Rabu, 23 September 2015

Psikologi Perkembangan "EMOSI"



BAB 1
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Bidang ilmu yang sering kita sebut sebagai ilmu jiwa yaitu Psikologi, mempelajari banyak hal yang berhubungan dengan jiwa manusia. Hal- hal tersebut diantaranya perasaan manusia, perilaku manusia, kebiasaan yang dilakukannya, serta emosi manusia pun turut di bahas di dalamnya. Dalam psikologi, emosi merupakan kajian yang penting yang perlu di bahas karena dalam kehidupan manusia sehari- hari tak pernah luput dari gejala- gejala emosi. Berbagai peristiwa yang sering terjadi yakni ketika manusia tidak lagi mendapatkan sesuatu yang diinginkan, mendapatkan sebuah masalah, mengalami kerugian, atau bahkan persoalan mengenai perasaan manusia. Hal itu yang menjadikan manusia meluapkan emosinya karena tidak dapat mengontrol atau mengendalikan dirinya sendiri terhadap keadaan yang dialaminya.
Selain itu emosi pada hakikatnya bukanlah gejala negative dari perasaan manusia, namun emosi juga memiliki gejala- gejala positive seperti perasaan senang, bahagia, dan ceria. Emosi bukanlah suatu kejadian yang dialami manusia sekali dua kali dalam hidupnya, namun merupakan gejala yang terjadi setiap hari dimana manusia akan memunculkan hal tersebut sesuai dengan kondisi yang dialaminya.emosi juga mengalami perkembangan sesuai dengan bergantinya kondisi dan usia manusia. Dimana kita perlu mempelajari tahapan emosi pada fase dasar hingga dewasa serta mengkajinya secara lebih ilmiah.
Pertumbuhan dan perkembangan emosi dapat dilihat dari tingkah laku manusia itu sendiri, yang ditentukan oleh proses belajar dan pematangan. Pada umumnya perbuatan kita sehari- hari selalu disertai perasaan- perasaan tertentu, yaitu perasaan senang ataupun perasaan tidak senang. Perbedaan antara emosi dan perasaan tidak dapat dinyatakan dengan tegas, karena keduanya merupakan suatu hal yang bersifat kualitatif yang tak ada batasnya.



B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa yang dimaksud dengan emosi ?
2.      Bagaimana tahapan- tahapan perkembangan emosi peserta didik?
3.      Bagaiman implikasi perkembangan emosi peserta didik delam proses pembelajaran ?





BAB 2
PEMBAHASAN
A.      PENGENALAN EMOSI
1.      Pengertian Emosi
Secara etimologi, emosi berasal dari kata Prancis “emotion” yang berasal lagi dari “emouvoir”, “excite”, yang berdasarkan kata Latin “emovere”, yang terdiri dari kata- kata “e” (variant atau ex), artinya ‘keluar’ dan “movere” artinya bergerak. Dengan demikian, secara etimologi emosi berarti “bergerak keluar”. [1]
Meskipun keadaan yang tenang itu dianggap sebagai keadaan yang norma, namun dalam kehidupan modern keadaan emosional itu lebih mewarnai sifat seseorang. Dalam tempo kehidupan modern, emosi itu perlu sekali difahami karena mempunyai pengaruh yang besar terhadap tingkah laku, kepribadian, dan kesehatan.[2]
Pada awal sejarahnya, pendiri psikologi yaitu William James yang memahami emosi sebagai sebuah hasil dari reaksi perilaku kita terhadap sebuah stimulus yang menghasilkan reaksi tersebut. Contohnya, ketika kita melihat seekor beruang kita akan lari secepatnya darinya, dan kita akan menginterpretasikan perilaku lari, debaran jantung, dan perubahan lain pada tubuh kita sebagai emosi yang kita sebut “takut”. Selanjutnya Buck (1976) menyempurnakan definisi dari emosi:
“ ….is defined in term of feelings: subjective experiences of arousal, pleasure or displeasure, and the specific “primary affects” of anger, fear, happiness, sadness, surprise, and disgust. In addition, the concept of emotion is often associated with expressive behavior such as snarling; and with peripheral physicological responding; such as heart rate change, sweating, and defacation.”
Dari definisi diatas dapat dipahami bahwa emosi didefinisikan sebagai perasaan yang subjektif dan di asosiasikan dengan serangkaian perilaku tampak tertentu, seperti: senyum, muka merah, gemeretak rahang, serta respon fisik peripheral semacam debaran jantung, berkeringat, atau gangguan pencernaan. Emosi adalah perasaan mendalam yang diikuti adanya perubahan elemen kognitif maupun fisik, dan memengaruhi perilaku.[3]
Emosi dapat berupa perasaan marah, ketakutan, kebahagiaan, cinta, rasa terkejut, jijik, dan rasa sedih (Goleman,2005).
Menurut Lazarus (1991), emosi adalah suatu keadaan yang kompleks pada diri organisme, yang meliputi perubahan secara badaniah- dalam bernafas, detak jantung, perubahan kelenjar, dan kondisi mental, seperti keadaan menggembirakan yang ditandai dengan perasaan yang kuat dan biasanya disertai dengan dorongan yang mengacu pada suatu bentuk perilaku. Jika emosi terjadi sangat intens, biasanya akan mengganggu fungsi intelektual. Variable emosi terdiri dari dua bentuk yaitu :
a.       Action, berupa perilaku menyerang, menghindar, mendekat atau menjauh dari tempat atau orang, menangis, ekspresi wajah, dan postur tubuh.
b.      Physiological reaction, berupa aktivitas system saraf otonomi, aktivitas otak, dan sekresi hormonal.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa emosi lebih sebagai reaksi yang terpola dan erat juga kaitannya dengan proses ‘coping’ sebagai upaya pemecahan masalah dalam kehidupan individu.[4]
Istilah emosi menurut Daniel Goleman (1995), seorang pakar kecerdasan emosional, memaknai emosi sebagai setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu, setiap keadaan mental yang hebat dan meluap-luap. Dia juga mengatakan bahwa emosi merujuk kepada suatu perasaan dan pikiran-pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak.
Chaplin (1989) dalam ‘dictionary of psychology’ mendefinisika emosi sebagai suatu keadaan yang terangsang dari organism mencakup perubahan- perubahan yang disadari, yang mendalam sifatnya dari perubahan perilaku. Chaplin (1989) membedakan emosi dengan perasaan, dan dia mendefinisikan perasaan (feelings) adalah pengalaman disadari yang diaktifkan baik oleh perangsang eksternal maupun oleh bermacam-macam keadaan jasmaniah.
Definisi lain menyatakan bahwa emosi adalah suatu respons terhadap suatu perangsang yang menyebabkan perubahan fisiologis disertai perasaan yang kuat dan biasanya mengandung kemungkinan untuk meletus. Respons demikian terjadi baik terhadap perangsang- perangsang eksternal maupun internal ( Soegarda Poerbakawatja, 1982). Dengan definisi ini semakin jelas perbedaan anatara emosi dengan perasaan, dan tampak jelas bahwa perasaan adalah bagian dari emosi.[5]
Sukmadinata(2003) memberikan definisi emosi sebagai perpaduan dari beberapa perasaan yang mempunyai intensitas yang relative tinggi dan menimbulkan suatu gejolak suasana batin. Seperti halnya perasaan, emosi juga membentuk suatu kontinum, bergerak dari emosi positif hingga yang bersifat negative.
Sementara itu, Crow dan Crow dalam Sunarto dan Hartono (2002:149), memberikan pengertian emosi sebagai pengalaman afektif yang disertai penyesuaian diri dalam diri individu tentang keadaan mental dan fisik, dan berwujud suatu tingkah laku yang Nampak.
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa emosi adalah perasaan bathin seseorang, baik berupa pergolakan pikiran, nafsu, keadaan mental dan fisik yang dapat muncul atau termanifestasi ke dalam bentuk- bentuk atau gejala- gejala seperti takut, cemas, marah, murung, kesal, iri, cemburu, senang, kasih sayang, dan ingin tau.
Emosi dapat muncul sebagai reaksi fisiologis, perasaan, dan perubahan perilaku yang tampak. Secara umum emosi mempunyai fungsi untuk mencapai suatu pemuasan, pemenuhan, atau perlindungan diri, atau bahkan kesejahteraan pribadi pada saat keadaan tidak nyaman dengan lingkungan atau objek tertentu.[6]
Dari pengertian- pengertia mengenai emosi diatas, dapat disimpulkan bahwa definisi dari emosi adalah reaksi penilaian (positif-negatif) yang kompleks dari system syaraf seseorang terhadap rangsangan dari luar atau dari dalam dirinya sendiri. Hal itu menggambarkan bahwa emosi diawali dengan adanya suatu rangsangan, baik dari luar (benda, manusia, cuaca), maupun dari dalam (tekanan darah, kadar gula, lapar, ngantuk, segar, dll), pada indra-indra kita. Selanjutnya kita (orang atau individu) menafsirkan persepsi kita atas rangsangan itu sebagai suatu hal yang positif (menyenangkan, menarik) atau negative (menakutkan, ingin menghindar) yang selanjutnya kita terjemahkan ke dalam respons- respons fisiologis dan motoris (jantung berdebar, mulut menganga, bulu roma berdiri, mata merah, dan sebagainya) dan pada saat itulah terjadi emosi.[7]

