BAB 1
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Bidang ilmu yang sering
kita sebut sebagai ilmu jiwa yaitu Psikologi, mempelajari banyak hal yang
berhubungan dengan jiwa manusia. Hal- hal tersebut diantaranya perasaan
manusia, perilaku manusia, kebiasaan yang dilakukannya, serta emosi manusia pun
turut di bahas di dalamnya. Dalam psikologi, emosi merupakan kajian yang
penting yang perlu di bahas karena dalam kehidupan manusia sehari- hari tak
pernah luput dari gejala- gejala emosi. Berbagai peristiwa yang sering terjadi
yakni ketika manusia tidak lagi mendapatkan sesuatu yang diinginkan,
mendapatkan sebuah masalah, mengalami kerugian, atau bahkan persoalan mengenai
perasaan manusia. Hal itu yang menjadikan manusia meluapkan emosinya karena
tidak dapat mengontrol atau mengendalikan dirinya sendiri terhadap keadaan yang
dialaminya.
Selain itu emosi pada
hakikatnya bukanlah gejala negative dari perasaan manusia, namun emosi juga
memiliki gejala- gejala positive seperti perasaan senang, bahagia, dan ceria.
Emosi bukanlah suatu kejadian yang dialami manusia sekali dua kali dalam
hidupnya, namun merupakan gejala yang terjadi setiap hari dimana manusia akan
memunculkan hal tersebut sesuai dengan kondisi yang dialaminya.emosi juga
mengalami perkembangan sesuai dengan bergantinya kondisi dan usia manusia.
Dimana kita perlu mempelajari tahapan emosi pada fase dasar hingga dewasa serta
mengkajinya secara lebih ilmiah.
Pertumbuhan dan
perkembangan emosi dapat dilihat dari tingkah laku manusia itu sendiri, yang
ditentukan oleh proses belajar dan pematangan. Pada umumnya perbuatan kita
sehari- hari selalu disertai perasaan- perasaan tertentu, yaitu perasaan senang
ataupun perasaan tidak senang. Perbedaan antara emosi dan perasaan tidak dapat
dinyatakan dengan tegas, karena keduanya merupakan suatu hal yang bersifat
kualitatif yang tak ada batasnya.
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Apa yang dimaksud dengan emosi ?
2.
Bagaimana tahapan- tahapan perkembangan emosi peserta
didik?
3.
Bagaiman implikasi perkembangan emosi peserta didik
delam proses pembelajaran ?
BAB 2
PEMBAHASAN
A. PENGENALAN
EMOSI
1.
Pengertian Emosi
Secara
etimologi, emosi berasal dari kata Prancis “emotion” yang berasal lagi dari
“emouvoir”, “excite”, yang berdasarkan kata Latin “emovere”, yang terdiri dari
kata- kata “e” (variant atau ex), artinya ‘keluar’ dan “movere” artinya
bergerak. Dengan demikian, secara etimologi emosi berarti “bergerak keluar”.
Meskipun
keadaan yang tenang itu dianggap sebagai keadaan yang norma, namun dalam
kehidupan modern keadaan emosional itu lebih mewarnai sifat seseorang. Dalam
tempo kehidupan modern, emosi itu perlu sekali difahami karena mempunyai
pengaruh yang besar terhadap tingkah laku, kepribadian, dan kesehatan.
Pada
awal sejarahnya, pendiri psikologi yaitu William James yang memahami emosi
sebagai sebuah hasil dari reaksi perilaku kita terhadap sebuah stimulus yang
menghasilkan reaksi tersebut. Contohnya, ketika kita melihat seekor beruang kita
akan lari secepatnya darinya, dan kita akan menginterpretasikan perilaku lari,
debaran jantung, dan perubahan lain pada tubuh kita sebagai emosi yang kita
sebut “takut”. Selanjutnya Buck (1976) menyempurnakan definisi dari emosi:
“ ….is defined in term
of feelings: subjective experiences of arousal, pleasure or displeasure, and
the specific “primary affects” of anger, fear, happiness, sadness, surprise,
and disgust. In addition, the concept of emotion is often associated with
expressive behavior such as snarling; and with peripheral physicological
responding; such as heart rate change, sweating, and defacation.”
Dari
definisi diatas dapat dipahami bahwa emosi didefinisikan sebagai perasaan yang
subjektif dan di asosiasikan dengan serangkaian perilaku tampak tertentu,
seperti: senyum, muka merah, gemeretak rahang, serta respon fisik peripheral
semacam debaran jantung, berkeringat, atau gangguan pencernaan. Emosi adalah perasaan
mendalam yang diikuti adanya perubahan elemen kognitif maupun fisik, dan
memengaruhi perilaku.
Emosi
dapat berupa perasaan marah, ketakutan, kebahagiaan, cinta, rasa terkejut,
jijik, dan rasa sedih (Goleman,2005).
Menurut Lazarus (1991),
emosi adalah suatu keadaan yang kompleks pada diri organisme, yang meliputi
perubahan secara badaniah- dalam bernafas, detak jantung, perubahan kelenjar,
dan kondisi mental, seperti keadaan menggembirakan yang ditandai dengan
perasaan yang kuat dan biasanya disertai dengan dorongan yang mengacu pada
suatu bentuk perilaku. Jika emosi terjadi sangat intens, biasanya akan
mengganggu fungsi intelektual. Variable emosi terdiri dari dua bentuk yaitu :
a.
Action, berupa perilaku menyerang, menghindar, mendekat
atau menjauh dari tempat atau orang, menangis, ekspresi wajah, dan postur
tubuh.
b.
Physiological reaction, berupa aktivitas system saraf
otonomi, aktivitas otak, dan sekresi hormonal.
Dengan
demikian, dapat disimpulkan bahwa emosi lebih sebagai reaksi yang terpola dan
erat juga kaitannya dengan proses ‘coping’ sebagai upaya pemecahan masalah
dalam kehidupan individu.
Istilah
emosi menurut Daniel Goleman (1995), seorang pakar kecerdasan emosional,
memaknai emosi sebagai setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan,
nafsu, setiap keadaan mental yang hebat dan meluap-luap. Dia juga mengatakan
bahwa emosi merujuk kepada suatu perasaan dan pikiran-pikiran yang khas, suatu
keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak.
Chaplin
(1989) dalam ‘dictionary of psychology’ mendefinisika emosi sebagai suatu
keadaan yang terangsang dari organism mencakup perubahan- perubahan yang
disadari, yang mendalam sifatnya dari perubahan perilaku. Chaplin (1989)
membedakan emosi dengan perasaan, dan dia mendefinisikan perasaan (feelings)
adalah pengalaman disadari yang diaktifkan baik oleh perangsang eksternal
maupun oleh bermacam-macam keadaan jasmaniah.
Definisi
lain menyatakan bahwa emosi adalah suatu respons terhadap suatu perangsang yang
menyebabkan perubahan fisiologis disertai perasaan yang kuat dan biasanya
mengandung kemungkinan untuk meletus. Respons demikian terjadi baik terhadap
perangsang- perangsang eksternal maupun internal ( Soegarda Poerbakawatja,
1982). Dengan definisi ini semakin jelas perbedaan anatara emosi dengan
perasaan, dan tampak jelas bahwa perasaan adalah bagian dari emosi.
Sukmadinata(2003)
memberikan definisi emosi sebagai perpaduan dari beberapa perasaan yang
mempunyai intensitas yang relative tinggi dan menimbulkan suatu gejolak suasana
batin. Seperti halnya perasaan, emosi juga membentuk suatu kontinum, bergerak
dari emosi positif hingga yang bersifat negative.
Sementara
itu, Crow dan Crow dalam Sunarto dan Hartono (2002:149), memberikan pengertian
emosi sebagai pengalaman afektif yang disertai penyesuaian diri dalam diri
individu tentang keadaan mental dan fisik, dan berwujud suatu tingkah laku yang
Nampak.
Dengan
demikian, dapat dipahami bahwa emosi adalah perasaan bathin seseorang, baik
berupa pergolakan pikiran, nafsu, keadaan mental dan fisik yang dapat muncul
atau termanifestasi ke dalam bentuk- bentuk atau gejala- gejala seperti takut,
cemas, marah, murung, kesal, iri, cemburu, senang, kasih sayang, dan ingin tau.
Emosi
dapat muncul sebagai reaksi fisiologis, perasaan, dan perubahan perilaku yang
tampak. Secara umum emosi mempunyai fungsi untuk mencapai suatu pemuasan,
pemenuhan, atau perlindungan diri, atau bahkan kesejahteraan pribadi pada saat
keadaan tidak nyaman dengan lingkungan atau objek tertentu.
