya. Ajaran agama tentang kebersiahan dapat membantu disini.
ü  Siapkan bangunan dalam kondisi prima pada tahun ajaran baru. Itu dilakukan dalam liburan sekolah. Dinding dibersihkan dan lainlain demikian juga.
ü  Ketertiban dikelas harus terkendali. Hal-hal kecil jangan dibiarkan kadang-kadang tanpa diketahui hal kecil itu berkembang menjadi persoalan besar.
ü  Janganlah mengatakan bahwa ank-anak itu nakal hanya karena membuat coretan itu bersama anak itu tadi. Boleh dinasehati agar tidak membuat coretan lagi.
Dalam hal menanggulangi kenakalan pelajar, fungsi guru agam diperkirakan cukup besar. Kerjasama guru agama dengan seluruh aparat sekolah perlu dipererat.
Pemeliharaan sarana dan prasarana sebenarnya memerlukan dana yang cukup besar, ini tidak bias dihindari. Tujuannya antara lain supaya sarana prasarana tidak cepat rusak, disebabkan pengaruhnya besar pada kesuksesan Pendidikan islam.[20]


BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas, dapat di simpulkan:
1.      Hubungan masyarakat (public relation) didefinisikan sebagai seni dan ilmu untuk menganalisis kecenderungan, memprediksi konsekuensi-konsekuensi, menasehati para pemimpin organisasi, dan melaksanakan program yang terencana mengenai kegiatan-kegiatan yang melayani, baik kepentingan organisasi maupun kepentingan publik.
2.      Adapun fungsi Humas adalah sebagai berikut:
a.       Memberikan penerangan kepada masyarakat.
b.      Melakukan persuasi untuk mengubah sikap dan perbuatan masyarakat secara langsung.
c.       Berupaya untuk mengintegrasikan sikap dan perbuatan suatu badan/ lembaga sesuai dengan sikap dan perbuatan masyarakat atau sebaliknya.
3.      Program kerja Humas dibagi menjadi dua, yaitu:
a.       Program kerja rutin
b.      Program kerja insidentil
4.      Manajemen sarana dan prasarana pendidikan dapat didefinisikan sebagai proses kerja sama pendayagunaan semua sarana dan prasarana pendidikan secara efektif dan efisien.










DAFTAR PUSTAKA

·         Sulistyorini.2006. Manajemen Pendidikan Islam. Surabaya : ELKAF.
·         Marno, M.Ag dan Supriyatno Triyo, S.Pd,M.Ag, 2008. Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam. Bandung: Refika Aditama
·         Nasution, Zulkarnain. 2010. Manajemen Humas di Lembaga Pendidikan. Malang: UMM press



[1] Marno dan Triyo Supriyatno, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam, hlm: 95-97
[2] Zulkarnain Nasution, Manajemen Humas di Lembaga Pendidikan, hlm: 31-31
[3] Sulistyorini, Manajemen Pendidikan Islam, hlm: 110
[4] Ibid, hlm: 111
[5] Ibid, hlm:114-116
[6] Ibid, hlm: 116-117
[7] Marno dan Triyo Supriyatno, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam, hlm: 97-99
[8] Sulistyorini, Manajemen Pendidikan Islam, hlm: 123-126
[9] Ibid, hlm: 27-30
[10] Marno dan Triyo Supriyatno, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam, hlm: 99-103
[11] Zulkarnain Nasution, Manajemen Humas di Lembaga Pendidikan, hlm: 95-96
[12] Ibid, hlm: 100-103
[13] Ibid, hlm: 115-124
[14] Sulistyorini, Manajemen Pendidikan Islam, hlm: 85
[15] Ibid, hlm:86
[16] Ibid, 87
[17] Ibid, hlm: 89
[18] Hery Noer Aly, ilmu pendidikan islam, ( Jakarta: logos, 1999), hal. 154
[19] Ibid, hlm: 94
[20] Sulistyorini, Manajemen Pendidikan Islam, hlm:

1 komentar:

  1. Casino.com Archives - ScoopGo
    Casino.com Archives - ScoopGo.com's collection of online gri-go.com casino and sports betting https://sol.edu.kg/ tips, casino games, video slots, live dealer worrione games and septcasino more! ford escape titanium

    BalasHapus