2.      Emosi dalam Perspektif Al- Qur’an
Hikmah Allah SWT. Menuntut agar manusia, demikian pula hewan, membekali dirinya dengan emosi yang juga akan membantunya dalam kelangsungan hidupnya. Emosi takut misalnya, akan mendorong kita untuk menjauhi bahaya yang mengancam hidup kita. Emosi marah akan mendorong kita untuk mempertahankan diri dan berjuang demi kelangsungan hidup. Emosi cinta merupakan dasar keharmonisan antara dua insane yang berbeda jenis dan daya tarik keduanya adalah untuk menjaga kelangsungan keturunan.
Emosi akan mengarahkan perilaku seperti halnya motif. Emosi takut akan mendorong manusia untuk lari dari bahaya. Emosi marah akan mendorong manusia untuk mempertahankan diri dan terkadang juga mendorongnya pada permusuhan. Emosi cinta akan mendorong manusia untuk mendekatkan diri kepaada objek yang dicintainya.
Dalam Al-Qur’an dikemukakan gambaran yang cermat tentang berbagai emosi yang dirasakan manusia, seperti takut, marah, cinta, senang, benci, cemburu, hasud, sesal, malu, dan sebagainya.
Emosi takut termasuk emosi yang penting dalam kehidupan manusia. Seperti rasa takut, manfaat takut tidak hanya terbatas pada menjaga manusia dari bahaya yang mengancam pada kehidupan duniawi, tetapi juga manfaat paling penting adalah mendorong orang mukmin agar menjaga diri dari azab Allah SWT, pada kehidupan akhirat. Dengan demikian, takut kepada siksaan Allah SWT akan mendorong orang mukmin agar tidak terjerumus ke dalam kemaksiatan, berpegangan pada ketakwaan, teratur dalam beribadah kepada Allah SWT dan mengerjakan amal- amal yang di-Ridhoi-Nya.
Artinya: “ sesungguhnya orang- orang yang beriman adalah mereka yang apabila menyebut nama Allah gemetar hatinya dan apabila dibacakan ayat- ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.”[8]
Emosi takut adalah suatu kondisi berupa gangguan yang tajam yang dapat menimpa semua individu. Al-Qur’an menggambarkan gangguan tersebut dengan keguncangan hebat yang mengguncang manusia dengan hebat sehingga menghilangkan kemampuan berpikir dan pengendalian diri.
Al-Qur’an juga menjelaskan tentang cinta kepada Allah SWT adalah tujuan setiap mukmin. Cinta kepada Allah SWT merupakan kekuatan pendorong untuk takut kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.
Cinta seorang mukmin kepada Allah SWT akan melampaui cintanya kepada dirinya, anak-anak, istri, ibu, bapak, keluarga, dan hartanya. 
Artinya: “ Katakanlah, jika bapak- bapakmu, anak- anakmu, istri- istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah- rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya. Dan Allah tidak member petunjuk kepada orang- orang fasik.”[9]
Cinta dan ibadah seorang mukmin kepada Allah SWT merupakan kebutuhan yang paling luhur dan tujuan yang paling puncak. Dengan cinta dan ibadah itu, seorang mukmin dapat mewujudkan sebesar- besarnya kebahagiaan, kegembiraan, kesenangan, keamanan, dan ketentraman, baik dunia maupun akhirat.[10]
                 
3.       Teori- Teori Emosi
a.       Teori Sentral
Teori sentral ini dikemukakan oleh Walter B. Canon. Menurut teori ini, gejala kejasmanian termasuk tingkah laku merupakan akibat emosi yang dialami oleh individu. Jadi, individu mengalami emosi lebih dahulu baru kemudian mengalami perubahan- perubahan dalam jasmaninya. Dengan demikian menurut teori ini dapat dikatakan bahwa emosilah yang menimbulkan tingkah laku dan bukan sebaliknya.[11]
b.      Teori Peripheral
Menurut teori ini justru sebaliknya dari teori sentral. Teori ini mengemukakan bahwa gejala- gejala kejasmanian bukanlah merupakan akibat dari emosi yang dialami oleh individu, melainkan emosi yang dialami oleh individu itu sebagai akibat dari gejala- gejala kejasmanian. Menurut teori ini bukannya seseorang takut hingga lari, melainkan karena lari menyebabkan seseorang menjadi takut. Demikian pula seseorang tidak menangis karena susah, tetapi sebaliknya susah karena menangis. Jelasnya, seseorang yang takut itu disebabkan karena adanya ketegangan otot akibat lari.
Teori ini dikemukakan oleh James dan Lange (1884-1885), dua orang tokoh dari dua tempat, mengemukakan teori yang sama dalam waktu yang berurutan. James adalah Psikolog kebangsaan Amerika, sedangkan Lange Psikolog dari Denmark. Oleh karena itu teori ini sering disebut teori James-Lange, yang lebih menitikberatkan pada hal- hal yang bersifat sentral.[12]
James- Lange mengemukakan proses- proses terjadinya emosi dihubungkan dengan factor fisik dengan urutan sebagai berikut:
1.      Mempersepsikan situasi di lingkungan yang mungkin menimbulkan emosi
2.      Memberikan reaksi terhadap situasi dengan pola khusus melalui aktivitas fisik
3.      Mempersiapkan pola aktivitas fisik yang mengakibatkan munculnya emosi secara khusus.
Uraian ini dapat disingkat menjadi :
Lingkungan- Otak- Perubahan pada Tubuh+ Emosi
James- Lange menghasilkan lima tingkatan emosi dalam proses emosi yang terdiri dari:
a.       Situasi
b.      Persepsi tentang situasi
c.       Perubahan- perubahan dalam tubuh
d.      Perbuatan yang terlihat, misalkan melarikan diri dari bahaya
e.       Keadaan sadar dari emosi[13]
c.       Teori Kepribadian
Menurut teori ini, emosi merupakan suatu aktivitas pribadi dimana pribadi tidak dapat dipisahkan dalam jasmani dan psikis sebagai dua substansi yang terpisah karena itu, maka emosi meliputi pula perubahan- perubahan kejasmanian.[14]
d.      Teori Kedaruratan Emosi
Teori ini dikemukakan oleh Cannon. Teori ini mengemukakan bahwa reaksi yang mendalam dari kecepatan jantung yang semakin bertambah akan menambah cepatnya aliran darah menuju ke urat-urat, hambatan pada pencernaan, pengembangan atau pemuaian kantung- kantung di dalam paru- paru dan proses lainnya yang mencirikan secara khas keadaan emosional seseorang, kemudian menyiapkan organism untuk melarikan diri atau berkelahi, sesuai dengan penilaian terhadap situasi yang ada oleh otak (Chaplin,1989).
Diskusi dalam khazanah psikologi tentang masalah emosi adalah mengenai hubungan antara perasaan dengan emosi dan juga hubungan antara emosi dengan motivasi. Pengalaman menunjukkan bahwa apabila seseorang termotivasi maka akan terangsang secara emosional untuk melakukan suatu kegiatan dengan intensitas tinggi. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa emosi berhubungan erat dengan motivasi.
Berdasarkan uraian diatas, kita sependapat bahwa perbuatan atau tingkah laku seseorang merupakan akibat dari emosi yang dialami orang tersebut, bukan sebaliknya. Sebagaimana dicontohkan diatas, seseorang bukan susah karena menangis, melainkan seseorang menangis karena susah. Hubungannya dengan motivasi adalah karena termotivasi, seseorang kemudian mengalami emosi yang pada akhirnya berbuat sesuatu atau bertingkah laku tertentu.[15]
Teori Emosi Dasar
Nama Pakar
Emosi Dasar
Dasar Pengambilan Kesimpulan
Arnold
Marah, enggan, berani, kecewa, hasrat, putus asa, takut, benci, berharap cinta, sedih
Hubungan dengan kecenderungan- kecenderungan
Ekman, Friesen, dan Ellsworth
Marah, jijik, takut, gembira, sedih, kejutan
Ekspresi wajah universal
Frijda
Hasrat, bahagia, minat, kejutan, kaget, duka
Bentuk kesiapan bertindak
Gray
Gusar, terror,cemas, gembira
Bakat
Izard
Marah, jijik, tidak suka, stress, takut, rasa bersalah, minat, gembira, malu, kejutan
Bakat
James
Takut, duka, cinta, gusar
Keterlibatan tubuh
McDougall
Marah, jijik, gembira, takut, tidak berdaya, perasaan lembut, kagum
Hubungan dengan naluri
Mowrer
Sakit, senang
Keadaan emosi yang tidak di pelajari
Oatley dan Johnson Laird
Marah, jijik, cemas, bahagia, sedih
Tidak memerlukan tujuan tertentu
Panksepp
Berharap, takut, gusar, takut, panic
Bakat
Plutchik
Pasrah, marah, antisipasi, jijik, gembira, takut, sedih, kejutan
Hubungan dengan proses adaptasi biologis
Tomkins
Marah, inerest, jijik, tidak suka, stress, takut, gembira, malu, kejutan
Besarnya rangsangan syaraf
Watson
Takut, cinta, gusar
Bakat
Weiner dan Graham
Bahagia, sedih
Atribusi mandiri
Tebel diatas merupakan teori emosi dasar menurut para pakar psikologi.[16]