Dari
pengertian- pengertia mengenai emosi diatas, dapat disimpulkan bahwa definisi
dari emosi adalah reaksi penilaian (positif-negatif) yang kompleks dari system
syaraf seseorang terhadap rangsangan dari luar atau dari dalam dirinya sendiri.
Hal itu menggambarkan bahwa emosi diawali dengan adanya suatu rangsangan, baik
dari luar (benda, manusia, cuaca), maupun dari dalam (tekanan darah, kadar
gula, lapar, ngantuk, segar, dll), pada indra-indra kita. Selanjutnya kita
(orang atau individu) menafsirkan persepsi kita atas rangsangan itu sebagai
suatu hal yang positif (menyenangkan, menarik) atau negative (menakutkan, ingin
menghindar) yang selanjutnya kita terjemahkan ke dalam respons- respons
fisiologis dan motoris (jantung berdebar, mulut menganga, bulu roma berdiri,
mata merah, dan sebagainya) dan pada saat itulah terjadi emosi.
2.
Emosi dalam Perspektif Al- Qur’an
Hikmah
Allah SWT. Menuntut agar manusia, demikian pula hewan, membekali dirinya dengan
emosi yang juga akan membantunya dalam kelangsungan hidupnya. Emosi takut
misalnya, akan mendorong kita untuk menjauhi bahaya yang mengancam hidup kita.
Emosi marah akan mendorong kita untuk mempertahankan diri dan berjuang demi
kelangsungan hidup. Emosi cinta merupakan dasar keharmonisan antara dua insane
yang berbeda jenis dan daya tarik keduanya adalah untuk menjaga kelangsungan
keturunan.
Emosi
akan mengarahkan perilaku seperti halnya motif. Emosi takut akan mendorong
manusia untuk lari dari bahaya. Emosi marah akan mendorong manusia untuk
mempertahankan diri dan terkadang juga mendorongnya pada permusuhan. Emosi
cinta akan mendorong manusia untuk mendekatkan diri kepaada objek yang
dicintainya.
Dalam
Al-Qur’an dikemukakan gambaran yang cermat tentang berbagai emosi yang dirasakan
manusia, seperti takut, marah, cinta, senang, benci, cemburu, hasud, sesal,
malu, dan sebagainya.
Emosi
takut termasuk emosi yang penting dalam kehidupan manusia. Seperti rasa takut,
manfaat takut tidak hanya terbatas pada menjaga manusia dari bahaya yang
mengancam pada kehidupan duniawi, tetapi juga manfaat paling penting adalah
mendorong orang mukmin agar menjaga diri dari azab Allah SWT, pada kehidupan
akhirat. Dengan demikian, takut kepada siksaan Allah SWT akan mendorong orang
mukmin agar tidak terjerumus ke dalam kemaksiatan, berpegangan pada ketakwaan,
teratur dalam beribadah kepada Allah SWT dan mengerjakan amal- amal yang
di-Ridhoi-Nya.
Artinya: “ sesungguhnya
orang- orang yang beriman adalah mereka yang apabila menyebut nama Allah
gemetar hatinya dan apabila dibacakan ayat- ayat-Nya kepada mereka, bertambah
(kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.”
Emosi
takut adalah suatu kondisi berupa gangguan yang tajam yang dapat menimpa semua
individu. Al-Qur’an menggambarkan gangguan tersebut dengan keguncangan hebat
yang mengguncang manusia dengan hebat sehingga menghilangkan kemampuan berpikir
dan pengendalian diri.
Al-Qur’an
juga menjelaskan tentang cinta kepada Allah SWT adalah tujuan setiap mukmin.
Cinta kepada Allah SWT merupakan kekuatan pendorong untuk takut kepada Allah
SWT dan Rasulullah SAW.
Cinta seorang mukmin
kepada Allah SWT akan melampaui cintanya kepada dirinya, anak-anak, istri, ibu,
bapak, keluarga, dan hartanya.
Artinya: “ Katakanlah,
jika bapak- bapakmu, anak- anakmu, istri- istrimu, keluargamu, harta kekayaan
yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-
rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya
serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan
keputusan-Nya. Dan Allah tidak member petunjuk kepada orang- orang fasik.”
Cinta
dan ibadah seorang mukmin kepada Allah SWT merupakan kebutuhan yang paling
luhur dan tujuan yang paling puncak. Dengan cinta dan ibadah itu, seorang
mukmin dapat mewujudkan sebesar- besarnya kebahagiaan, kegembiraan, kesenangan,
keamanan, dan ketentraman, baik dunia maupun akhirat.
3.
Teori- Teori
Emosi
a.
Teori Sentral
Teori
sentral ini dikemukakan oleh Walter B. Canon. Menurut teori ini, gejala
kejasmanian termasuk tingkah laku merupakan akibat emosi yang dialami oleh
individu. Jadi, individu mengalami emosi lebih dahulu baru kemudian mengalami
perubahan- perubahan dalam jasmaninya. Dengan demikian menurut teori ini dapat
dikatakan bahwa emosilah yang menimbulkan tingkah laku dan bukan sebaliknya.
b.
Teori Peripheral
Menurut
teori ini justru sebaliknya dari teori sentral. Teori ini mengemukakan bahwa
gejala- gejala kejasmanian bukanlah merupakan akibat dari emosi yang dialami
oleh individu, melainkan emosi yang dialami oleh individu itu sebagai akibat
dari gejala- gejala kejasmanian. Menurut teori ini bukannya seseorang takut
hingga lari, melainkan karena lari menyebabkan seseorang menjadi takut.
Demikian pula seseorang tidak menangis karena susah, tetapi sebaliknya susah
karena menangis. Jelasnya, seseorang yang takut itu disebabkan karena adanya
ketegangan otot akibat lari.
Teori
ini dikemukakan oleh James dan Lange (1884-1885), dua orang tokoh dari dua
tempat, mengemukakan teori yang sama dalam waktu yang berurutan. James adalah
Psikolog kebangsaan Amerika, sedangkan Lange Psikolog dari Denmark. Oleh karena
itu teori ini sering disebut teori James-Lange, yang lebih menitikberatkan pada
hal- hal yang bersifat sentral.
James- Lange
mengemukakan proses- proses terjadinya emosi dihubungkan dengan factor fisik
dengan urutan sebagai berikut:
1.
Mempersepsikan situasi di lingkungan yang mungkin
menimbulkan emosi
2.
Memberikan reaksi terhadap situasi dengan pola khusus
melalui aktivitas fisik
3.
Mempersiapkan pola aktivitas fisik yang mengakibatkan
munculnya emosi secara khusus.
Uraian ini dapat
disingkat menjadi :
Lingkungan-
Otak- Perubahan pada Tubuh+ Emosi
James-
Lange menghasilkan lima tingkatan emosi dalam proses emosi yang terdiri dari:
a.
Situasi
b.
Persepsi tentang situasi
c.
Perubahan- perubahan dalam tubuh
d.
Perbuatan yang terlihat, misalkan melarikan diri dari
bahaya
e.
Keadaan sadar dari emosi
c.
Teori Kepribadian
Menurut
teori ini, emosi merupakan suatu aktivitas pribadi dimana pribadi tidak dapat
dipisahkan dalam jasmani dan psikis sebagai dua substansi yang terpisah karena
itu, maka emosi meliputi pula perubahan- perubahan kejasmanian.
d.
Teori Kedaruratan Emosi
Teori
ini dikemukakan oleh Cannon. Teori ini mengemukakan bahwa reaksi yang mendalam
dari kecepatan jantung yang semakin bertambah akan menambah cepatnya aliran
darah menuju ke urat-urat, hambatan pada pencernaan, pengembangan atau pemuaian
kantung- kantung di dalam paru- paru dan proses lainnya yang mencirikan secara
khas keadaan emosional seseorang, kemudian menyiapkan organism untuk melarikan
diri atau berkelahi, sesuai dengan penilaian terhadap situasi yang ada oleh
otak (Chaplin,1989).
Diskusi
dalam khazanah psikologi tentang masalah emosi adalah mengenai hubungan antara
perasaan dengan emosi dan juga hubungan antara emosi dengan motivasi.
Pengalaman menunjukkan bahwa apabila seseorang termotivasi maka akan terangsang
secara emosional untuk melakukan suatu kegiatan dengan intensitas tinggi.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa emosi berhubungan erat dengan motivasi.
Berdasarkan
uraian diatas, kita sependapat bahwa perbuatan atau tingkah laku seseorang
merupakan akibat dari emosi yang dialami orang tersebut, bukan sebaliknya.
