MAKALAH TERAPAN
PENERAPAN TEORI BELAJAR THORNDIKE DALAM MENINGKATKAN
PEMAHAMAN SISWA PADA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DI SMPN 1
AMLAPURA - BALI
A.
Merasakan Adanya Masalah
Adanya
masalah dalam belajar merupakan sebuah fakta yang selalu dihadapi oleh setiap
orang. Dalam hal ini masalah yang akan dipaparkan adalah masalah dalam
pembelajaran pendidikan agama islam. Masalah dalam pembelajaran pendidikan
agama islam sudah menjadi permasalahan yang tidak asing lagi di sekolah.
Terutama sekolah – sekolah yang tidak bernaung di bawah Kementerian Agama atau
biasa kita sebut sebagai sekolah umum. Seperti kita ketahui bahwa di dalam
sekolah umum terdiri dari siswa yang berbeda agama. Jika sekolah umum terdapat
dalam lingkungan yang mayoritas penduduknya adalah beragama islam, maka siswa
pada sekolah tersebut secara otomatis memiliki siswa yang kebanyakan beragama
islam. Begitu pula sebaliknya, jika sekolah umum tersebut berada dalam lingkungan
yang didominasi oleh penduduk yang beragama selain islam, di Bali misalkan,
maka siswa pada sekolah umum tersebut sudah dapat diketahui memiliki agama
selain islam.
Dalam
hal ini penulis mengambil salah satu sekolah di wilayah Bali untuk di kaji permasalahannya
dalam pembelajaran pendidikan agama islam yaitu SMPN 1 Amlapura. Dapat
diketahui bahwa SMPN 1 Amlapura merupakan sekolah yang berada di bawah naungan
KEMENDIKBUD atau kita biasa menyebutnya sebagai sekolah umum. Sebagai sekolah
umum yang berada dalam lingkungan yang di dominasi oleh penduduk beragama
hindu, mayoritas siswanya adalah beragama hindu. Siswa yang beragama islam
sangatlah minoritas. Dalam satu angkatan siswa yang beragama islam tidak pernah
lebih dari 25 siswa dari 300 siswa lebih yang diterima di sekolah ini. Jadi
dapat diketahui bahwa dalam setiap kelas tidak memiliki siswa beragama islam
lebih dari 5 (lima) siswa.
Karena
keadaan minoritas ini, ketika pembelajaran pendidikan agama, siswa yang
beragama islam mengikuti pelajaran agama islam di luar kelas, dalam hal ini
guru agama memilih untuk menggunakan mushola sekolah untuk memberikan
pembelajaran agama islam. Factor yang memengaruhi hal ini adalah tempat belajar
yang kurang nyaman karena sempit. Sehingga tak jarang ketika pembelajaran
agama, siswa yang beragama islam merasa enggan untuk mengikuti kegiatan
pembelajaran dan lebih memilih untuk melakukan kegiatan lain di luar kelas dan
tidak menghadiri kelas.
Pendidikan
agama islam di sekolah- sekolah umum hanya memiliki waktu pembelajaran 2 (dua)
jam pelajaran dalam satu minggu. Terlebih lagi latar belakang keluarga yang
sebagian besar kurang memiliki pemahaman yang luas tentang agama islam itu
sendiri. Dalam hal ini, keadaan minoritas seperti ini dapat memengaruhi minat
siswa untuk mengikuti pembelajaran pendidikan agama islam. Rendahnya minat
siswa untuk mengikuti pembelajaran akan memengaruhi tingkat pemahamannya
terhadap materi yang di sampaikan.
Oleh
karena itu, guru pendidikan agama islam harus dapat mendidik dan mengajarkan
pelajaran pendidikan agama islam dengan metode yang dapat menumbuhkan minat
siswa serta meningkatkan pemahaman siswa terhadap pelajaran pendidikan agama
islam dengan memanfaatkan waktu secara efektif dan efisien.
B.
Eksplorasi dan Analisis Masalah
Berdasarkan
pemaparan masalah- masalah di atas, maka untuk meningkatkan minat serta
pemahaman siswa, dapat digunakan teori belajar Thorndike
dalam pembelajaran pendidikan agama islam.
Dalam
hal ini, pendidik harus mengetahui apa yang diajarkan kepada siswanya, materi
apa yang harus di berikan, respon apa yang di harapkan dari siswa. Tujuan
pendidikan harus dalam batas kemampuan belajar siswa. Hal penting yang harus dilakukan guru yaitu
memberikan pembelajaran dengan di mulai dari proses belajar yang sederhana
hingga yang kompleks agar siswa dapat mengikuti pelajaran dengan baik.
Dalam
hal ini guru berperan sebagai pemberi stimulus atau penggerak, sedangkan siswa
berperan sebagai pemberi respon terhadap stimulus yang di peroleh. Oleh karena
itu metode pembelajaran yang baik adalah metode yang dapat menumbuhkan respon
belajar siswa yang sesuai dengan kondisi lingkungan pembelajaran.
C.
Penyajian Masalah
Pelajaran
pendidikan agama islam di sekolah- sekolah umum merupakan pelajaran yang
disajikan oleh pendidik secara general. Pelajaran ini harus dipahami oleh siswa
secara kognitif, yang kemudian di aplikasikan ke dalam nilai afektif dan
psikomotorik, sehingga diperlukannya penerapan suatu metode yang dapat membantu
siswa untuk meningkatkan pemahaman dan mengatasi kejenuhan siswa pada pelajaran
pendidikan agama islam.