4.      Bentuk- Bentuk Emosi
Meskipun emosi itu sedemikian kompleksnya, namun Daniel Goleman (1995) mengidentifikasi sejumlah kelompok emosi, yaitu sebagai berikut:
a.       Amarah, didalamnya meliputi brutal, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa pahit, berang, tersinggung, bermusuhan, tindak kekerasan, dan kebencian patologis.
b.      Kesedihan, meliputi pedih, sedih muram, suram, melankolis, mengasihani diri, kesepian, ditolak, putus asa, dan depresi.
c.       Rasa takut, meliputi cemas, takut, gugup, khawatir, waswas, perasaan takut sekali, sedih, waspada, tidak tenang, ngeri, kecut, panic, dan fobia.
d.      Kenikmatan, meliputi bahagia, gembira, ringan puas, riang, senang, terhibur, bangga, kenikmatan indrawi, takjub, terpesona, puas, rasa terpenuhi, girang, senang sekali, dan mania.
e.       Cinta, di dalamnya meliputi penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kasmaran dan kasih sayang.
f.       Terkejut, meliputi terkesiap, takjub, terpana.
g.      Jengkel, meliputi hina, jijik, muak, mual, benci, tidak suka dan mau muntah.
h.      Malu, di dalamnya meliputi rasa bersalah, malu hati, kesal hati, menyesal, hina, aib, dan hati hancur lebur.
Dari daftar emosi tersebut, berdasarkan temuan penelitian Paul Ekman dari University of California di San Fransisco (Goleman,1995) ternyata ada bahasa emosi yang terkenal oleh bangsa- bangsa di seluruh dunia yaitu emosi yang diwujudkan dalam bentuk ekspresi wajah yang di dalamnya mengandung emosi takut, marah, sedih, dan senang. Ekspresi wajah seperti ini benar- benar dikenali oleh bangsa- bangsa di seluruh dunia meskipun memiliki budaya yang berbeda, bahkan termasuk bangsa- bangsa yang buta huruf, tidak terpengaruh oleh film, dan siaran televisi. Dengan demikian ekspresi wajah sebagai representasi dari emosi itu memiliki universalitas tentang perasaan emosi tersebut. Kesimpulan ini diambil setelah Paul Ekman melakukan penelitian dengan cara memperlihatkan foto- foto wajah yang menggambarkan ekspresi- ekspresi emosi tersebut diatas kepada orang-orang yang memiliki keterpencilan budaya, yaitu suku Fore di Papua Nugini, suku terpencil berkebudayaan Zaman Batu di dataran tinggi terasing. Hasilnya ternyata mereka semua mengenali emosi yang tergambar pada ekspresi wajah dalam foto- foto tersebut.[17]

5.      Fungsi Emosi
Secara ringkas, fungsi emosi dapat dipaparkan sebagai berikut:
a.       Membantu persiapan tindakan (preparing us for action). Emosi bertindak sebagai penghubung antara peristiwa eksternal di lingkungan dengan respon perilaku individu. Sebagai contoh, apabila kita bertenu seekor anjing yang kelihatan sedang marah, reaksi emosi (rasa takut) akan diasosiasikan dengan terbangkitnya fisiologis yaitu divisi sympathetic dari system syaraf otonom. Selanjutnya divisi sympathetic menyiapkan kita akan sebuah tindakan darurat yaitu lari secepat mungkin.
b.      Membentuk perilaku akan datang (shaping our future behavior). Emosi membantu kita menyadiakan simpanan respon untuk perilaku di masa datang. Sebagai contoh, respon emosional yang diambil seseorang ketika dikejar anjing (takut hingga degup jantung bertambah cepat) memberitahu orang orang tersebut untuk menghindari tempat atau situasi yang serupa di masa datang. Serupa, emosi yang menyenangkan bertindak sebagai reinforcement yang mengajarkan orang untuk mencari situasi yang serupa dengan situasi menyenangkan tersebut, termasuk perilaku apa yang seharusnya dilakukan. Contohnya, adalah emosi cinta yang kita rasakan saat bertemu kekasih. Ada degup jantung yang berdebar dan muka memerah, membuat kita ingin terus bertemu.
c.       Membantu kita untuk mengatur interaksi social (helping us to regulate social interaction). Ekspresi yang diekspresikan menjadi sinyal dan membantu kita dalam berinteraksi, khususnya bagaimana seharusnya perilaku kita. Sebagai contoh ketika kita bertemu teman yang sedang tampak sedih tanpa kita mengetahui sebabnya, namun ekspresi sedihnya tersebut memberi tahu kita bahwa sebaiknya kita jangan mengajak bergurau.[18]

6.      Pengelompokan Emosi
Menurut Syamsu Yusuf (2003) emosi individu dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian yaitu:
a.       Emosi sensoris
Yaitu emosi yang ditimbulkan oleh rangsangan dari luar terhadap tubuh, seperti rasa dingin, manis, sakit, lelah, kenyang, lapar.
b.      Emosi psikis
Yaitu emosi yang mempunyai alasan- alasan kejiwaan seperti perasaan intelektual, yang berhubungan dengan ruang lingkup kebenaran perasaan social, yaitu perasaan yang terkait dengan hubungan dengan orang lain, baik yang bersifat perorangan maupun kelompok. Emosi psikis terdiri dari:
-          Perasaan susila, yaitu perasaan yang berhubungan dengan nilai- nilai baik dan buruk atau etika (moral)
-          Perasaan keindahan, yaitu perasaan yang berhubungan dengan keindahan akan sesuatu, baik yang bersifat kebendaan maupun kerohanian
-          Perasaan ke-Tuhanan, sebagai fitrah manusia sebagai makhluk Tuhan (Homo Divinas) dan makhluk beragama (Homo Religious)
-          Perasaan intelektual, yaitu yang mempunyai sangkut paut dengan ruang lingkup kebenaran. Perasaan ini diwujudkaan dalam bentuk rasa yakin dan tidak yakin terhadap suatu karya ilmiah, rasa gembira kerena mendapatkan suatu kebenaran, rasa puas karena dapat menyelasaikan persoalan- persoalan ilmiah yang harus dipecahkan
-          Perasaan social, yaitu perasaan yang menyangkut hubungan dengan orang lain, baik bersifat perorangan maupun kelompok. Wujud perasaan ini seperti rasa solidaritas, persaudaraan, simpati, dan sebagainya.[19]