Sebagaimana dicontohkan diatas, seseorang bukan susah karena menangis,
melainkan seseorang menangis karena susah. Hubungannya dengan motivasi adalah karena
termotivasi, seseorang kemudian mengalami emosi yang pada akhirnya berbuat sesuatu
atau bertingkah laku tertentu.
Teori
Emosi Dasar
|
Nama Pakar
|
Emosi Dasar
|
Dasar Pengambilan Kesimpulan
|
|
Arnold
|
Marah, enggan, berani, kecewa, hasrat, putus asa,
takut, benci, berharap cinta, sedih
|
Hubungan dengan kecenderungan- kecenderungan
|
|
Ekman, Friesen, dan Ellsworth
|
Marah, jijik, takut, gembira, sedih, kejutan
|
Ekspresi wajah universal
|
|
Frijda
|
Hasrat, bahagia, minat, kejutan, kaget, duka
|
Bentuk kesiapan bertindak
|
|
Gray
|
Gusar, terror,cemas, gembira
|
Bakat
|
|
Izard
|
Marah, jijik, tidak suka, stress, takut, rasa
bersalah, minat, gembira, malu, kejutan
|
Bakat
|
|
James
|
Takut, duka, cinta, gusar
|
Keterlibatan tubuh
|
|
McDougall
|
Marah, jijik, gembira, takut, tidak berdaya, perasaan
lembut, kagum
|
Hubungan dengan naluri
|
|
Mowrer
|
Sakit, senang
|
Keadaan emosi yang tidak di pelajari
|
|
Oatley dan Johnson Laird
|
Marah, jijik, cemas, bahagia, sedih
|
Tidak memerlukan tujuan tertentu
|
|
Panksepp
|
Berharap, takut, gusar, takut, panic
|
Bakat
|
|
Plutchik
|
Pasrah, marah, antisipasi, jijik, gembira, takut,
sedih, kejutan
|
Hubungan dengan proses adaptasi biologis
|
|
Tomkins
|
Marah, inerest, jijik, tidak suka, stress, takut,
gembira, malu, kejutan
|
Besarnya rangsangan syaraf
|
|
Watson
|
Takut, cinta, gusar
|
Bakat
|
|
Weiner dan Graham
|
Bahagia, sedih
|
Atribusi mandiri
|
Tebel diatas merupakan
teori emosi dasar menurut para pakar psikologi.
4.
Bentuk- Bentuk Emosi
Meskipun
emosi itu sedemikian kompleksnya, namun Daniel Goleman (1995) mengidentifikasi
sejumlah kelompok emosi, yaitu sebagai berikut:
a.
Amarah, didalamnya meliputi brutal, mengamuk, benci,
marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa pahit, berang, tersinggung,
bermusuhan, tindak kekerasan, dan kebencian patologis.
b.
Kesedihan, meliputi pedih, sedih muram, suram,
melankolis, mengasihani diri, kesepian, ditolak, putus asa, dan depresi.
c.
Rasa takut, meliputi cemas, takut, gugup, khawatir,
waswas, perasaan takut sekali, sedih, waspada, tidak tenang, ngeri, kecut,
panic, dan fobia.
d.
Kenikmatan, meliputi bahagia, gembira, ringan puas,
riang, senang, terhibur, bangga, kenikmatan indrawi, takjub, terpesona, puas,
rasa terpenuhi, girang, senang sekali, dan mania.
e.
Cinta, di dalamnya meliputi penerimaan, persahabatan,
kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kasmaran dan kasih
sayang.
f.
Terkejut, meliputi terkesiap, takjub, terpana.
g.
Jengkel, meliputi hina, jijik, muak, mual, benci, tidak
suka dan mau muntah.
h.
Malu, di dalamnya meliputi rasa bersalah, malu hati,
kesal hati, menyesal, hina, aib, dan hati hancur lebur.
Dari
daftar emosi tersebut, berdasarkan temuan penelitian Paul Ekman dari University
of California di San Fransisco (Goleman,1995) ternyata ada bahasa emosi yang
terkenal oleh bangsa- bangsa di seluruh dunia yaitu emosi yang diwujudkan dalam
bentuk ekspresi wajah yang di dalamnya mengandung emosi takut, marah, sedih,
dan senang. Ekspresi wajah seperti ini benar- benar dikenali oleh bangsa-
bangsa di seluruh dunia meskipun memiliki budaya yang berbeda, bahkan termasuk
bangsa- bangsa yang buta huruf, tidak terpengaruh oleh film, dan siaran
televisi. Dengan demikian ekspresi wajah sebagai representasi dari emosi itu
memiliki universalitas tentang perasaan emosi tersebut. Kesimpulan ini diambil
setelah Paul Ekman melakukan penelitian dengan cara memperlihatkan foto- foto
wajah yang menggambarkan ekspresi- ekspresi emosi tersebut diatas kepada
orang-orang yang memiliki keterpencilan budaya, yaitu suku Fore di Papua
Nugini, suku terpencil berkebudayaan Zaman Batu di dataran tinggi terasing.
Hasilnya ternyata mereka semua mengenali emosi yang tergambar pada ekspresi
wajah dalam foto- foto tersebut.
5.
Fungsi Emosi
Secara ringkas, fungsi
emosi dapat dipaparkan sebagai berikut:
a.
Membantu persiapan tindakan (preparing us for action).
Emosi bertindak sebagai penghubung antara peristiwa eksternal di lingkungan
dengan respon perilaku individu. Sebagai contoh, apabila kita bertenu seekor
anjing yang kelihatan sedang marah, reaksi emosi (rasa takut) akan
diasosiasikan dengan terbangkitnya fisiologis yaitu divisi sympathetic dari
system syaraf otonom. Selanjutnya divisi sympathetic menyiapkan kita akan
sebuah tindakan darurat yaitu lari secepat mungkin.
b.
Membentuk perilaku akan datang (shaping our future
behavior). Emosi membantu kita menyadiakan simpanan respon untuk perilaku di
masa datang. Sebagai contoh, respon emosional yang diambil seseorang ketika
dikejar anjing (takut hingga degup jantung bertambah cepat) memberitahu orang
orang tersebut untuk menghindari tempat atau situasi yang serupa di masa
datang. Serupa, emosi yang menyenangkan bertindak sebagai reinforcement yang
mengajarkan orang untuk mencari situasi yang serupa dengan situasi menyenangkan
tersebut, termasuk perilaku apa yang seharusnya dilakukan. Contohnya, adalah
emosi cinta yang kita rasakan saat bertemu kekasih. Ada degup jantung yang
berdebar dan muka memerah, membuat kita ingin terus bertemu.
c.
Membantu kita untuk mengatur interaksi social (helping
us to regulate social interaction). Ekspresi yang diekspresikan menjadi sinyal
dan membantu kita dalam berinteraksi, khususnya bagaimana seharusnya perilaku
kita. Sebagai contoh ketika kita bertemu teman yang sedang tampak sedih tanpa
kita mengetahui sebabnya, namun ekspresi sedihnya tersebut memberi tahu kita
bahwa sebaiknya kita jangan mengajak bergurau.
6.
Pengelompokan Emosi
Menurut
Syamsu Yusuf (2003) emosi individu dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian
yaitu:
a.
Emosi sensoris
Yaitu
emosi yang ditimbulkan oleh rangsangan dari luar terhadap tubuh, seperti rasa
dingin, manis, sakit, lelah, kenyang, lapar.
b.
Emosi psikis
Yaitu
emosi yang mempunyai alasan- alasan kejiwaan seperti perasaan intelektual, yang
berhubungan dengan ruang lingkup kebenaran perasaan social, yaitu perasaan yang
terkait dengan hubungan dengan orang lain, baik yang bersifat perorangan maupun
kelompok. Emosi psikis terdiri dari:
-
Perasaan susila, yaitu perasaan yang berhubungan dengan
nilai- nilai baik dan buruk atau etika (moral)
-
Perasaan keindahan, yaitu perasaan yang berhubungan
dengan keindahan akan sesuatu, baik yang bersifat kebendaan maupun kerohanian
-
Perasaan ke-Tuhanan, sebagai fitrah manusia sebagai
makhluk Tuhan (Homo Divinas) dan makhluk beragama (Homo Religious)
-
Perasaan intelektual, yaitu yang mempunyai sangkut paut
dengan ruang lingkup kebenaran. Perasaan ini diwujudkaan dalam bentuk rasa
yakin dan tidak yakin terhadap suatu karya ilmiah, rasa gembira kerena
mendapatkan suatu kebenaran, rasa puas karena dapat menyelasaikan persoalan-
persoalan ilmiah yang harus dipecahkan
-
Perasaan social, yaitu perasaan yang menyangkut
hubungan dengan orang lain, baik bersifat perorangan maupun kelompok. Wujud
perasaan ini seperti rasa solidaritas, persaudaraan, simpati, dan sebagainya.