D.
Pemecahan Masalah
Salah
satu tujuan penting dalam proses pembelajaran adalah membantu siswa untuk
memahami dan berpikir secara lebih luas. Dalam hal ini penulis mengambil metode
pembelajaran “connectivities” yang di kemukakan oleh Edward L. Thorndike. Menurut Teori Connectivities,
tingkah laku individu tidak lain dari suatu hubungan rangsangan dengan jawaban
atau stimulus – respon. Siswa yang dapat menguasai hubungan stimulus- respon
sebanyak- banyaknya maka siswa tersebut akan berhasil dalam belajar.
Pembentukan hubungan stimulus- respon perlu dilakukan secara berulang- ulang.
Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi
antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang
terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal- hal lain yang
dapat diterapkan melalui alat indera. Sedangkan respon yaitu reaksi yang
dimunculkan peserta didik ketika belajar yang juga dapat berupa pikiran,
perasaan atau tindakan. Stimulus dan respon merupakan upaya secara metodologis
untuk mengaktifkan siswa secara utuh dan menyeluruh baik pikiran, perasaan, dan
perilaku (tindakan). Salah satu indikasi keberhasilan belajar terletak pada
kualita respon yang diberikan siswa terhadap stimulus yang diterima.
Factor penting yang memengaruhi belajar adalah
“reward” atau “pernyataan kepuasan dari suatu kejadian” dan “punishment”.
Thorndike mengemukakan tiga hokum belajar, yaitu :
1. Law of Readiness ( Hukum Kesiapan)
Reaksi terhadap stimulus yang didukung oleh kesiapan untuk bertindak dan
bereaksi—reaksi akan menjadi memuaskan.
2. Law of Exercise ( Hukum Latihan )
Hubungan stimulus respon apabila sering digunakan akan makin kuat
melalui pengulangan (repetition)
3. Law of Effect ( Hukum Akibat )
Makin kuat atau lemahnya hubungan sebagai akibat daripada hasil respon
yang dilakukan.[1]
Kelebihan
dan Kelemahan Teori Koneksionisme Edward Lee Thorndike.
1. Kelebihan
a. Dengan sering melakukan pengulangan dalam memecahkan suatu permasalahan,
siswa akan memiliki sebuah pengalaman yang berharga.
b. Selain itu dengan adanya system pemberian hadiah, akan membuat siswa
menjadi lebih memiliki kemauan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
2. Kelemahan
a. Seringkali tidak mampu mejelaskan situasi belajar yang kompleks, karena
banyak hal- hal yang berkaitan dengan pendidikan atau belajar yang tidak dapat
diubah menjai sekedar hubungan stimulus dan respon.
b. Teori ini tidak mampu menjelaskan alasan – alasan yang mengacaukan
hubungan antara stimulus dan respon ini dan tidak dapat menjawab hal- hal yang
menyebabkan terjadinya penyimpangan stimulus yang diberikan dengan responnya.
E. Refleksi Terhadap Proses dan Hasil Pemecahan Masalah
Aplikasi teori belajar Thorndike sebagai salah satu
aliran psikologi tingkah laku dalam pembelajaran tergantung dari beberapa hal
seperti : tujuan pembelajaran, sifat materi pembelajaran, karakteristik siswa,
media atau fasilitas pembelajaran yang tersedia. Setiap pembelajaran yang
berpegang pada teori belajar behavioristik telah terstruktur rapi, dan mengarah
pada bertambahnya pengetahuan siswa.
Cara mengajar yang baik bukanlah mengharapkan siswa
tahu apa yang telah diajarkan, tetapi guru yang harus mengetahui apa yang akan
diajarkan. Dengan ini guru harus mengerti materi apa yang hendak diajarkan,
respon apa yang diharapkan dari siswa, dan kapan seharusnya memberikan hadiah “reward”
atau hukuman “punishment”. Tujuan pendidikan harus berada dalam batas kemampuan
belajar siswa dan harus terbagi dalam unit- unit sedemikian rupa sehingga guru
dapat menerapkan metode sesuai dengan situasi yang bermacam- macam. Agar
peserta didik dapat mengikuti pelajaran, proses belajar haruslah bertahap,
dimulai dari yang sederhana sampai yang kompleks.
Jika siswa melakukan respon yang salah, maka harus
segera diperbaiki sebelum dilakukan berulang- ulang. Dengan demikian evaluasi
secara teratur diperlukan sebagai control bagi guru untuk mengetahui apakah
peserta didik sudah melakukan respon yang benar atau belum terhadap stimulus
yang diberikan oleh guru. Materi pelajaran yang diberikan kepada peserta didik
harus ada manfaatnya untuk kehidupan anak kelak setelah keluar dari sekolah.Apabila
hasil belajar training lebih baik dari kemampuan dasar, maka telah terjadi
proses belajar.
DAFTAR RUJUKAN
Prof. Dr. Baharuddin. M.Pd.I. 2014. Pendidikan dan Psikologi
Perkembangan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Santrock, John W, 2008.
Psikologi Pendidikan, Jogyakarta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar