Rabu, 23 September 2015

Teori Belajar dan Pembelajaran "Teori Belajar Thorndike"



MAKALAH TERAPAN
PENERAPAN TEORI BELAJAR THORNDIKE DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA PADA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DI SMPN 1 AMLAPURA - BALI


A.     Merasakan Adanya Masalah
Adanya masalah dalam belajar merupakan sebuah fakta yang selalu dihadapi oleh setiap orang. Dalam hal ini masalah yang akan dipaparkan adalah masalah dalam pembelajaran pendidikan agama islam. Masalah dalam pembelajaran pendidikan agama islam sudah menjadi permasalahan yang tidak asing lagi di sekolah. Terutama sekolah – sekolah yang tidak bernaung di bawah Kementerian Agama atau biasa kita sebut sebagai sekolah umum. Seperti kita ketahui bahwa di dalam sekolah umum terdiri dari siswa yang berbeda agama. Jika sekolah umum terdapat dalam lingkungan yang mayoritas penduduknya adalah beragama islam, maka siswa pada sekolah tersebut secara otomatis memiliki siswa yang kebanyakan beragama islam. Begitu pula sebaliknya, jika sekolah umum tersebut berada dalam lingkungan yang didominasi oleh penduduk yang beragama selain islam, di Bali misalkan, maka siswa pada sekolah umum tersebut sudah dapat diketahui memiliki agama selain islam.
Dalam hal ini penulis mengambil salah satu sekolah di wilayah Bali untuk di kaji permasalahannya dalam pembelajaran pendidikan agama islam yaitu SMPN 1 Amlapura. Dapat diketahui bahwa SMPN 1 Amlapura merupakan sekolah yang berada di bawah naungan KEMENDIKBUD atau kita biasa menyebutnya sebagai sekolah umum. Sebagai sekolah umum yang berada dalam lingkungan yang di dominasi oleh penduduk beragama hindu, mayoritas siswanya adalah beragama hindu. Siswa yang beragama islam sangatlah minoritas. Dalam satu angkatan siswa yang beragama islam tidak pernah lebih dari 25 siswa dari 300 siswa lebih yang diterima di sekolah ini. Jadi dapat diketahui bahwa dalam setiap kelas tidak memiliki siswa beragama islam lebih dari 5 (lima) siswa.
Karena keadaan minoritas ini, ketika pembelajaran pendidikan agama, siswa yang beragama islam mengikuti pelajaran agama islam di luar kelas, dalam hal ini guru agama memilih untuk menggunakan mushola sekolah untuk memberikan pembelajaran agama islam. Factor yang memengaruhi hal ini adalah tempat belajar yang kurang nyaman karena sempit. Sehingga tak jarang ketika pembelajaran agama, siswa yang beragama islam merasa enggan untuk mengikuti kegiatan pembelajaran dan lebih memilih untuk melakukan kegiatan lain di luar kelas dan tidak menghadiri kelas.
Pendidikan agama islam di sekolah- sekolah umum hanya memiliki waktu pembelajaran 2 (dua) jam pelajaran dalam satu minggu. Terlebih lagi latar belakang keluarga yang sebagian besar kurang memiliki pemahaman yang luas tentang agama islam itu sendiri. Dalam hal ini, keadaan minoritas seperti ini dapat memengaruhi minat siswa untuk mengikuti pembelajaran pendidikan agama islam. Rendahnya minat siswa untuk mengikuti pembelajaran akan memengaruhi tingkat pemahamannya terhadap materi yang di sampaikan.
Oleh karena itu, guru pendidikan agama islam harus dapat mendidik dan mengajarkan pelajaran pendidikan agama islam dengan metode yang dapat menumbuhkan minat siswa serta meningkatkan pemahaman siswa terhadap pelajaran pendidikan agama islam dengan memanfaatkan waktu secara efektif dan efisien.

B.     Eksplorasi dan Analisis Masalah
Berdasarkan pemaparan masalah- masalah di atas, maka untuk meningkatkan minat serta pemahaman siswa, dapat digunakan teori belajar Thorndike dalam pembelajaran pendidikan agama islam.
Dalam hal ini, pendidik harus mengetahui apa yang diajarkan kepada siswanya, materi apa yang harus di berikan, respon apa yang di harapkan dari siswa. Tujuan pendidikan harus dalam batas kemampuan belajar siswa.  Hal penting yang harus dilakukan guru yaitu memberikan pembelajaran dengan di mulai dari proses belajar yang sederhana hingga yang kompleks agar siswa dapat mengikuti pelajaran dengan baik.
Dalam hal ini guru berperan sebagai pemberi stimulus atau penggerak, sedangkan siswa berperan sebagai pemberi respon terhadap stimulus yang di peroleh. Oleh karena itu metode pembelajaran yang baik adalah metode yang dapat menumbuhkan respon belajar siswa yang sesuai dengan kondisi lingkungan pembelajaran.

C.     Penyajian Masalah
Pelajaran pendidikan agama islam di sekolah- sekolah umum merupakan pelajaran yang disajikan oleh pendidik secara general. Pelajaran ini harus dipahami oleh siswa secara kognitif, yang kemudian di aplikasikan ke dalam nilai afektif dan psikomotorik, sehingga diperlukannya penerapan suatu metode yang dapat membantu siswa untuk meningkatkan pemahaman dan mengatasi kejenuhan siswa pada pelajaran pendidikan agama islam.