7.
Hubungan antara Emosi dan Tingkah Laku
Melalui
teori ‘kecerdasan emosional yang dikembangkan oleh Daniel Goleman (1995)
mengemukakan sejumlah cirri utama pikiran emosional sebagai bukti bahwa emosi
memainkan peranan penting dalam pola berfikir maupun tingkah laku individu.
Adapun cirri utama pikiran emosional tersebut adalah sebagai berikut:
a.
Respons yang cepat tapi ceroboh
Bahwa
pikiran yang emosional itu ternyata jauh lebih cepat daripada pikiran yang
rasional karena pikiran emosional sesunggunya langsung melompat bertindak tanpa
mempertimbangkan apapun yang akan dilakukannya. Karena kecepatannya itu
sehingga sikap hati- hati dan proses analitis dalam berfikir dikesampingkan
begitu saja sehingga tidak jarang menjadi ceroboh. Padahal kehati-hatian dan
analitis itu sesungguhnya merupakan cirri khas dari proses kerja akal dalam
berpikir. Namun demikian di sisi lain, pikiran emosional juga memiliki suatu
kelebihan, yaitu membawa rasa kepastian yang sangat kuat dan di luar jangkauan
normal sebagaimana sebagaimana yang dilakukan pikiran rasional. Misalnya,
seorang wanita yang karena sangat takut dan terkejutnya melihat binatang yang
selama ini sangat di takutinya sehingga dia mampu melompati parit yang menurut
ukuran pikiran rasional tidak akan mungkin dapat dilakukannya.
b.
Mendahulukan perasaan kemudian pikiran
Pada
dasarnya pikiran rasional sesungguhnya membutuhkan waktu sedikit lama
dibandingkan dengan pikiran emosional sehingga dorongan yang terlebih dahulu
muncul adalah dorongan hati atau emosi, kemudian dorongan pikiran. Dalam urutan
respons yang cepat perasaan mendahului atau minimal berjalan serempak dengan
pikiran. Reaksi emosional gerak cepat ini lebih tampak menonjol dalam situasi-
situasi yang mendesak dan membutuhkan tindakan penyelamatan diri. Keputusan
model ini menyiapkan individu dalam sekejap untuk siap siaga menghadapi keadaan
darurat. Disinilah keuntungan keputusan- keputusan cepaat yang didahului oleh
perasaan atau emosi. Namun demikian, di sisi lain ada juga reaksi emosional
jenis lambat yang lebih dahulu melakukan penggodokan dalam pikiran sebelum mengalirkannya
ke dalam perasaan. Keputusan model kedua ini sifatnya lebih disengaja dan
biasanya individu lebih sadaar terhadap gagasan- gagasan yang akan
dikemukakannya. Dalam reaksi emosional jenis ini, ada suatu pemahaman yang
lebih luas dan pikiran memainkan peranan kunci dalam menentukan emosi- emosi
apa yang akan dicetuskannya.
c.
Memperlakukan realitas sebagai realitas simbolik
Logika
pikiran emosional yang disebut juga logika hati bersifat asosiatif. Artinya
memandang unsure- unsure yang melambangkan suatu realitas itu sama dengan
realitas itu sendiri. Oleh sebab itu, seringkali berbagai perumpamaan, pantun,
kiasan, gambaran, karya seni, novel, film, puisi, nyanyian, opera dan teater
secara langsung ditunjukkan kepada pikiran emosional. Para ulama, penyiar
agama, dan paraguru spiritual termasyhur ketika menyampaikan ajaran- ajarannya
senantiasa berusaha menyentuh hati para pengikutnya dengan cara berbicara
dengan bahasa emosi, danmengajar melalui perumpamaan, fable, dan kisah- kisah
yang sangat menyentuh perasaan. Oleh karena itu, ajaran orang- orang bijak
dengan cepat mudah dimengerti, dihayati, dan diterima oleh para pengikutnya.
Jika dilihat dari sudut pandang pikiran rasional, sesungguhnya symbol- symbol
dan berbagai ritual keagamaan tidak sedemikian bermakna jika dibandingkan
dengan sudut pandang pikiran emosional.
d.
Masa lampau diposisikan sebagai masa sekarang
Dan
sudut pandang ini, apabila sejumlah cirri suatu peristiwa tampak serupa dengan kenangan
masa lampau yang mengandung muatan emosi maka pikiran emosional akan
menanggapinya dengan memicu perasaan yang berkaitan dengan peristiwa yang
diingat. Pikiran emosional bereaksi terhadap keadaan sekarang seolah- olah
keadaan itu adalah masa lampau. Kesulitannya adalah terutama apabila penilaian
terhadap masa lampau itu cepat dan otomatis, barangkali kita tidak menyadari
bahwa yang dahulu memang begitu, ternyata sekarang sudah tidak lagi seperti
itu. Dalam konteks ini, Sigmund Freud melukiskan dengan begus sekali, yaitu
bahwa seseorang pada masa anak- anak sering mendapat pukulan yang menyakitkan,
setelah dewasa akan beraksi terhadap hardikan atau kemarahan dengan perasaan
sangat takut atau kebencian, meskipun sebenarnya hardikan atau kemarahan itu tidak
lagi menimbulkan ancaman seperti yang dialaminya pada masa lampau.
e.
Realitas yang ditentukan oleh keadaan
Pikiran
emosional individu banyak ditentukan oleh keadaan dan di diktekan oleh perasaan
tertentu yang sedang menonjol pada saat itu. Cara seseorang berfikir dan
bertindak pada saat merasa senang dan romantis akan sangat berbeda dengan
perilakunya ketika sedang dalam keadaan sedih, marah, atau cemas. Dalam
mekanisme emosi itu ada repertoar pikiran, reaksi, bahkan ingatannya sendiri.
Repertoar menjadi sangat menonjol pada saat disertai intensitas emosi yang
tinggi.
B. PERKEMBANGAN
EMOSI
1.
Faktor- Faktor yang Memengaruhi Perkembangan Emosi
Terdapat
beberapa factor yang dapat memengaruhi perkembangan emosi pada diri seseorang,
diantaranya:
a.
Perubahan jasmani atau fisik
Perubahan
atau pertumbuhan yang berlangsung cepat selama masa puber menyebabkan keadaan
tubuh menjadi tidak seimbang. Ketidakseimbangan ini memengaruhi kondisi psikis
remaja. Tidak setiap remaja siap menerima perubahan yang dialami, karena tidak
semuanya menguntungkan. Terutama perubahan tersebut memengaruhi penampilannya.
Hal ini menyebabkan rangsangan di dalam tubuh remaja yang sering kali
menimbulkan masalah dalam perkembangan psikisnya khususnya perkembangan
emosinya.
b.
Perubahan dalam hubungan dengan orangtua
Pemberontakan
terhadap orang tua mennjukkan bahwa mereka berada dalam konflik dan ingin melepaskan
diri dari pengawasan orang tua. Mereka tidak merasa puas kalau tidak pernah
sama sekali menunjukkan perlawanan terhadap orang tua karena ingin menunjukkan
seberapa jauh dirinya telah berhasil menjadi orang yang lebih dewasa. Jika
mereka berhasil dalam perlawanan terhadap orang tua sehingga orang tua menjadi
marah, mereka pun belum merasa puas karena orang tua tidak menunjukkan
pengertian yang mereka inginkan. Keadaan semacam ini sangat berpengaruh
terhadap perkembangan emosi remaja.
c.
Perubahan dalam hubungan dengan teman-teman
Remaja
sering kali membangun interaksi sesame teman sebayanya secara khas dengan cara
berkumpul untuk melakukan aktivitas bersama dengan membentuk sebuah genk.
Interaksi dantar anggota dalam kelompok genk biasanya sangat intens serta
memiliki solidaritas yang sangat tinggi. Pembentukan kelompok dalam bentuk genk
sebaiknya dilakukan pada masa remaja awal karena biasanya bertujuan positif,
yaitu untuk memenuhi minat mereka bersama. Usahakan dapat menghindari
pembentukan genk pada masa remaja tengah ataupun remaja akhir. Karena pada masa
ini para anggotanya biasanya membutuhkan teman- teman untuk melawan otoritas
atau melakukan perbuatan yang tidak baik atau bahkan kejahatan bersama. Yang
paling sering mendatangkan masalah adalah hubungan percintaan antara lawan
jenis dikalangan remaja. Pada masa remaja tengah biasanya remaja benar- benar
mulai jatuh cinta dengan lawan jenisnya. Gejala ini sebenarnya sehat bagi
remaja, tetapi tidak jarang juga menimbulkan konflik atau gangguan emosi pada
remaja jika tidak diikuti dengan bimbingan dari orang tua atau orang yang lebih
dewasa. Oleh sebab itu, tidak jarang orang tua justru merasa tidak gembira atau
bahkan cemas ketika anak remajanya jatuh cinta.
Gangguan
emosional yang mendalam dapat terjadi ketika cinta remaja tidak terjawab atau
karena pemutusan hubungan cinta dari satu pihak sehingga dapat menimbulkan
kecemasan bagi orang tua dan bagi remaja itu sendiri. Percintaan dikalangan
remaja juga terkadan menimbulkan konflik dengan orang tua, karena ada
kekhawatiran dari pihak orangtua kalau terjadi hal- hal yang diluar batas
sehingga mereka melarang anaknya pacaran.
d.
Perubahan pandangan luar
Factor
penting yang dapat memengaruhi perkembangan emosi remaja selain perubahan-
perubahan yang terjadi dalam diri remaja itu sendiri adalah pandangan dunia
luar dirinya. Ada sejumlah pandangan dunia luar yang dapat menyebabkan konflik-
konflik emosional dalam diri remaja, yaitu sebagai berikut :
-
Sikap dunia luar terhadap remaja sering tidak
konsisten. Kadang- kadang mereka dianggap sudah dewasa, tetapi mereka tidak
mendapat kebebasan penuh atau peran yang wajar sebagaimana orang dewasa.
Seringkali mereka masih dianggap anak kecil sehingga menimbulkan kejengkelan
pada diri remaja. Kejengkelan yang mendalam dapat berubah menjadi tingkah laku
emosional.
-
Dunia luar atau masyarakat masih menerapkan nilai-
nilai yang berbeda untuk remaja laki- laki dan perempuan. Kalau remaja laki-
laki memiliki banyak teman perempuan mereka mendapat predikat popular dan
mendatangkan kebahagiaan. Sebaliknya, apabila remaja perempuan memiliki banyak
teman laki- laki sering dianggap tidak baik atau bahkan mendapat predikat yang
kurang baik. Penerapan nilai yang berbeda semacam ini jika tidak disertai
dengan pemberian pengertian secara bijaksna dapat menyebabkan bertingkah laku
emosional.
-
Seringkali kekosongan remaja dimanfaatkan oleh pihak
luar yang tidak bertanggung jawab, yaitu dengan cara melibatkan remaja tersebut
ke dalam kegiatan- kegiatan yang merusak dirinya dan melanggar nilai- nilai
moral. Misalnya, penyalahgunaan obat terlarang, minum minuman keras, serta
tindak criminal dan kekerasan. Perlakuan dunia luar semacam ini akan sengat
merugikan perkembangan emosional remaja.
e.
Perubahan dalam hubungannya dengan sekolah
Pada
masa anak- anak, sebelum menginjak masa remaja, sekolah merupakan tempat
pendidikan yang diidealkan oleh mereka. Para guru merupakan tokoh yang sangat
penting dalam kehidupan mereka karena selai tokoh intelektual, guru juga
merupakan tokoh otoritas bagi para peserta didiknya. Oleh karena itu, tidak
jarang anak- anak lebih percaya, lebih patuh, bahkan lebih takut kepada guru
daripada kepada orangtuanya. Posisi guru semacam ini sangat strategis untuk
pengembangan emosi anak melalui penyampaian materi- materi yang positif dan
konstruktif.
Namun
demikian, tidak jarang terjadi bahwa figure sebagai tokoh tersebut, guru
memberikan ancaman- ancaman tertentu kepada para peserta didiknya. Peristiwa
semacam ini sering tidak di sadari oleh para guru bahwa dengan ancaman- ancaman
tersebut sebenarnya dapat menambah permusuhan saja dari anak- anak seteah anak-
anak tersebut menginjak masa remaja. Cara- cara seperti ini akan memberikan
stimulus negative bagi perkembangan emosi anak.
Dalam
pembaruan, para remaja sering terbentur pada nilai- nilai yang tidak dapat
mereka terima atau yang sama sekali bertentangan dengan nilai- nila yang yang
menarik bagi mereka. Pada saat itu, timbullah idealisme untuk mengubah
lingkungannya. Idealisme seperti ini tentunya tidak boleh diremehkan dengan
anggapan bahwa semuanya akan muncul jika mereka sudah dewasa. Sebab, idealisme
yang dikecewakan dapat berkembang menjadi tingkah laku emosional yang
destruktif. Sebaliknya, kalau remaja berhasil diberikan penyaluran yang positif
untuk mengembangkan idealismenya akan sangat bermanfaat bagi perkembangan
mereka sampai memasuki mas dewasa.
Menginjak
remaja mungkin mereka mulai menyadari betapa pentingnya pendidikan untuk
kehidupan di masa mendatang. Hal ini sedikit banyak akan menyebabkan kecemasan
sendiri bagi remaja. Lebih lanjut berkaitan dengan apa yang akan mereka lakukan
setelah lulus.
f.
Pengalaman traumatic
Kejadian-
kejadian traumatis massa lalu dapat memengaruhi perkembangan emosi seseorang,
dampaknya jejak rasa takut dan sikap terlalu waspada yang ditimbulkan dapat
berlangsung seumur hidup. Kejadian- kejadian traumatis tersebut dapat bersumber
dari lingkungan keluarga maupun lingkungan di luar keluarga (Astuti, 2005).
g.
Tempramen
Tempramen
dapat didefinisikan sebagai suasana hati yang mencirikan kehidupan emosional
kita. Hingga tahap tertentu masing- masing individu memiliki kisaran emosi
sendiri- sendiri, tempramen merupakan bawaan sejak lahir, dan merupakan bagian
dari genetic yang mempunyai kekuatan hebat dalam rentang kehidupan manusia
(Astuti, 2005).
h.
Jenis kelamin
Perbedaan
jenis kelamin memiliki pengaruh yang berkaitan dengan adanya perbedaan hormonal
anatara laki- laki dan perempuan, peran jenis maupun tuntutan social yang
berpengaruh pula terhadap adanya perbedaan karakteristik emosi diantara
keduanya (Astuti, 2005).
i.
Usia
Perkembangan
kematangan emosi yang dimiliki seseorang sejalan dengan pertambahan usianya.
Hal ini di karenakan kematangan emosi dipengaruhi oleh tingkat pertumbuhan dan
kematangan fisiologis seseorang. Ketika usia semakin tua, kadar hormonal dalam
tubuh turut berkurang, sehingga mengakibatkan penurunan pengaruhnya terhadap
kondisi emosi (Maloney, dalam Puspitasari Nuryoto, 2001).
j.
Perubahan atau penyesuaian dengan lingkungan baru
a.
Perubahan yang radikal menyebabkan perubahan terhadap
pola kehidupannya
b.
Adanya harapan social untuk perilaku yang lebih matang
c.
Aspirasi yang tidak realistis
Selain hal- hal yang
telah disebutkan diatasm kiranya factor- factor tersebut di kerucutkan menjadi
dua factor yaitu :
a.
Factor internal, pada umumnya emosi seseorang muncul
berkaitan erat dengan apa yang dirasakan seseorang secara individu. Adapun
gangguan emosi yang mereka alami antara lain:
-
Merasa tidak terpenuhi kebutuhan fisik mereka secara
layak sehingga timbul ketidakpuasan, kecemasan, dan kebencian yang mereka alami
-
Merasa dibenci dan di sia-siakan, tidak mengerti dan
tidak diterima oleh lingkungan
-
Merasa lebih banyak dirintangi, dibantah, dipatahkan
daripada diberi sokongan, dorongan, semangat
-
Merasa tidak mampu
b.