7.      Hubungan antara Emosi dan Tingkah Laku
Melalui teori ‘kecerdasan emosional yang dikembangkan oleh Daniel Goleman (1995) mengemukakan sejumlah cirri utama pikiran emosional sebagai bukti bahwa emosi memainkan peranan penting dalam pola berfikir maupun tingkah laku individu. Adapun cirri utama pikiran emosional tersebut adalah sebagai berikut:
a.       Respons yang cepat tapi ceroboh
Bahwa pikiran yang emosional itu ternyata jauh lebih cepat daripada pikiran yang rasional karena pikiran emosional sesunggunya langsung melompat bertindak tanpa mempertimbangkan apapun yang akan dilakukannya. Karena kecepatannya itu sehingga sikap hati- hati dan proses analitis dalam berfikir dikesampingkan begitu saja sehingga tidak jarang menjadi ceroboh. Padahal kehati-hatian dan analitis itu sesungguhnya merupakan cirri khas dari proses kerja akal dalam berpikir. Namun demikian di sisi lain, pikiran emosional juga memiliki suatu kelebihan, yaitu membawa rasa kepastian yang sangat kuat dan di luar jangkauan normal sebagaimana sebagaimana yang dilakukan pikiran rasional. Misalnya, seorang wanita yang karena sangat takut dan terkejutnya melihat binatang yang selama ini sangat di takutinya sehingga dia mampu melompati parit yang menurut ukuran pikiran rasional tidak akan mungkin dapat dilakukannya.
b.      Mendahulukan perasaan kemudian pikiran
Pada dasarnya pikiran rasional sesungguhnya membutuhkan waktu sedikit lama dibandingkan dengan pikiran emosional sehingga dorongan yang terlebih dahulu muncul adalah dorongan hati atau emosi, kemudian dorongan pikiran. Dalam urutan respons yang cepat perasaan mendahului atau minimal berjalan serempak dengan pikiran. Reaksi emosional gerak cepat ini lebih tampak menonjol dalam situasi- situasi yang mendesak dan membutuhkan tindakan penyelamatan diri. Keputusan model ini menyiapkan individu dalam sekejap untuk siap siaga menghadapi keadaan darurat. Disinilah keuntungan keputusan- keputusan cepaat yang didahului oleh perasaan atau emosi. Namun demikian, di sisi lain ada juga reaksi emosional jenis lambat yang lebih dahulu melakukan penggodokan dalam pikiran sebelum mengalirkannya ke dalam perasaan. Keputusan model kedua ini sifatnya lebih disengaja dan biasanya individu lebih sadaar terhadap gagasan- gagasan yang akan dikemukakannya. Dalam reaksi emosional jenis ini, ada suatu pemahaman yang lebih luas dan pikiran memainkan peranan kunci dalam menentukan emosi- emosi apa yang akan dicetuskannya.
c.       Memperlakukan realitas sebagai realitas simbolik
Logika pikiran emosional yang disebut juga logika hati bersifat asosiatif. Artinya memandang unsure- unsure yang melambangkan suatu realitas itu sama dengan realitas itu sendiri. Oleh sebab itu, seringkali berbagai perumpamaan, pantun, kiasan, gambaran, karya seni, novel, film, puisi, nyanyian, opera dan teater secara langsung ditunjukkan kepada pikiran emosional. Para ulama, penyiar agama, dan paraguru spiritual termasyhur ketika menyampaikan ajaran- ajarannya senantiasa berusaha menyentuh hati para pengikutnya dengan cara berbicara dengan bahasa emosi, danmengajar melalui perumpamaan, fable, dan kisah- kisah yang sangat menyentuh perasaan. Oleh karena itu, ajaran orang- orang bijak dengan cepat mudah dimengerti, dihayati, dan diterima oleh para pengikutnya. Jika dilihat dari sudut pandang pikiran rasional, sesungguhnya symbol- symbol dan berbagai ritual keagamaan tidak sedemikian bermakna jika dibandingkan dengan sudut pandang pikiran emosional.
d.      Masa lampau diposisikan sebagai masa sekarang
Dan sudut pandang ini, apabila sejumlah cirri suatu peristiwa tampak serupa dengan kenangan masa lampau yang mengandung muatan emosi maka pikiran emosional akan menanggapinya dengan memicu perasaan yang berkaitan dengan peristiwa yang diingat. Pikiran emosional bereaksi terhadap keadaan sekarang seolah- olah keadaan itu adalah masa lampau. Kesulitannya adalah terutama apabila penilaian terhadap masa lampau itu cepat dan otomatis, barangkali kita tidak menyadari bahwa yang dahulu memang begitu, ternyata sekarang sudah tidak lagi seperti itu. Dalam konteks ini, Sigmund Freud melukiskan dengan begus sekali, yaitu bahwa seseorang pada masa anak- anak sering mendapat pukulan yang menyakitkan, setelah dewasa akan beraksi terhadap hardikan atau kemarahan dengan perasaan sangat takut atau kebencian, meskipun sebenarnya hardikan atau kemarahan itu tidak lagi menimbulkan ancaman seperti yang dialaminya pada masa lampau.
e.       Realitas yang ditentukan oleh keadaan
Pikiran emosional individu banyak ditentukan oleh keadaan dan di diktekan oleh perasaan tertentu yang sedang menonjol pada saat itu. Cara seseorang berfikir dan bertindak pada saat merasa senang dan romantis akan sangat berbeda dengan perilakunya ketika sedang dalam keadaan sedih, marah, atau cemas. Dalam mekanisme emosi itu ada repertoar pikiran, reaksi, bahkan ingatannya sendiri. Repertoar menjadi sangat menonjol pada saat disertai intensitas emosi yang tinggi.[20]
B.      PERKEMBANGAN EMOSI
1.      Faktor- Faktor yang Memengaruhi Perkembangan Emosi
Terdapat beberapa factor yang dapat memengaruhi perkembangan emosi pada diri seseorang, diantaranya:
a.       Perubahan jasmani atau fisik
Perubahan atau pertumbuhan yang berlangsung cepat selama masa puber menyebabkan keadaan tubuh menjadi tidak seimbang. Ketidakseimbangan ini memengaruhi kondisi psikis remaja. Tidak setiap remaja siap menerima perubahan yang dialami, karena tidak semuanya menguntungkan. Terutama perubahan tersebut memengaruhi penampilannya. Hal ini menyebabkan rangsangan di dalam tubuh remaja yang sering kali menimbulkan masalah dalam perkembangan psikisnya khususnya perkembangan emosinya.
b.      Perubahan dalam hubungan dengan orangtua
Pemberontakan terhadap orang tua mennjukkan bahwa mereka berada dalam konflik dan ingin melepaskan diri dari pengawasan orang tua. Mereka tidak merasa puas kalau tidak pernah sama sekali menunjukkan perlawanan terhadap orang tua karena ingin menunjukkan seberapa jauh dirinya telah berhasil menjadi orang yang lebih dewasa. Jika mereka berhasil dalam perlawanan terhadap orang tua sehingga orang tua menjadi marah, mereka pun belum merasa puas karena orang tua tidak menunjukkan pengertian yang mereka inginkan. Keadaan semacam ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan emosi remaja.
c.       Perubahan dalam hubungan dengan teman-teman
Remaja sering kali membangun interaksi sesame teman sebayanya secara khas dengan cara berkumpul untuk melakukan aktivitas bersama dengan membentuk sebuah genk. Interaksi dantar anggota dalam kelompok genk biasanya sangat intens serta memiliki solidaritas yang sangat tinggi. Pembentukan kelompok dalam bentuk genk sebaiknya dilakukan pada masa remaja awal karena biasanya bertujuan positif, yaitu untuk memenuhi minat mereka bersama. Usahakan dapat menghindari pembentukan genk pada masa remaja tengah ataupun remaja akhir. Karena pada masa ini para anggotanya biasanya membutuhkan teman- teman untuk melawan otoritas atau melakukan perbuatan yang tidak baik atau bahkan kejahatan bersama. Yang paling sering mendatangkan masalah adalah hubungan percintaan antara lawan jenis dikalangan remaja. Pada masa remaja tengah biasanya remaja benar- benar mulai jatuh cinta dengan lawan jenisnya. Gejala ini sebenarnya sehat bagi remaja, tetapi tidak jarang juga menimbulkan konflik atau gangguan emosi pada remaja jika tidak diikuti dengan bimbingan dari orang tua atau orang yang lebih dewasa. Oleh sebab itu, tidak jarang orang tua justru merasa tidak gembira atau bahkan cemas ketika anak remajanya jatuh cinta.
Gangguan emosional yang mendalam dapat terjadi ketika cinta remaja tidak terjawab atau karena pemutusan hubungan cinta dari satu pihak sehingga dapat menimbulkan kecemasan bagi orang tua dan bagi remaja itu sendiri. Percintaan dikalangan remaja juga terkadan menimbulkan konflik dengan orang tua, karena ada kekhawatiran dari pihak orangtua kalau terjadi hal- hal yang diluar batas sehingga mereka melarang anaknya pacaran.
d.      Perubahan pandangan luar
Factor penting yang dapat memengaruhi perkembangan emosi remaja selain perubahan- perubahan yang terjadi dalam diri remaja itu sendiri adalah pandangan dunia luar dirinya. Ada sejumlah pandangan dunia luar yang dapat menyebabkan konflik- konflik emosional dalam diri remaja, yaitu sebagai berikut :
-          Sikap dunia luar terhadap remaja sering tidak konsisten. Kadang- kadang mereka dianggap sudah dewasa, tetapi mereka tidak mendapat kebebasan penuh atau peran yang wajar sebagaimana orang dewasa. Seringkali mereka masih dianggap anak kecil sehingga menimbulkan kejengkelan pada diri remaja. Kejengkelan yang mendalam dapat berubah menjadi tingkah laku emosional.
-          Dunia luar atau masyarakat masih menerapkan nilai- nilai yang berbeda untuk remaja laki- laki dan perempuan. Kalau remaja laki- laki memiliki banyak teman perempuan mereka mendapat predikat popular dan mendatangkan kebahagiaan. Sebaliknya, apabila remaja perempuan memiliki banyak teman laki- laki sering dianggap tidak baik atau bahkan mendapat predikat yang kurang baik. Penerapan nilai yang berbeda semacam ini jika tidak disertai dengan pemberian pengertian secara bijaksna dapat menyebabkan bertingkah laku emosional.
-          Seringkali kekosongan remaja dimanfaatkan oleh pihak luar yang tidak bertanggung jawab, yaitu dengan cara melibatkan remaja tersebut ke dalam kegiatan- kegiatan yang merusak dirinya dan melanggar nilai- nilai moral. Misalnya, penyalahgunaan obat terlarang, minum minuman keras, serta tindak criminal dan kekerasan. Perlakuan dunia luar semacam ini akan sengat merugikan perkembangan emosional remaja.                                           
e.       Perubahan dalam hubungannya dengan sekolah
Pada masa anak- anak, sebelum menginjak masa remaja, sekolah merupakan tempat pendidikan yang diidealkan oleh mereka. Para guru merupakan tokoh yang sangat penting dalam kehidupan mereka karena selai tokoh intelektual, guru juga merupakan tokoh otoritas bagi para peserta didiknya. Oleh karena itu, tidak jarang anak- anak lebih percaya, lebih patuh, bahkan lebih takut kepada guru daripada kepada orangtuanya. Posisi guru semacam ini sangat strategis untuk pengembangan emosi anak melalui penyampaian materi- materi yang positif dan konstruktif.
Namun demikian, tidak jarang terjadi bahwa figure sebagai tokoh tersebut, guru memberikan ancaman- ancaman tertentu kepada para peserta didiknya. Peristiwa semacam ini sering tidak di sadari oleh para guru bahwa dengan ancaman- ancaman tersebut sebenarnya dapat menambah permusuhan saja dari anak- anak seteah anak- anak tersebut menginjak masa remaja. Cara- cara seperti ini akan memberikan stimulus negative bagi perkembangan emosi anak.
Dalam pembaruan, para remaja sering terbentur pada nilai- nilai yang tidak dapat mereka terima atau yang sama sekali bertentangan dengan nilai- nila yang yang menarik bagi mereka. Pada saat itu, timbullah idealisme untuk mengubah lingkungannya. Idealisme seperti ini tentunya tidak boleh diremehkan dengan anggapan bahwa semuanya akan muncul jika mereka sudah dewasa. Sebab, idealisme yang dikecewakan dapat berkembang menjadi tingkah laku emosional yang destruktif. Sebaliknya, kalau remaja berhasil diberikan penyaluran yang positif untuk mengembangkan idealismenya akan sangat bermanfaat bagi perkembangan mereka sampai memasuki mas dewasa.
Menginjak remaja mungkin mereka mulai menyadari betapa pentingnya pendidikan untuk kehidupan di masa mendatang. Hal ini sedikit banyak akan menyebabkan kecemasan sendiri bagi remaja. Lebih lanjut berkaitan dengan apa yang akan mereka lakukan setelah lulus.[21]
f.       Pengalaman traumatic
Kejadian- kejadian traumatis massa lalu dapat memengaruhi perkembangan emosi seseorang, dampaknya jejak rasa takut dan sikap terlalu waspada yang ditimbulkan dapat berlangsung seumur hidup. Kejadian- kejadian traumatis tersebut dapat bersumber dari lingkungan keluarga maupun lingkungan di luar keluarga (Astuti, 2005).
g.      Tempramen
Tempramen dapat didefinisikan sebagai suasana hati yang mencirikan kehidupan emosional kita. Hingga tahap tertentu masing- masing individu memiliki kisaran emosi sendiri- sendiri, tempramen merupakan bawaan sejak lahir, dan merupakan bagian dari genetic yang mempunyai kekuatan hebat dalam rentang kehidupan manusia (Astuti, 2005).
h.      Jenis kelamin
Perbedaan jenis kelamin memiliki pengaruh yang berkaitan dengan adanya perbedaan hormonal anatara laki- laki dan perempuan, peran jenis maupun tuntutan social yang berpengaruh pula terhadap adanya perbedaan karakteristik emosi diantara keduanya (Astuti, 2005).
i.        Usia
Perkembangan kematangan emosi yang dimiliki seseorang sejalan dengan pertambahan usianya. Hal ini di karenakan kematangan emosi dipengaruhi oleh tingkat pertumbuhan dan kematangan fisiologis seseorang. Ketika usia semakin tua, kadar hormonal dalam tubuh turut berkurang, sehingga mengakibatkan penurunan pengaruhnya terhadap kondisi emosi (Maloney, dalam Puspitasari Nuryoto, 2001).[22]
j.        Perubahan atau penyesuaian dengan lingkungan baru
a.       Perubahan yang radikal menyebabkan perubahan terhadap pola kehidupannya
b.      Adanya harapan social untuk perilaku yang lebih matang
c.       Aspirasi yang tidak realistis[23]

Selain hal- hal yang telah disebutkan diatasm kiranya factor- factor tersebut di kerucutkan menjadi dua factor yaitu :
a.       Factor internal, pada umumnya emosi seseorang muncul berkaitan erat dengan apa yang dirasakan seseorang secara individu. Adapun gangguan emosi yang mereka alami antara lain:
-          Merasa tidak terpenuhi kebutuhan fisik mereka secara layak sehingga timbul ketidakpuasan, kecemasan, dan kebencian yang mereka alami
-          Merasa dibenci dan di sia-siakan, tidak mengerti dan tidak diterima oleh lingkungan
-          Merasa lebih banyak dirintangi, dibantah, dipatahkan daripada diberi sokongan, dorongan, semangat
-          Merasa tidak mampu
b.      Factor eksternal, menurut Hulrlock dan Cole, factor yang memengaruhi emosi positif adalah sebagai berikut:
-          Orang tua dan guru memperlakukan mereka seperti anak kecil sehingga harga diri mereka terasa dilecehkan
-          Apabila di rintangi akan membina keakraban dengan lawan jenis
-          Disikapi tidak adil oleh orangtua
-          Merasa kebutuhannya tidak terpenuhi oleh orangtua
Sejumlah penelitian tentang emosi remaja menunjukkan bahwa perkembangan emosi mereka bergantung pada factor kematangan dan factor belajar. Kematangan dan belajar terjalin erat satu sama lain dalam memengaruhi perkembangan emosi. Perkembangan intelektual menghasilkan kemampuan untuk memahami makna sebelumnya yang tidak dimengerti dimana itu menimbulkan emosi terarah pada satu objek. Kemampuan mengingat juga memengaruhi reaksi emosional. Dan itu menyebabkan anak- anak menjadi reaktif terhadap rangsangan yang tadinya tidak memengaruhi mereka pada usia yang lebih muda.[24]
Sejumlah penelitian tentang emosi anak menunjukkan bahwa perkembangan emosi mereka bergantung kepada factor kematangan dan factor belajar (Hurlock,2002:154). Reaksi emosional yang tidak muncul pada awal kehidupan tidak berarti tidak ada, reaksi tersebut mungkin akan muncul di kemudian hari, dengan berfungsinya system endokrin. Kematangan dan belajar terjalin erat satu sama lainnya dalam mememngaruhi perkembangan emosi.
Untuk mencapai kematangan emosi, remaja harus belajar memperoleh gambaran tentang situasi yang dapat menimbulkan reaksi emosional. Adapun caranya adalah dengan membicarakan berbagai masalah pribadinya dengan orang lain. Keterbukaan perasaan dan masalah pribadi dipengaruhi sebagian oleh rasa aman dalam hubungan social dan sebagian oleh tingkat kesukarannya pada ‘orang sasaran’ (Hurlock, 2002:213).
Metode belajar yang menunjang perkembangan emosi antara lain :
a.       Belajar dengan coba- coba, anak belajar dengan coba- coba akan mengekspresikan emosi dalam bentuk perilaku yang memberikan pemuasan terbesar kepadanya, dan menolak perilaku yang memberikan pemuasan sedikit atau sama sekali tidak memberikan kepuasan. Cara belajar ini lebih umum digunakan pada masa anak- anak awal di bandingkan dengan sesudahnya.
b.      Belajar dengan meniru, dengan cara mengamati hal- hal yang membangkitkan emosi orang, anak- anak bereaksi dengan emosi dan metode ekspresi yang sama dengan yang diamati.
c.       Belajar dengan cara mempersamakan diri (learning by identification)
Anak menirukan reaksi emosional orang lain yang tergugah oleh rangsangan yang telah membangkitkan emosi yang ditiru. Disini mereka akan menirukan orang yang hanya dikagumi dan mempunyai ikatan emosional yang kuat dengannya.
d.      Belajar melalui pengkondisian
Denganmetode ini objek situasi yang pada mulanya gagal memancing reaksi emosional, kemudian dapat berhasil dengan cara asosiasi. Pengkondisian ini terjadi dengan mudah dan cepat pada tahun- tahun awal kehidupan. Pada masa remaja metode pengkondisian semakin terbatas pada perkembangan rasa suka dan tidak suka.
e.       Belajar di bawah bimbingan dan pengawasan, terbatas pada aspek reaksi (Sunarto, 2002).
Kepada remaja diajarkan cara bereaksi yang dapat diterima jika suatu emosi terangsang. Dengan pelatihan, mereka dirangsang untuk bereaksi terhadap rangsangan yang biasanya membangkitkan emosi yang menyenangkan dan di cegah agar tidak bereaksi secara emosional terhadap rangasangan yang membangkitkan emosi yang tidak menyenangkan.

2.      Tahapan Perkembangan Emosi
Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa anak- anak ke masa dewasa. Pada masa ini, remaja mengalami perkambangan mencapai kematangan fisik, mental, social, dan emosional. Umumnya, masa ini berlangsung sekitar umur 13 tahun sampai umur 18 tahun, yaitu masa anak duduk di bangku sekolah menengah. Masa ini biasanya dirasakan sebagai mas sulit, baik bagi remaja itu sendiri maupun bagi keluarga, atau lingkungannya.
Karena pada masa peralihan antara masa anak- anak dan masa dewasa, status remaja agak kabur, baik bagi dirinya maupun bagi lingkungannya. Conny Semiawan (1989) mengibaratkan: ‘terlalu besar untuk serbet, terlalu kecil untuk taplak meja’ karena sudah bukan anak- anak lagi tetapi juga belum dewasa. Masa remaja biasanya memiliki energy yang besar, emosi berkobar- kobar, sedangkan pengendalian diri belum sempurna. Remaja juga sering mengalami perasaan tidak aman, tidak tenang, dan khawatir kesepian.
Adapun karakteristik emosional remaja berusia 12-15 tahu adalah sebagai berikut :
a.       Pada usia ini seorang siswa/anak cenderung banyak murung dan tidak dapat diterka. Sebagian kemurungan sebagai akibat dari perubahan- perubahan biologis dalam hubungannya dengan kematangan seksual dan sebagian karena kebingungannya dalam menghadapi apakah dia masih sebagai anak- anak atau sebagai seorang dewasa.
b.      Bertingkah laku kasar untuk menutupi kekurangan dalam hal rasa percaya diri.
c.       Ledakan- ledakan kemarahan bias terjadi akibat dari kombinasi ketegangan psikologis, ketidakstabilan biologis, dan kelelahan karena bekerja terlalu keras atau pola makan tidak tepat atau tidur yang tidak cukup.
d.      Remaja cenderung tidak toleran terhadap orang lain dan membenarkan pendapatnya sendiri yang disebabkan kurangnya rasa percaya diri.
e.       Remaja mulai mengamati orang tua dan guru- guru mereka secara lebih objektif dan mungkun menjadi marah apabila mereka ditipu dengan gaya guru yang bersikap serba tau.

Sedangkan karakteristik emosional remaja usia 15-18 tahun yaitu :
a.       Pemberontakan remaja merupakan pernyataan- pernyataan ekspresi dari perubahan yang universal dari masa anak- anak ke dewasa.
b.      Banyak remaja yang mengalami konflik dengan orang tuanya. Mereka mengharapkan simpati dan nasihat orang tua atau guru.
c.       Remaja usia ini sering melamun, memikirkan masa depan mereka. Banyak diantara mereka terlalu tinggi menafsirkan kemampuan mereka sendiri dan merasa berpeluang besar untuk memasuki pekerjaan atau jabatan tertentu.[25]
Secara garis besar masa remaja dapat dibagi kedalam empat periode, yaitu periode praremaja, remaja awal, remaja tengah, dan remaja akhir. Adapun karakteristik tiap periode adalah sebagai berikut :
a.       Periode praremaja
Selama periode ini terjadi gejala- gejala yang hampir sama antara remaja pria maupun wanita. Perubahan fisik belum tampak jelas, tetapi pada remaja putrid biasanya memperlihatkan penambahan berat badan yang cepat sehingga mereka merasa gemuk. Gerakan- gerakan mereka mulai menjadi kaku. Perubahan ini disertai sifat kepekaan terhadap rangsangan dari luar dan respons mereka biasanya berlebihan sehingga mereka mudah tersinggung dan cengeng, tetapi juga cepat merasa senang atau bahkan meledak- ledak.
b.      Periode remaja awal
Selama periode ini perkembangan fisik yang semakin tampak adalah perubahan fungsi alat kelamin. Karena perubahan tersebut remaja seringkali mengalami kesukaran dalam menyesuaikan diri dengan perubahan- perubahan itu. Akibatnya, tidak jarang dari mereka cenderung menyendiri sehingga merasa terasing, kurang perhatian dari orang lain, atau bahkan merasa tidak ada orang yang mau mempedulikannya. Control terhadap dirinya bertambah sulit dan mereka cepat marah dengan cara- cara yang kurang wajar untuk meyakinkan dunia sekitarnya. Perilaku seperti ini sesungguhnya terjadi karena adanya kecemasan terhadap dirinya sendiri sehingga muncul dalam reaksi yang kadang- kadang tidak wajar.
c.       Periode remaja tengah
Tanggung jawab hidup yang harus semakin ditingkatkan oleh remaja, yaitu mampu memikul secara lebih bijaksana meskipun belum bias secara penuh. Mereka juga mulai memilih cara- cara sendiri juga menjadi masalah tersendiri bagi mereka. Karena tuntutan peningkatan tanggung jawab tidak hanya datang dari orangtua atau anggota keluarganya tetapi juga dari masyarakat sekitarnya. Tidak jarang masyarakat juga menjadi masalah bagi remaja. Melihat fenomena yang sering terjadi dalam masyarakat yang seringkali juga menunjukkan adanya kontradiksi dengan nilai- nilai moral yang mereka ketahui, tidak jarang remaja mulai meragukan tentang apa yang disebut baik atau buruk. Akibatnya, remaja seringakali ingin membentuk nilai- nilai mereka sendiri yang mereka anggap benar, baik, dan pantas untuk dikembangkan di kalangan mereka sendiri. Lebih- lebih jika orangtua atau orang dewasa di sekitarnya ingin memaksakan nilai- nilainya agar dipatuhi oleh remaja tanpa disertai dengan alas an yang masuk akal menurut mereka.
d.      Periode remaja akhir
Selama periode ini remaja mulai memandang dirinya sebagai orang dewasa dan mulai mampu menunjukkan pemikiran, sikap, dan perilaku yang semakin dewasa. Oleh karena itu orang tua dan masyarakat mulai memberikan kepercayaan yang selayaknya kepada mereka. Interaksi dengan orang tua juga menjadi lebih bagus dan lancer karena mereka sudah memiliki kebebasan penuh serta emosinya pun mulai stabil. Pilihan arah hidup sudah semakin jelas dan mulai mampu mengambil keputusan dan pilihan tentang arah hidupnya hidup yang dapat dipertanggungjawabkan terhadap dirinya sendiri, orangtua, dan masyarakat.[26]
Anak pada akhir masa remaja akhir dapat dikatakan telah mencapai kematangan emosional, yang diharapkan dari padanya, bilamana dia menunjukkan sikap- sikap sebagai berikut:
-          Dia tidak ‘meledak- ledak’ dihadapan banyak orang karena tidak dapat menahan emosinya lagi.
-          Dia mempertimbangkan dengan kritis terlebih dahulu suatu situasi, sebelum memberikan reaksi yang dikuasai oleh emosi- emosi. Jadi keadannya berlainan dengan anak remaja yang lebih awal(muda) yang reaksi- reaksinya didasarkan atas pandangan- pandangan sepintas lalu saja dari situasi.
-          Dia lebih stabil dalam pemberian reaksi terhadap salah stu bentuk emosi yang dialami.
Untuk mencapai kematangan emosional, seorang anak harus mempunyai pandangan yang luas ke dalam situasi- situasi yang menimbulkan reaksi- reaksi emosional yang hebat. Hal ini dapat didapatkan bilamana dia bersedia untuk membicarakan problem- problem dengan orang lain. Pada umumnya remaja dalam masa ini lebih bersedia untuk membicarkan problem- problemnya dengan orang- orang dewasa, karena dia tidak khawatir kehilangan kebebasannya seperti anak dalam masa remaja awal. Seberapa jauh anak mau membicarakan persoalan- persoalannya tergantung dari rasa senangnya kepada orang yang diajak berbicara.[27]