D.    Pemecahan Masalah
Salah satu tujuan penting dalam proses pembelajaran adalah membantu siswa untuk memahami dan berpikir secara lebih luas. Dalam hal ini penulis mengambil metode pembelajaran “connectivities” yang di kemukakan oleh Edward L. Thorndike. Menurut Teori Connectivities, tingkah laku individu tidak lain dari suatu hubungan rangsangan dengan jawaban atau stimulus – respon. Siswa yang dapat menguasai hubungan stimulus- respon sebanyak- banyaknya maka siswa tersebut akan berhasil dalam belajar. Pembentukan hubungan stimulus- respon perlu dilakukan secara berulang- ulang.
Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal- hal lain yang dapat diterapkan melalui alat indera. Sedangkan respon yaitu reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar yang juga dapat berupa pikiran, perasaan atau tindakan. Stimulus dan respon merupakan upaya secara metodologis untuk mengaktifkan siswa secara utuh dan menyeluruh baik pikiran, perasaan, dan perilaku (tindakan). Salah satu indikasi keberhasilan belajar terletak pada kualita respon yang diberikan siswa terhadap stimulus yang diterima.
Factor penting yang memengaruhi belajar adalah “reward” atau “pernyataan kepuasan dari suatu kejadian” dan “punishment”.
Thorndike mengemukakan tiga hokum belajar, yaitu :
1.      Law of Readiness ( Hukum Kesiapan)
Reaksi terhadap stimulus yang didukung oleh kesiapan untuk bertindak dan bereaksi—reaksi akan menjadi memuaskan.
2.      Law of Exercise ( Hukum Latihan )
Hubungan stimulus respon apabila sering digunakan akan makin kuat melalui pengulangan (repetition)
3.      Law of Effect ( Hukum Akibat )
Makin kuat atau lemahnya hubungan sebagai akibat daripada hasil respon yang dilakukan.[1]

            Kelebihan dan Kelemahan Teori Koneksionisme Edward Lee Thorndike.
1.      Kelebihan
a.       Dengan sering melakukan pengulangan dalam memecahkan suatu permasalahan, siswa akan memiliki sebuah pengalaman yang berharga.
b.      Selain itu dengan adanya system pemberian hadiah, akan membuat siswa menjadi lebih memiliki kemauan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
2.      Kelemahan
a.       Seringkali tidak mampu mejelaskan situasi belajar yang kompleks, karena banyak hal- hal yang berkaitan dengan pendidikan atau belajar yang tidak dapat diubah menjai sekedar hubungan stimulus dan respon.
b.      Teori ini tidak mampu menjelaskan alasan – alasan yang mengacaukan hubungan antara stimulus dan respon ini dan tidak dapat menjawab hal- hal yang menyebabkan terjadinya penyimpangan stimulus yang diberikan dengan responnya.

E.     Refleksi Terhadap Proses dan Hasil Pemecahan Masalah
Aplikasi teori belajar Thorndike sebagai salah satu aliran psikologi tingkah laku dalam pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti : tujuan pembelajaran, sifat materi pembelajaran, karakteristik siswa, media atau fasilitas pembelajaran yang tersedia. Setiap pembelajaran yang berpegang pada teori belajar behavioristik telah terstruktur rapi, dan mengarah pada bertambahnya pengetahuan siswa.
Cara mengajar yang baik bukanlah mengharapkan siswa tahu apa yang telah diajarkan, tetapi guru yang harus mengetahui apa yang akan diajarkan. Dengan ini guru harus mengerti materi apa yang hendak diajarkan, respon apa yang diharapkan dari siswa, dan kapan seharusnya memberikan hadiah “reward” atau hukuman “punishment”. Tujuan pendidikan harus berada dalam batas kemampuan belajar siswa dan harus terbagi dalam unit- unit sedemikian rupa sehingga guru dapat menerapkan metode sesuai dengan situasi yang bermacam- macam. Agar peserta didik dapat mengikuti pelajaran, proses belajar haruslah bertahap, dimulai dari yang sederhana sampai yang kompleks.
Jika siswa melakukan respon yang salah, maka harus segera diperbaiki sebelum dilakukan berulang- ulang. Dengan demikian evaluasi secara teratur diperlukan sebagai control bagi guru untuk mengetahui apakah peserta didik sudah melakukan respon yang benar atau belum terhadap stimulus yang diberikan oleh guru. Materi pelajaran yang diberikan kepada peserta didik harus ada manfaatnya untuk kehidupan anak kelak setelah keluar dari sekolah.Apabila hasil belajar training lebih baik dari kemampuan dasar, maka telah terjadi proses belajar.



DAFTAR RUJUKAN
Prof. Dr. Baharuddin. M.Pd.I. 2014. Pendidikan dan Psikologi Perkembangan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Santrock, John W, 2008. Psikologi Pendidikan, Jogyakarta.


[1] Prof.Dr.Baharuddin.M.Pd.I, Pendidikan dan Psikologi Perkembangan, hlm :163

Tidak ada komentar:

Posting Komentar