Factor eksternal, menurut Hulrlock dan Cole, factor
yang memengaruhi emosi positif adalah sebagai berikut:
-
Orang tua dan guru memperlakukan mereka seperti anak
kecil sehingga harga diri mereka terasa dilecehkan
-
Apabila di rintangi akan membina keakraban dengan lawan
jenis
-
Disikapi tidak adil oleh orangtua
-
Merasa kebutuhannya tidak terpenuhi oleh orangtua
Sejumlah
penelitian tentang emosi remaja menunjukkan bahwa perkembangan emosi mereka
bergantung pada factor kematangan dan factor belajar. Kematangan dan belajar
terjalin erat satu sama lain dalam memengaruhi perkembangan emosi. Perkembangan
intelektual menghasilkan kemampuan untuk memahami makna sebelumnya yang tidak
dimengerti dimana itu menimbulkan emosi terarah pada satu objek. Kemampuan mengingat
juga memengaruhi reaksi emosional. Dan itu menyebabkan anak- anak menjadi
reaktif terhadap rangsangan yang tadinya tidak memengaruhi mereka pada usia
yang lebih muda.
Sejumlah
penelitian tentang emosi anak menunjukkan bahwa perkembangan emosi mereka
bergantung kepada factor kematangan dan factor belajar (Hurlock,2002:154).
Reaksi emosional yang tidak muncul pada awal kehidupan tidak berarti tidak ada,
reaksi tersebut mungkin akan muncul di kemudian hari, dengan berfungsinya
system endokrin. Kematangan dan belajar terjalin erat satu sama lainnya dalam
mememngaruhi perkembangan emosi.
Untuk mencapai
kematangan emosi, remaja harus belajar memperoleh gambaran tentang situasi yang
dapat menimbulkan reaksi emosional. Adapun caranya adalah dengan membicarakan
berbagai masalah pribadinya dengan orang lain. Keterbukaan perasaan dan masalah
pribadi dipengaruhi sebagian oleh rasa aman dalam hubungan social dan sebagian
oleh tingkat kesukarannya pada ‘orang sasaran’ (Hurlock, 2002:213).
Metode belajar yang
menunjang perkembangan emosi antara lain :
a.
Belajar dengan coba- coba, anak belajar dengan coba-
coba akan mengekspresikan emosi dalam bentuk perilaku yang memberikan pemuasan
terbesar kepadanya, dan menolak perilaku yang memberikan pemuasan sedikit atau
sama sekali tidak memberikan kepuasan. Cara belajar ini lebih umum digunakan
pada masa anak- anak awal di bandingkan dengan sesudahnya.
b.
Belajar dengan meniru, dengan cara mengamati hal- hal
yang membangkitkan emosi orang, anak- anak bereaksi dengan emosi dan metode
ekspresi yang sama dengan yang diamati.
c.
Belajar dengan cara mempersamakan diri (learning by
identification)
Anak menirukan reaksi
emosional orang lain yang tergugah oleh rangsangan yang telah membangkitkan
emosi yang ditiru. Disini mereka akan menirukan orang yang hanya dikagumi dan
mempunyai ikatan emosional yang kuat dengannya.
d.
Belajar melalui pengkondisian
Denganmetode ini objek
situasi yang pada mulanya gagal memancing reaksi emosional, kemudian dapat
berhasil dengan cara asosiasi. Pengkondisian ini terjadi dengan mudah dan cepat
pada tahun- tahun awal kehidupan. Pada masa remaja metode pengkondisian semakin
terbatas pada perkembangan rasa suka dan tidak suka.
e.
Belajar di bawah bimbingan dan pengawasan, terbatas
pada aspek reaksi (Sunarto, 2002).
Kepada remaja diajarkan
cara bereaksi yang dapat diterima jika suatu emosi terangsang. Dengan
pelatihan, mereka dirangsang untuk bereaksi terhadap rangsangan yang biasanya
membangkitkan emosi yang menyenangkan dan di cegah agar tidak bereaksi secara
emosional terhadap rangasangan yang membangkitkan emosi yang tidak
menyenangkan.
2.
Tahapan Perkembangan Emosi
Masa
remaja merupakan masa peralihan antara masa anak- anak ke masa dewasa. Pada
masa ini, remaja mengalami perkambangan mencapai kematangan fisik, mental, social,
dan emosional. Umumnya, masa ini berlangsung sekitar umur 13 tahun sampai umur
18 tahun, yaitu masa anak duduk di bangku sekolah menengah. Masa ini biasanya
dirasakan sebagai mas sulit, baik bagi remaja itu sendiri maupun bagi keluarga,
atau lingkungannya.
Karena
pada masa peralihan antara masa anak- anak dan masa dewasa, status remaja agak
kabur, baik bagi dirinya maupun bagi lingkungannya. Conny Semiawan (1989)
mengibaratkan: ‘terlalu besar untuk serbet, terlalu kecil untuk taplak meja’
karena sudah bukan anak- anak lagi tetapi juga belum dewasa. Masa remaja
biasanya memiliki energy yang besar, emosi berkobar- kobar, sedangkan
pengendalian diri belum sempurna. Remaja juga sering mengalami perasaan tidak
aman, tidak tenang, dan khawatir kesepian.
Adapun karakteristik
emosional remaja berusia 12-15 tahu adalah sebagai berikut :
a.
Pada usia ini seorang siswa/anak cenderung banyak
murung dan tidak dapat diterka. Sebagian kemurungan sebagai akibat dari
perubahan- perubahan biologis dalam hubungannya dengan kematangan seksual dan
sebagian karena kebingungannya dalam menghadapi apakah dia masih sebagai anak-
anak atau sebagai seorang dewasa.
b.
Bertingkah laku kasar untuk menutupi kekurangan dalam
hal rasa percaya diri.
c.
Ledakan- ledakan kemarahan bias terjadi akibat dari
kombinasi ketegangan psikologis, ketidakstabilan biologis, dan kelelahan karena
bekerja terlalu keras atau pola makan tidak tepat atau tidur yang tidak cukup.
d.
Remaja cenderung tidak toleran terhadap orang lain dan
membenarkan pendapatnya sendiri yang disebabkan kurangnya rasa percaya diri.
e.
Remaja mulai mengamati orang tua dan guru- guru mereka
secara lebih objektif dan mungkun menjadi marah apabila mereka ditipu dengan
gaya guru yang bersikap serba tau.
Sedangkan karakteristik
emosional remaja usia 15-18 tahun yaitu :
a.
Pemberontakan remaja merupakan pernyataan- pernyataan
ekspresi dari perubahan yang universal dari masa anak- anak ke dewasa.
b.
Banyak remaja yang mengalami konflik dengan orang
tuanya. Mereka mengharapkan simpati dan nasihat orang tua atau guru.
c.
Remaja usia ini sering melamun, memikirkan masa depan
mereka. Banyak diantara mereka terlalu tinggi menafsirkan kemampuan mereka
sendiri dan merasa berpeluang besar untuk memasuki pekerjaan atau jabatan
tertentu.
Secara
garis besar masa remaja dapat dibagi kedalam empat periode, yaitu periode
praremaja, remaja awal, remaja tengah, dan remaja akhir. Adapun karakteristik
tiap periode adalah sebagai berikut :
a.
Periode praremaja
Selama
periode ini terjadi gejala- gejala yang hampir sama antara remaja pria maupun
wanita. Perubahan fisik belum tampak jelas, tetapi pada remaja putrid biasanya
memperlihatkan penambahan berat badan yang cepat sehingga mereka merasa gemuk.
Gerakan- gerakan mereka mulai menjadi kaku. Perubahan ini disertai sifat
kepekaan terhadap rangsangan dari luar dan respons mereka biasanya berlebihan
sehingga mereka mudah tersinggung dan cengeng, tetapi juga cepat merasa senang
atau bahkan meledak- ledak.
b.
Periode remaja awal
Selama
periode ini perkembangan fisik yang semakin tampak adalah perubahan fungsi alat
kelamin. Karena perubahan tersebut remaja seringkali mengalami kesukaran dalam
menyesuaikan diri dengan perubahan- perubahan itu. Akibatnya, tidak jarang dari
mereka cenderung menyendiri sehingga merasa terasing, kurang perhatian dari
orang lain, atau bahkan merasa tidak ada orang yang mau mempedulikannya.
Control terhadap dirinya bertambah sulit dan mereka cepat marah dengan cara-
cara yang kurang wajar untuk meyakinkan dunia sekitarnya. Perilaku seperti ini
sesungguhnya terjadi karena adanya kecemasan terhadap dirinya sendiri sehingga
muncul dalam reaksi yang kadang- kadang tidak wajar.
c.