C.      IMPLIKASI PERKEMBANGAN EMOSI PESERTA DIDIK DALAM PROSES PEMBELAJARAN
a.       Emosi menurut Sarwono (Yusuf, 2005:115) merupakan keadaan pada diri seseorang yang disertai warna afektif, baik pada tingkat lemah maupun pada tingkat yang luas. (Baradja, 2005:211) kemudian mengemukakan beberapa contoh tentang pengaruh emosi terhadap perilaku individu dalam pembelajaran, diantaranya :
-          Memperkuat dan melemahkan semangat apabila timbul rasa senang atau kecewa atas hasil belajar yang dicapai
-          Menghambat konsentrasi belajar apabila sedang mengalami ketegangan emosi
-          Mengganggu penyesuaian social apabila terjadi rasa cemburu dan iri hati
-          Suasana emosional yang dialami individu semasa kecilnya akan memengaruhi sikapnya di kemudian hari.
Demikian pula (Hurlock, 1978:211) mengungkapkan secara jelas bahwa emosi mempengaruhi cara belajar anak, yaitu :
-          Menyiapkan tubuh untuk melakukan tindakan
-          Reaksi emosional apabila diulang- ulang akan berkembang menjadi kebiasaan
-          Emosi merupakan suatu bentuk komunikasi
-          Emosi mewarnai pandangan anak
-          Emosi dapat mengganggu aktivitas mental
Pendapat lain mengungkapkan bahwa emosi merupakan factor dominan yang memengaruhi tingkah laku individu, dalam hal ini termasuk perilaku belajar. Emosi yang positif seperti perasaan senang, bersemangat, atau rasa ingin tau akan memengaruhi individu untuk berkonsentrasi terhadap aktivitas belajar, seperti memperhatikan penjelasan guru, aktif dalam berdiskusi, mengerjakan tugas, dan sebagainya (Yusuf, 2005:181).
Berdasarkan pendapat yang dikemukakan oleh Yusuf, dapat diuraikan bahwa jika yang menyertai proses belajar itu emosi negative seperti perasaan tidak senang dan kecewa, maka proses belajar akan mengalami hambatan, dalam arti peserta didik tidak dapat memusatkan perhatiannya untuk belajar sehingga kemungkinan besar akan mengalami kegagalan dalam belajarnya.
Begitu pentingnya factor pengembangan emosional dalam menentukan keberhasilan belajar peserta didik, (Desmita, 2008:173) mengutip pernyataan ‘DePerter, Reardon, dan Singer-Nourie’ dalam buku mereka yang sangat terkenal “Quantum Teaching: Orchestrating Student Success” yang menyarankan agar para pendidik memahami emosi para siswa. Memperhatikan dan memahami emosi siswa dapat membantu pendidik mempercepat proses pembelajaran yang lebih bermakna dan permanen. Memperhatikan dan memahami emosi siswa berarti membangun ikatan emosional dengan menciptakan kesenangan dalam belajar, menjalin hubungan, dan menyingkirkan segala ancaman dari suasana belajar. Melalui kondisi belajar dimaksud, para siswa akan lebih ikut serta dalam kegiatan sukarela yang berhubungan dengan bahan pelajaran.[28]

b.      Upaya Mengembangkan Emosi Remaja dan Implikasinya bagi Pendidikan
Intervensi pendidikan untuk mengembangkan emosi remaja agar dapat mengembangkan kecrdasan emosional, salah satu diantaranya adalah dengan menggunakan intervensi yang di kemukakan oleh ‘W.T. Grant Consortium’ tentang “unsure- unsure aktif program pencegahan”, yaitu sebagai berikut:
1)      Pengembangan keterampilan emosional
Cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan keterampilan emosional individu adalah:
-          Mengidentifikasi dan member nama atau label perasaan
-          Menilai intensitas perasaan
-          Mengungkapkan perasaan
-          Mengelola perasaan
-          Menunda pemuasan
-          Mengendalikan dorongan hati
-          Mengurangi stress
-          Memahami perbedaan antara perasaan dan tindakan
2)      Pengembangan keterampilan kognitif
Cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan keterampilan kognitif individu adalah dengan cara sebagai berikut:
-          Belajar melakukan dialog batin sebagai cara menghadapi dan mengatasi masalah atau memperkuat perilaku diri sendiri
-          Belajar membaca dan menafsirkan isyarat- isyarat social, misalnya mengenali pengaruh social terhadap perilaku dan melihat diri sendiri dalam perspektif masyarakat yang lebih luas
-          Belajar menggunakan langkah- langkah penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan, misalnya mengendalikan dorongan hati, menentukan sasaran, mengidentifikasi tindakan- tindakan alternative, dan memperhitungkan akibat- akibat yang mungkin timbul
-          Belajar memahami sudut pandang orang lain (empati)
-          Belajar mamahami sopan santun, yaitu perilaku mana yang dapat diterima dan mana yang tidak
-          Belajar bersikap positif terhadap kehidupan
-          Belajar mengembangkan kesadaran diri, misalnya mengembangkan harapan – harapan yang realistis tentang diri sendiri.
3)      Pengembangan keterampilan perilaku
Cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan keterampilan perilaku individu adalah dengan cara sebagai berikut:
-          Mempelajari keterampilan komunikasi nonverbal, misalnya berkomunikasi melaluipandangan mata, ekspresi wajah, gerak- gerik, posisi tubuh, dan sejenisnya
-          Mempelajari keterampilan komunikasi verbal, misalnya mengajukan permintaan dengan jelas, mendeskripsikan sesuatu kepada orang lain dengan jelas, menanggapi kritik secara efektif, menolak pengaruh negative, mendengarkan orang lain, dan ikut serta dalam kelompok- kelompok kegiatan positif yang banyak menggunakan komunikasi verbal.