Periode remaja tengah
Tanggung
jawab hidup yang harus semakin ditingkatkan oleh remaja, yaitu mampu memikul secara
lebih bijaksana meskipun belum bias secara penuh. Mereka juga mulai memilih
cara- cara sendiri juga menjadi masalah tersendiri bagi mereka. Karena tuntutan
peningkatan tanggung jawab tidak hanya datang dari orangtua atau anggota
keluarganya tetapi juga dari masyarakat sekitarnya. Tidak jarang masyarakat
juga menjadi masalah bagi remaja. Melihat fenomena yang sering terjadi dalam
masyarakat yang seringkali juga menunjukkan adanya kontradiksi dengan nilai-
nilai moral yang mereka ketahui, tidak jarang remaja mulai meragukan tentang
apa yang disebut baik atau buruk. Akibatnya, remaja seringakali ingin membentuk
nilai- nilai mereka sendiri yang mereka anggap benar, baik, dan pantas untuk
dikembangkan di kalangan mereka sendiri. Lebih- lebih jika orangtua atau orang
dewasa di sekitarnya ingin memaksakan nilai- nilainya agar dipatuhi oleh remaja
tanpa disertai dengan alas an yang masuk akal menurut mereka.
d.
Periode remaja akhir
Selama
periode ini remaja mulai memandang dirinya sebagai orang dewasa dan mulai mampu
menunjukkan pemikiran, sikap, dan perilaku yang semakin dewasa. Oleh karena itu
orang tua dan masyarakat mulai memberikan kepercayaan yang selayaknya kepada
mereka. Interaksi dengan orang tua juga menjadi lebih bagus dan lancer karena
mereka sudah memiliki kebebasan penuh serta emosinya pun mulai stabil. Pilihan
arah hidup sudah semakin jelas dan mulai mampu mengambil keputusan dan pilihan
tentang arah hidupnya hidup yang dapat dipertanggungjawabkan terhadap dirinya
sendiri, orangtua, dan masyarakat.
Anak pada akhir masa
remaja akhir dapat dikatakan telah mencapai kematangan emosional, yang
diharapkan dari padanya, bilamana dia menunjukkan sikap- sikap sebagai berikut:
-
Dia tidak ‘meledak- ledak’ dihadapan banyak orang
karena tidak dapat menahan emosinya lagi.
-
Dia mempertimbangkan dengan kritis terlebih dahulu
suatu situasi, sebelum memberikan reaksi yang dikuasai oleh emosi- emosi. Jadi
keadannya berlainan dengan anak remaja yang lebih awal(muda) yang reaksi-
reaksinya didasarkan atas pandangan- pandangan sepintas lalu saja dari situasi.
-
Dia lebih stabil dalam pemberian reaksi terhadap salah
stu bentuk emosi yang dialami.
Untuk
mencapai kematangan emosional, seorang anak harus mempunyai pandangan yang luas
ke dalam situasi- situasi yang menimbulkan reaksi- reaksi emosional yang hebat.
Hal ini dapat didapatkan bilamana dia bersedia untuk membicarakan problem-
problem dengan orang lain. Pada umumnya remaja dalam masa ini lebih bersedia
untuk membicarkan problem- problemnya dengan orang- orang dewasa, karena dia
tidak khawatir kehilangan kebebasannya seperti anak dalam masa remaja awal.
Seberapa jauh anak mau membicarakan persoalan- persoalannya tergantung dari
rasa senangnya kepada orang yang diajak berbicara.
C. IMPLIKASI
PERKEMBANGAN EMOSI PESERTA DIDIK DALAM PROSES PEMBELAJARAN
a.
Emosi menurut Sarwono (Yusuf, 2005:115) merupakan
keadaan pada diri seseorang yang disertai warna afektif, baik pada tingkat
lemah maupun pada tingkat yang luas. (Baradja, 2005:211) kemudian mengemukakan
beberapa contoh tentang pengaruh emosi terhadap perilaku individu dalam
pembelajaran, diantaranya :
-
Memperkuat dan melemahkan semangat apabila timbul rasa
senang atau kecewa atas hasil belajar yang dicapai
-
Menghambat konsentrasi belajar apabila sedang mengalami
ketegangan emosi
-
Mengganggu penyesuaian social apabila terjadi rasa
cemburu dan iri hati
-
Suasana emosional yang dialami individu semasa kecilnya
akan memengaruhi sikapnya di kemudian hari.
Demikian
pula (Hurlock, 1978:211) mengungkapkan secara jelas bahwa emosi mempengaruhi
cara belajar anak, yaitu :
-
Menyiapkan tubuh untuk melakukan tindakan
-
Reaksi emosional apabila diulang- ulang akan berkembang
menjadi kebiasaan
-
Emosi merupakan suatu bentuk komunikasi
-
Emosi mewarnai pandangan anak
-
Emosi dapat mengganggu aktivitas mental
Pendapat
lain mengungkapkan bahwa emosi merupakan factor dominan yang memengaruhi
tingkah laku individu, dalam hal ini termasuk perilaku belajar. Emosi yang
positif seperti perasaan senang, bersemangat, atau rasa ingin tau akan
memengaruhi individu untuk berkonsentrasi terhadap aktivitas belajar, seperti
memperhatikan penjelasan guru, aktif dalam berdiskusi, mengerjakan tugas, dan
sebagainya (Yusuf, 2005:181).
Berdasarkan pendapat
yang dikemukakan oleh Yusuf, dapat diuraikan bahwa jika yang menyertai proses
belajar itu emosi negative seperti perasaan tidak senang dan kecewa, maka
proses belajar akan mengalami hambatan, dalam arti peserta didik tidak dapat
memusatkan perhatiannya untuk belajar sehingga kemungkinan besar akan mengalami
kegagalan dalam belajarnya.
Begitu
pentingnya factor pengembangan emosional dalam menentukan keberhasilan belajar
peserta didik, (Desmita, 2008:173) mengutip pernyataan ‘DePerter, Reardon, dan
Singer-Nourie’ dalam buku mereka yang sangat terkenal “Quantum Teaching:
Orchestrating Student Success” yang menyarankan agar para pendidik memahami
emosi para siswa. Memperhatikan dan memahami emosi siswa dapat membantu
pendidik mempercepat proses pembelajaran yang lebih bermakna dan permanen.
Memperhatikan dan memahami emosi siswa berarti membangun ikatan emosional
dengan menciptakan kesenangan dalam belajar, menjalin hubungan, dan
menyingkirkan segala ancaman dari suasana belajar. Melalui kondisi belajar
dimaksud, para siswa akan lebih ikut serta dalam kegiatan sukarela yang
berhubungan dengan bahan pelajaran.
b.
Upaya Mengembangkan Emosi Remaja dan Implikasinya bagi
Pendidikan
Intervensi
pendidikan untuk mengembangkan emosi remaja agar dapat mengembangkan kecrdasan
emosional, salah satu diantaranya adalah dengan menggunakan intervensi yang di
kemukakan oleh ‘W.T. Grant Consortium’ tentang “unsure- unsure aktif program
pencegahan”, yaitu sebagai berikut:
1)
Pengembangan keterampilan emosional
Cara yang dapat
dilakukan untuk mengembangkan keterampilan emosional individu adalah:
-
Mengidentifikasi dan member nama atau label perasaan
-
Menilai intensitas perasaan
-
Mengungkapkan perasaan
-
Mengelola perasaan
-
Menunda pemuasan
-
Mengendalikan dorongan hati
-
Mengurangi stress
-
Memahami perbedaan antara perasaan dan tindakan
2)
Pengembangan keterampilan kognitif
Cara yang dapat
dilakukan untuk mengembangkan keterampilan kognitif individu adalah dengan cara
sebagai berikut:
-
Belajar melakukan dialog batin sebagai cara menghadapi
dan mengatasi masalah atau memperkuat perilaku diri sendiri
-
Belajar membaca dan menafsirkan isyarat- isyarat
social, misalnya mengenali pengaruh social terhadap perilaku dan melihat diri
sendiri dalam perspektif masyarakat yang lebih luas
-
Belajar menggunakan langkah- langkah penyelesaian
masalah dan pengambilan keputusan, misalnya mengendalikan dorongan hati,
menentukan sasaran, mengidentifikasi tindakan- tindakan alternative, dan
memperhitungkan akibat- akibat yang mungkin timbul
-
Belajar memahami sudut pandang orang lain (empati)
-
Belajar mamahami sopan santun, yaitu perilaku mana yang
dapat diterima dan mana yang tidak
-
Belajar bersikap positif terhadap kehidupan
-
Belajar mengembangkan kesadaran diri, misalnya
mengembangkan harapan – harapan yang realistis tentang diri sendiri.