Cara lain yang dapat digunakan sebagai edukatif untuk mengembangkan emosi remaja agar dapat memiliki kecerdasan emosional adalah dengan melakukan kegiatan- kegiatan yang di dalamnya terdapat materi- materi yang di kembangkan oleh (Daniel Goleman,1995) yang kemudian diberi nama “Self-science Curriculum” sebagaimana dipaparkan sebagai berikut:
a.       Belajar mengembangkan kesadaran diri
Dengan cara mengamati sendiri dan mengenali perasaan sendiri, menghimpun kosakata untuk mengungkapkan perasaan, serta emahami hubungan antara pikiran, perasaan, dan respons emosional.
b.      Belajar mengambil keputusan pribadi
Dengan cara mencermati tindakan- tindakan dan akibat- akibatnya, memahami apa yang menguasai suatu keputusan, pikiran, atau perasaan, serta menerapkan pemahaman ini ke masalah- masalah yang cukup berat seperti masalah seks dan obat terlarang.
c.       Belajar mengelola perasaan
Dengan cara memantau pembicaraan sendiri untuk menangkap pesan- pesan negative yang terkandung di dalamnya, menyadari apa yang ada di balik perasaan (misalnya, sakit hati yang menndorong amarah), menemukan cara- cara untuk menangani rasa takut, cemas, amarah, dan kesedihan.
d.      Belajar menangani stress
Dengan mempelajari pentingnya berolahraga, perenungan yang terarah, dan metode relaksasi.
e.       Belajar berempati
Dengan memahami perasaan dan masalah orang lain, berpikir dengan sudut pandang orang lain, serta menghargai perbedaan perasaan orang lain mengenai sesuatu.
f.       Belajar berkomunikasi
Dengan berbicara mengenai perasaan secara efektif, yaitu belajar menjadi pendengar dan penanya yang baik, membedakan antara apa yang dilakukan atau yang dikatakan seseorang dengan reaksi atau penilaian sendiri tentang sesuatu, serta mengirimkan pesan dengan sopan dan bukannya mengumpat.
g.      Belajar membuka diri
Dengan menghargai keterbukaan dan membina kepercayaan dalam suatu hubungan serta mengetahui situasi yang aman untuk membicarakan tentang perasaan diri sendiri.
h.      Belajar mengembangkan pemahaman
Dengan mengidentifikasikan pola- pola kehidupan emosional dan reaksi- reaksinya serta mengenali pola- pola serupa pada orang lain.
i.        Belajar menerima diri sendiri
Dengan merasa bangga dan memandang diri sendiri dari sisi positif, mengenali kekuatan dan kelemahan diri anda, serta menindaklanjuti komitmen yang telah dibuat dan disepakati.
j.        Belajar mengembangkan tanggung jawab pribadi
Dengan belajar rela memikul tanggung jawab, mengenali akibat- akibat dari keputusan dan tindakan pribadi, serta menindaklanjuti komitmen yang telah dibuat dan disepakati.
k.      Belajar mengembangkan ketegasan
Dengan mengungkapkan keprihatinan dan perasaan pribadi tanpa rasa malu atau berdiam diri.
l.        Mempelajari dinamika kelompok
Dengan mau bekerja sama, memahami kapan dan bagaiman memimpin, serta memahami kapan harus mengikuti.
m.    Belajar menyalesaikan konflik
Caranya adalah memahami bagaimana melakukan konfrontasi secara jujur dengan orang lain, orangtua, atau guru, serta memahami contoh penyelesaian menang- menang (win-win solution) untuk merundingkan atau menyelesaikan suatu perselisihan.[29]


  

BAB 3
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Dari uraian pembahasan diatas dapat disimpulkan sebagai berikut :
a.       Secara etimologi, emosi berasal dari kata Prancis “emotion” yang berasal lagi dari “emouvoir”, “excite”, yang berdasarkan kata Latin “emovere”, yang terdiri dari kata- kata “e” (variant atau ex), artinya ‘keluar’ dan “movere” artinya bergerak. Dengan demikian, secara etimologi emosi berarti “bergerak keluar”.
emosi adalah reaksi penilaian (positif-negatif) yang kompleks dari system syaraf seseorang terhadap rangsangan dari luar atau dari dalam dirinya sendiri. Hal itu menggambarkan bahwa emosi diawali dengan adanya suatu rangsangan, baik dari luar (benda, manusia, cuaca), maupun dari dalam (tekanan darah, kadar gula, lapar, ngantuk, segar, dll), pada indra-indra kita. Selanjutnya kita (orang atau individu) menafsirkan persepsi kita atas rangsangan itu sebagai suatu hal yang positif (menyenangkan, menarik) atau negative (menakutkan, ingin menghindar) yang selanjutnya kita terjemahkan ke dalam respons- respons fisiologis dan motoris (jantung berdebar, mulut menganga, bulu roma berdiri, mata merah, dan sebagainya) dan pada saat itulah terjadi emosi.
b.      Teori- teori emosi terdiri dari :
-          Teori sentral
-          Teori peripheral
-          Teori kepribadian
-          Teori kedaruratan emosi
c.       Funsi emosi terdiri dari :
-          Membantu persiapan tindakan (preparing us for action).
-          Membentuk perilaku akan datang (shaping our future behavior).
-          Membantu kita untuk mengatur interaksi social (helping us to regulate social interaction).
d.      Pengelompokan emosi
Menurut Syamsu Yusuf (2003) emosi individu dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian yaitu:
-          Emosi sensoris
-          Emosi psikis
e.       Faktor- Faktor yang Memengaruhi Perkembangan Emosi
-          Perubahan jasmani atau fisik
-          Perubahan dalam hubungan dengan orangtua
-          Perubahan dalam hubungan dengan teman-teman
-          Perubahan pandangan luar
-          Sikap dunia luar terhadap remaja sering tidak konsisten
-           Perubahan dalam hubungannya dengan sekolah
-          Pengalaman traumatic
-          Tempramen
-          Jenis kelamin
-          Usia
-          Perubahan atau penyesuaian dengan lingkungan baru
f.       Tahapan Perkembangan Emosi
-          Masa praremaja
-          Masa remaja awal
-          Masa remaja tengah
-          Masa remaja akhir
g.      Implikasi perkembangan emosi peserta didik dalam proses pembelajaran
Emosi yang positif seperti perasaan senang, bersemangat, atau rasa ingin tau akan memengaruhi individu untuk berkonsentrasi terhadap aktivitas belajar, seperti memperhatikan penjelasan guru, aktif dalam berdiskusi, mengerjakan tugas, dan sebagainya (Yusuf, 2005:181). Berdasarkan pendapat yang dikemukakan oleh Yusuf, dapat diuraikan bahwa jika yang menyertai proses belajar itu emosi negative seperti perasaan tidak senang dan kecewa, maka proses belajar akan mengalami hambatan, dalam arti peserta didik tidak dapat memusatkan perhatiannya untuk belajar sehingga kemungkinan besar akan mengalami kegagalan dalam belajarnya.




DAFTAR PUSTAKA

o   Wirawan sarwono, sarlito. 1989. Pengantar Umum Psikologi. Jakarta: PT. Bulan Bintang
o   Mahmud, dimyati. 1990. Psikologi Suatu Pengantar. Yogyakarta: BPFE
o   Dayaksini, tri dan Yuniardi,salis. 2008. Psikologi Lintas Budaya. Malang: UMM pres
o    Masher, Riana. 2011. Emosi Anak Usia Dini dan Perkembangannya. Jakarta:Kencana
o   Ali, Mohammad dan Asrori, mohammad. 2011. Psikologi Remaja: Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT. Bumi Aksara
o   Susanto, ahmad. 2011. Perkembangan Anak Usia Dini: Pengantar dalam Berbagai Aspeknya. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
o   Shalahuddin, Mahfudh. 1986. Pengantar Psikologi Umum. Surabaya: Sinar Wijaya


[1] Sarlito Wirawan Sarwono, Pengantar Psikologi Umum, hlm: 125
[2] M. Dimyati Mahmud, Psikologi: Suatu Pengantar, hlm: 163
[3] Tri Dayakisni dan Salis Yuniardi, edisi revisi Psikologi Lintas Budaya, hlm: 48
[4] Riana Mashar, Emosi Anak Usia Dini dan Strategi Pengembangannya, hlm: 16
[5] Mohammad Ali dan Mohammad Asrori, Psikologi Remaja: Perkembangan Peserta Didik, hlm: 62-63
[6] Ahmad Susanto, Perkembangan Anak Usia Dini: Pengantar dalam Berbagai Aspeknya Edisi Pertama,hlm: 137-138
[7] Sarlito Wirawan Sarwono, Pengantar Psikologi Umum, hlm:124
[8] QS. Al-Anfal: 2
[9] QS. At-Taubah: 24
[11] Mohammad Ali dan Mohammad Asrori, Psikologi Remaja: Perkembangan Peserta Didik, hlm: 66
[12] Mahfudh Shalahuddin, Pengantar Psikologi Umum, hlm: 110
[14] Riana Mashar, Emosi Anak Usia Dini dan Strategi Pengembangannya, hlm: 17
[15] Mohammad Ali dan Mohammad Asrori, Psikologi Remaja: Perkembangan Peserta Didik, hlm: 67
[16] Sarlito Wirawan Sarwono, Pengantar Psikologi Umum, hlm: 127
[17] Mohammad Ali dan Mohammad Asrori, Psikologi Remaja: Perkembangan Peserta Didik, hlm: 63-64
[18] Tri Dayakisni dan Salis Yuniardi, edisi revisi Psikologi Lintas Budaya, hlm: 48-49
[20] Mohammad Ali dan Mohammad Asrori, Psikologi Remaja: Perkembangan Peserta Didik, hlm: 64-66
[21] Mohammad Ali dan Mohammad Asrori, Psikologi Remaja: Perkembangan Peserta Didik, hlm:69-72
[26] Mohammad Ali dan Mohammad Asrori, Psikologi Remaja: Perkembangan Peserta Didik, hlm: 68
[27] Soesilowindradini, Psikologi Perkembangan (masa remaja), hlm: 212
[29] Mohammad Ali dan Mohammad Asrori, Psikologi Remaja: Perkembangan Peserta Didik, hlm:73-75

Tidak ada komentar:

Posting Komentar