3)
Pengembangan keterampilan perilaku
Cara yang dapat
dilakukan untuk mengembangkan keterampilan perilaku individu adalah dengan cara
sebagai berikut:
-
Mempelajari keterampilan komunikasi nonverbal, misalnya
berkomunikasi melaluipandangan mata, ekspresi wajah, gerak- gerik, posisi
tubuh, dan sejenisnya
-
Mempelajari keterampilan komunikasi verbal, misalnya
mengajukan permintaan dengan jelas, mendeskripsikan sesuatu kepada orang lain dengan
jelas, menanggapi kritik secara efektif, menolak pengaruh negative,
mendengarkan orang lain, dan ikut serta dalam kelompok- kelompok kegiatan
positif yang banyak menggunakan komunikasi verbal.
Cara
lain yang dapat digunakan sebagai edukatif untuk mengembangkan emosi remaja
agar dapat memiliki kecerdasan emosional adalah dengan melakukan kegiatan-
kegiatan yang di dalamnya terdapat materi- materi yang di kembangkan oleh
(Daniel Goleman,1995) yang kemudian diberi nama “Self-science Curriculum”
sebagaimana dipaparkan sebagai berikut:
a.
Belajar mengembangkan kesadaran diri
Dengan cara mengamati
sendiri dan mengenali perasaan sendiri, menghimpun kosakata untuk mengungkapkan
perasaan, serta emahami hubungan antara pikiran, perasaan, dan respons
emosional.
b.
Belajar mengambil keputusan pribadi
Dengan cara mencermati
tindakan- tindakan dan akibat- akibatnya, memahami apa yang menguasai suatu
keputusan, pikiran, atau perasaan, serta menerapkan pemahaman ini ke masalah-
masalah yang cukup berat seperti masalah seks dan obat terlarang.
c.
Belajar mengelola perasaan
Dengan cara memantau
pembicaraan sendiri untuk menangkap pesan- pesan negative yang terkandung di
dalamnya, menyadari apa yang ada di balik perasaan (misalnya, sakit hati yang
menndorong amarah), menemukan cara- cara untuk menangani rasa takut, cemas,
amarah, dan kesedihan.
d.
Belajar menangani stress
Dengan mempelajari
pentingnya berolahraga, perenungan yang terarah, dan metode relaksasi.
e.
Belajar berempati
Dengan memahami perasaan
dan masalah orang lain, berpikir dengan sudut pandang orang lain, serta
menghargai perbedaan perasaan orang lain mengenai sesuatu.
f.
Belajar berkomunikasi
Dengan berbicara
mengenai perasaan secara efektif, yaitu belajar menjadi pendengar dan penanya
yang baik, membedakan antara apa yang dilakukan atau yang dikatakan seseorang
dengan reaksi atau penilaian sendiri tentang sesuatu, serta mengirimkan pesan
dengan sopan dan bukannya mengumpat.
g.
Belajar membuka diri
Dengan menghargai
keterbukaan dan membina kepercayaan dalam suatu hubungan serta mengetahui
situasi yang aman untuk membicarakan tentang perasaan diri sendiri.
h.
Belajar mengembangkan pemahaman
Dengan mengidentifikasikan
pola- pola kehidupan emosional dan reaksi- reaksinya serta mengenali pola- pola
serupa pada orang lain.
i.
Belajar menerima diri sendiri
Dengan merasa bangga dan
memandang diri sendiri dari sisi positif, mengenali kekuatan dan kelemahan diri
anda, serta menindaklanjuti komitmen yang telah dibuat dan disepakati.
j.
Belajar mengembangkan tanggung jawab pribadi
Dengan belajar rela
memikul tanggung jawab, mengenali akibat- akibat dari keputusan dan tindakan
pribadi, serta menindaklanjuti komitmen yang telah dibuat dan disepakati.
k.
Belajar mengembangkan ketegasan
Dengan mengungkapkan
keprihatinan dan perasaan pribadi tanpa rasa malu atau berdiam diri.
l.
Mempelajari dinamika kelompok
Dengan mau bekerja sama,
memahami kapan dan bagaiman memimpin, serta memahami kapan harus mengikuti.
m.
Belajar menyalesaikan konflik
Caranya adalah memahami
bagaimana melakukan konfrontasi secara jujur dengan orang lain, orangtua, atau
guru, serta memahami contoh penyelesaian menang- menang (win-win solution)
untuk merundingkan atau menyelesaikan suatu perselisihan.
BAB 3
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Dari uraian pembahasan
diatas dapat disimpulkan sebagai berikut :
a.
Secara etimologi, emosi berasal dari kata Prancis
“emotion” yang berasal lagi dari “emouvoir”, “excite”, yang berdasarkan kata
Latin “emovere”, yang terdiri dari kata- kata “e” (variant atau ex), artinya
‘keluar’ dan “movere” artinya bergerak. Dengan demikian, secara etimologi emosi
berarti “bergerak keluar”.
emosi
adalah reaksi penilaian (positif-negatif) yang kompleks dari system syaraf
seseorang terhadap rangsangan dari luar atau dari dalam dirinya sendiri. Hal
itu menggambarkan bahwa emosi diawali dengan adanya suatu rangsangan, baik dari
luar (benda, manusia, cuaca), maupun dari dalam (tekanan darah, kadar gula,
lapar, ngantuk, segar, dll), pada indra-indra kita. Selanjutnya kita (orang
atau individu) menafsirkan persepsi kita atas rangsangan itu sebagai suatu hal
yang positif (menyenangkan, menarik) atau negative (menakutkan, ingin
menghindar) yang selanjutnya kita terjemahkan ke dalam respons- respons
fisiologis dan motoris (jantung berdebar, mulut menganga, bulu roma berdiri,
mata merah, dan sebagainya) dan pada saat itulah terjadi emosi.
b.
Teori- teori emosi terdiri dari :
-
Teori sentral
-
Teori peripheral
-
Teori kepribadian
-
Teori kedaruratan emosi
c.
Funsi emosi terdiri dari :
-
Membantu persiapan tindakan (preparing us for action).
-
Membentuk perilaku akan datang (shaping our future
behavior).
-
Membantu kita untuk mengatur interaksi social (helping
us to regulate social interaction).
d.
Pengelompokan emosi
Menurut Syamsu Yusuf
(2003) emosi individu dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian yaitu:
-
Emosi sensoris
-
Emosi psikis
e.
Faktor- Faktor yang Memengaruhi Perkembangan Emosi
-
Perubahan jasmani atau fisik
-
Perubahan dalam hubungan dengan orangtua
-
Perubahan dalam hubungan dengan teman-teman
-
Perubahan pandangan luar
-
Sikap dunia luar terhadap remaja sering tidak konsisten
-
Perubahan dalam
hubungannya dengan sekolah
-
Pengalaman traumatic
-
Tempramen
-
Jenis kelamin
-
Usia
-
Perubahan atau penyesuaian dengan lingkungan baru
f.
Tahapan Perkembangan Emosi
-
Masa praremaja
-
Masa remaja awal
-
Masa remaja tengah
-
Masa remaja akhir
g.
Implikasi perkembangan emosi peserta didik dalam proses
pembelajaran
Emosi
yang positif seperti perasaan senang, bersemangat, atau rasa ingin tau akan
memengaruhi individu untuk berkonsentrasi terhadap aktivitas belajar, seperti
memperhatikan penjelasan guru, aktif dalam berdiskusi, mengerjakan tugas, dan
sebagainya (Yusuf, 2005:181). Berdasarkan pendapat yang dikemukakan oleh Yusuf,
dapat diuraikan bahwa jika yang menyertai proses belajar itu emosi negative
seperti perasaan tidak senang dan kecewa, maka proses belajar akan mengalami
hambatan, dalam arti peserta didik tidak dapat memusatkan perhatiannya untuk
belajar sehingga kemungkinan besar akan mengalami kegagalan dalam belajarnya.
DAFTAR PUSTAKA
o Wirawan
sarwono, sarlito. 1989. Pengantar Umum Psikologi. Jakarta: PT. Bulan Bintang
o Mahmud,
dimyati. 1990. Psikologi Suatu Pengantar. Yogyakarta: BPFE
o Dayaksini,
tri dan Yuniardi,salis. 2008. Psikologi Lintas Budaya. Malang: UMM pres
o Masher, Riana. 2011. Emosi Anak Usia Dini dan
Perkembangannya. Jakarta:Kencana
o Ali,
Mohammad dan Asrori, mohammad. 2011. Psikologi Remaja: Perkembangan Peserta
Didik. Jakarta: PT. Bumi Aksara
o Susanto,
ahmad. 2011. Perkembangan Anak Usia Dini: Pengantar dalam Berbagai Aspeknya.
Jakarta: Kencana Prenada Media Group
o Shalahuddin,
Mahfudh. 1986. Pengantar Psikologi Umum. Surabaya: Sinar Wijaya